Asosiasi Pabrik Israel kemarin menyatakan hari libur pada saat pelaksanaan pemilihan umum besok akan menghabiskan biaya ekonomi Rp 4,3 triliun.Surat kabar Haaretz melaporkan, Senin (21/1), asosiasi itu sedang mencari cara supaya libur pemilihan umum tidak mengganggu bisnis terlalu parah, misalnya dengan menempatkan kotak pemungutan suara di tempat kerja."Betapa pun pentingnya sektor bisnis di samping proses demokrasi, kami harus mengetahui apakah meningkatnya jumlah pemilih berdampak pada biaya ekonomi," kata Presiden Asosiasi Zvi Oren. Hari libur nasional itu akan membebani sektor bisnis sebesar lebih dari Rp 3 triliun dan sektor manufaktur sekitar Rp 721 miliar. Asosiasi Kerajinan tangan dan Industri di Israel menyerukan penghapusan hari libur saat pemilu karena hal itu akan merugikan industri kecil senilai Rp 257 miliar. Menurut sebuah survei diadakan oleh asosiasi itu, sebanyak 84 persen pengusaha kecil dan menengah menentang hari libur saat pemilihan umum."Hari libur itu tidak perlu dan merugikan industri di Israel," kata Presiden Asosiasi Kerajinan Tangan dan Industri, Yehuda Elhadif. "Di banyak negara Barat seperti Inggris dan Belanda, pada saat pemilu tidak libur."Dia juga menyoroti besarnya kerugian di saat perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia saat ini. "Libur ini akan mengurangi produktivitas dan mengganggu ekonomi Israel terutama industri kecil," kata Elhadif. Dia meminta pemerintah membatalkan hari libur saat pemilu dan menggantinya dengan waktu istirahat saat kerja.Survei itu juga menyatakan 61 persen pengusaha kecil meyakini hari libur akan menunda distribusi barang hingga kerugian bisa mencapai 59 persen.Direktur Divisi Ekonomi Asosiasi Pabrik, Ruby Ginel, mengatakan libur satu hari pada saat pemilihan umum akan berdampak positif bagi beberapa sektor ekonomi seperti toko-toko ritel dan tempat-tempat hiburan.
Pemilihan umum Israel habiskan Rp 4,3 triliun
Sebuah survei mengatakan sebanyak 84 persen pengusaha kecil dan menengah menentang hari libur saat pemilihan umum.
Rekomendasi