Penjara Dibobol Pemberontak di Kongo, Ratusan Narapidana Perempuan Diperkosa dan Dibakar Hidup-Hidup

Pejabat PBB yang bertugas di lokasi tersebut mengungkapkan laporan mengenai pemerkosaan dan pembakaran yang terjadi.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Penjara Dibobol Pemberontak di Kongo, Ratusan Narapidana Perempuan Diperkosa dan Dibakar Hidup-Hidup
Ilustrasi penjara (pixabay) (© 2025 Liputan6.com)

Ratusan wanita mengalami kekerasan seksual dan dibakar hidup-hidup di tengah kekacauan yang terjadi setelah kelompok pemberontak yang dikenal sebagai M23 memasuki Kota Goma, Republik Demokratik Kongo (RDC) pada pekan lalu. Seorang pejabat senior PBB mengungkapkan, "Para narapidana perempuan diserang di sayap penjara Munzenze di Goma selama pelarian massal," seperti yang dilaporkan oleh The Guardian pada Kamis, 6 Februari 2025.

Vivian van de Perre, wakil kepala pasukan penjaga perdamaian PBB MONUSCO yang berada di Goma, menjelaskan bahwa meskipun ribuan pria berhasil melarikan diri dari penjara, sayap penjara yang menampung perempuan justru dibakar. Foto-foto yang diambil setelah pemberontak M23 memasuki pusat Goma menunjukkan asap hitam tebal yang membubung dari penjara pada pagi hari tanggal 27 Januari. Meskipun informasi mengenai insiden ini terbatas, tindakan keji ini diperkirakan merupakan salah satu yang paling parah dalam konflik yang baru-baru ini dipicu oleh M23 di timur Republik Demokratik Kongo.

Namun, pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat melakukan penyelidikan lebih lanjut di penjara karena adanya pembatasan yang diberlakukan oleh pemberontak M23, sehingga identitas para pelaku tetap tidak diketahui. Pada Selasa, 4 Februari, terungkap bahwa sekitar 2.000 jasad masih menunggu penguburan di Goma setelah M23 merebut kota yang merupakan ibu kota Provinsi Kivu Utara pada 27 Januari. Van de Perre, yang kini berada di Goma bersama ribuan tentara penjaga perdamaian PBB yang dikerahkan untuk melindungi warga sipil, menyatakan, "Ada pelarian besar-besaran dari penjara dengan 4.000 narapidana yang melarikan diri. Beberapa ratus wanita juga berada di penjara itu." Dia menambahkan, "Mereka semua diperkosa lalu mereka membakar sayap tempat narapidana perempuan. Mereka semua meninggal setelahnya."

Minggu ini, kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) memberikan peringatan bahwa kekerasan seksual telah dijadikan sebagai alat perang oleh berbagai kelompok bersenjata yang bersaing di Goma. Saat ini, kota yang dihuni lebih dari satu juta orang tersebut sepenuhnya dikuasai oleh pasukan M23. Namun, dalam perkembangan yang mengejutkan, M23 mengumumkan gencatan senjata sepihak pada Senin (3/2) malam. Sebelumnya, kekhawatiran meningkat mengenai niat Rwanda untuk memperluas wilayahnya dengan gerakan pasukan M23 menuju Bukavu, ibu kota Provinsi Kivu Selatan yang berjarak 190 km dari Goma.

Meskipun demikian, koalisi politik-militer yang dikenal sebagai Aliansi Fleuve Congo, yang merupakan bagian dari M23, menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk menguasai Bukavu atau wilayah lainnya. Menanggapi pengumuman gencatan senjata yang tidak terduga ini, Van de Perre menyatakan, "Saya berharap tetap seperti itu karena mereka (M23) sudah bergerak ke arah Bukavu dengan bala bantuan dan senjata berat, yang bisa terlihat melewati jalan-jalan di Goma." Ia menambahkan, "Jika mereka mundur, itu adalah kabar baik. Jika tidak, kita akan menghadapi bentrokan baru dengan potensi ribuan kematian tambahan." Van de Perre juga mengungkapkan bahwa M23 mungkin sedang mempertimbangkan kembali strategi mereka setelah kedatangan bala bantuan dari Burundi di Bukavu dan penggunaan bandara terdekat oleh Angkatan Udara Republik Demokratik Kongo.

"Burundi telah mengirimkan 2.000 pasukan tambahan ke Bukavu dan mereka adalah pejuang yang sangat baik. Saya pikir M23 saat ini sedang memikirkan kembali langkah-langkah mereka," ungkap Van de Perre. Meski terdapat bukti yang bertentangan, Rwanda membantah bahwa mereka mendukung M23 atau bahwa pasukan mereka telah melintasi perbatasan ke Kongo timur. Namun, Van de Perre mengaku bahwa rekan-rekannya telah melihat kehadiran tentara Rwanda selama patroli. Ia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memberikan tekanan lebih kepada Rwanda, dengan menyatakan, "Kita benar-benar perlu kembali ke meja perundingan. Dan itu hanya bisa terjadi jika anggota-anggota dewan keamanan dan negara-negara penting lainnya memberikan tekanan yang cukup kepada Rwanda dan Kongo."

Sebelumnya, seorang pejabat senior PBB juga berspekulasi bahwa Rwanda berkeinginan untuk mencaplok sebagian dari wilayah Republik Demokratik Kongo yang lebih luas dari negara mereka sendiri. "Ini adalah kebijakan jangka panjang untuk membawa wilayah Kivu yang lebih luas ke dalam pengaruh Rwanda dan, nantinya, di bawah kendali administratif sepenuhnya," kata pejabat tersebut. Sebelum pengumuman gencatan senjata pada Senin malam, Van de Perre menyatakan kekhawatirannya atas laporan bahwa kelompok-kelompok bersenjata sedang mempersiapkan serangan balik. "Kami sudah menerima laporan bahwa di beberapa tempat orang-orang sedang berkumpul dan mengorganisir," ujarnya. Van de Perre menambahkan bahwa dia terus berkomunikasi dengan M23 dan kondisi kemanusiaan di Goma sangat memprihatinkan. "Menyebrang kota sangat sulit," katanya. "Mereka (M23) memungkinkan kami untuk membawa makanan dan air ke pangkalan kami, tetapi selain itu kami hampir tidak bisa bergerak."

Rekomendasi