Komunitas Muslim Cham di Vietnam terkenal dengan praktik keagamaan yang berbeda dari mayoritas umat muslim di seluruh dunia. Berbeda dengan umat muslim lainnya yang menjalankan ibadah puasa Ramadan, komunitas ini tidak melaksanakan ibadah tersebut, yang mereka sebut 'Ramuwan'. Dalam pandangan mereka, Ramuwan bukanlah bulan puasa yang diwajibkan, melainkan periode pelatihan, persiapan kematian, dan penyucian diri.
Perbedaan praktik ini muncul dari sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam di kalangan masyarakat Cham. Salah satu alasan utamanya adalah isolasi politik yang dialami oleh Kerajaan Champa, tempat Islam pertama kali masuk ke Vietnam. Isolasi ini menyebabkan terputusnya kontak dengan pusat-pusat perkembangan Islam lainnya, seperti di dunia Melayu, dan menghambat proses Islamisasi serta pemahaman ajaran Islam di komunitas Cham.
“Kami menganggap Ramuwan sebagai waktu untuk mempersiapkan diri secara spiritual, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga,” ungkap seorang pemuka agama Cham. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki interpretasi unik terhadap ajaran Islam yang berbeda dengan mayoritas umat muslim.
Advertisement
Perbedaan praktik keagamaan Muslim Cham disebabkan oleh beberapa faktor penting, di antaranya adalah:
- Isolasi Politik: Kerajaan Champa mengalami isolasi yang membuat mereka terputus dari perkembangan Islam di tempat lain, sehingga tidak mengikuti tafsir dan pemahaman Islam yang berkembang di luar komunitas mereka.
- Interpretasi Tradisional: Komunitas Muslim Cham memiliki interpretasi yang berbeda terkait ajaran Islam. Mereka tidak melaksanakan salat lima waktu, melainkan hanya salat Jumat, dan salat dapat diwakilkan oleh seorang perantara yang disebut 'Acar'.
- Sintesis Budaya: Praktik keagamaan mereka merupakan hasil sintesis antara ajaran Islam dan tradisi budaya Cham. Mereka mempertahankan beberapa tradisi leluhur yang terintegrasi dengan praktik keagamaan mereka.
Advertisement
Muslim Cham memiliki beberapa praktik keagamaan yang berbeda. Ramuwan, yang mereka anggap bukan sebagai bulan puasa wajib, melainkan sebagai periode pelatihan dan penyucian diri. Selama Ramuwan, terdapat ritual persembahan makanan kepada pemuka agama di masjid. Pemuka agama melakukan meditasi selama tiga hari, kemudian berdakwah selama 15 hari.
Dalam hal salat, mereka tidak melaksanakan salat lima waktu. Hanya salat Jumat yang dianggap wajib, dan pelaksanaannya dapat diwakilkan kepada 'Acar'. Praktik ini lebih berakar pada tradisi dan adat istiadat lokal daripada pada Al-Quran dan Hadis.
“Kami menghormati ajaran Islam, tetapi cara kami menjalankannya sangat dipengaruhi oleh budaya dan tradisi kami,” kata seorang anggota komunitas muslim Cham. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana mereka tetap setia pada identitas keagamaan mereka, meskipun dengan cara yang berbeda.