Malaysia akan buka lagi kasus pembunuhan model Mongolia, diduga libatkan Najib Razak
Merdeka.com - Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad berjanji membuka kembali kasus pembunuhan model perempuan asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu.
Janji itu diutarakan Mahathir dalam pertemuannya dengan ayah korban, Shaariibuu Setev serta pengacara Ramkarpal Singh di Perdana Putra, Petaling Jaya, kemarin.
"Dia (Mahathir) setuju kasus tersebut membutuhkan penyelidikan lebih lanjut," kata Ramkarpal, seperti dikutip dari The Star Malaysia (21/6).
"Sang PM menekankan proses penyelidikan tetap harus selaras dengan hukum," tambahnya.
Ramkarpal Singh mengatakan telah memulai prosedur hukum sejak 19 Juni 2018, di mana kala itu, ia bertemu dengan Jaksa Agung Malaysia untuk membahas hal serupa.
Mengomentari lebih lanjut mengenai tatap muka antara PM Mahathir dengan Shaariibuu Setev, sang pengacara mengatakan, "Itu pertemuan yang memuaskan. Sang PM berbicara detail kepada Pak Shaariibuu."
Turut hadir dalam pertemuan itu adalah delegasi dan penerjemah dari Kedutaan Besar Mongolia di Kuala Lumpur.
Presiden Mongolia Khaltmaagiin Battulga juga telah berbicara melalui sambungan telepon kepada Tun Mahathir Mohamad, menyampaikan terima kasih karena berkomitmen untuk kembali membuka penyelidikan atas kasus pembunuhan Altantuya Shaariibuu.
Sebelumnya, Shaariibuu Setev telah mengajukan permohonan kepada Kepoliian Diraja Malaysia agar membuka kembali penyelidikan terhadap kasus pembunuhan putrinya --sebuah langkah yang turut dipromosikan oleh pemerintah Mongolia.
Setelah koalisi partai oposisi Pakatan Harapan menorehkan kemenangan bersejarah pada Pemilu Malaysia 2018 dan mengambil alih Putrajaya, Presiden Mongolia telah bersurat kepada PM Mahathir Mohamad untuk membahas dibukanya kembali penyelidikan atas kasus tersebut.
"Sebagai Presiden Mongolia, saya menaruh perhatian khusus pada kejahatan besar yang dilakukan di Malaysia pada 18 Oktober 2006, yaitu pembunuhan terhadap Shariibuu Altantuya, seorang warga negara Mongolia dan ibu dari dua anak," kata Presiden Khaltmaagiin dalam suratnya.
Dia mendesak perdana menteri yang baru saja disumpah untuk membantu membawa keadilan ke keluarga Altantuya "untuk memperkuat atmosfer dalam hubungan bilateral antara kedua negara".
Awalnya, Altantuya dinyatakan hilang pada 19 Oktober 2006. Sepupunya, melapor ke polisi dan meminta bantuan pihak Kedubes Mongolia di Bangkok.
Namun kemudian, fragmen tulang yang ditemukan di hutan dekat Bendungan Subang di Puncak Alam, Shah Alam menguak misteri keberadaan perempuan yang juga berprofesi sebagai penerjemah itu.
Penyelidikan mengungkap, Altantuya ditembak dua kali sebelum jasadnya diledakkan dengan C-4, bahan peledak yang biasa digunakan militer.
Pada Selasa 13 Januari 2015, pengadilan federal Malaysia telah menjatuhkan vonis mati pada dua oknum polisi, Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar -- yang belakangan berakhir kabur ke Australia.
Seiring kejatuhan Najib Razak dari kursi Perdana Menteri Malaysia, desakan untuk mengungkap kasus pembunuhan Altantuya Shaariibuu kembali mengemuka.
Sebab, siapa dalang di balik pembunuhan Altantuya masih misterius. Diduga kuat kasus pembunuhan tersebut sarat motif politik.
Seperti dikutip dari New Straits Times, Sabtu (19/5/2018), Sirul Azhar Umar, eks polisi Negeri Jiran yang kini berada di tahanan Australia mengaku, ia diperintahkan oleh 'orang-orang penting' untuk membunuh Altantuya Shaariibuu pada 2006.
Altantuya diketahui sebagai kekasih gelap Abdul Razak Baginda, mantan orang dekat Najib Razak.
Sementara, Abdul Razak Baginda dituduh sebagai pihak yang mengatur suap terkait pembelian kapal selam Prancis pada 2002. Altantuya diduga dihabisi karena menuntut bayaran atas pekerjaannya sebagai penerjemah dalam negosiasi tersebut.
Para penentang Najib Razak sudah lama menduga, Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar sengaja dijadikan kambing hitam untuk meloloskan bos mereka yang diduga ada di level puncak dalam pemerintahan.
Reporter: Rizki Akbar Hasan
Sumber: Liputan6.com
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya