Para pemimpin Arab mendukung rencana Mesir untuk membangun kembali Jalur Gaza yang hancur akibat perang genosida Israel yang kejam dan brutal. Hal ini bertentangan dengan rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin mengusir warga Palestina di Gaza ke Mesir dan Yordania dengan dalih membangun kembali Gaza.
Hal ini merupakan hasil KTT luar biasa para pemimpin Arab yang berlangsung di Kairo, Mesir. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menegaskan penduduk Palestina bisa menempati tanah mereka kembali setelah hancur dilanda perang, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (5/3).
Pertemuan tersebut dihadiri Emir Qatar, Wakil presiden Uni Emirat Arab, dan Menteri luar negeri Arab Saudi, serta Sekretaris Jenderal PBB Antonios Guterres.
Mesir juga memaparkan rencananya membangun kembali Gaza dalam KTT tersebut. Rencana Mesir mencakup tahap pemulihan awal yang bertujuan untuk membersihkan jebakan Israel di wilayah tersebut, serta menyediakan perumahan sementara. Setelahnya adalah tahap rekonstruksi yang fokus terhadap pembangunan kembali infrastruktur yang bernilai penting.
El-Sisi mengatakan, Mesir bekerja sama dengan Palestina untuk menciptakan komite administratif yang mandiri dan profesional dan dapat dipercaya untuk mengelola Gaza.
Ia juga mengatakan Komite tersebut akan bertanggung jawab mengawasi bantuan kemanusiaan dan mengelola Jalur Gaza untuk sementara waktu, sebagai persiapan untuk mengembalikan Otoritas Palestina (PA).
Presiden Palestina dan pemimpin PA, Mahmoud Abbas menyambut baik usulan Mesir dan menekan Trump untuk mendukung rencana yang tidak akan melibatkan pengusiran penduduk Palestina tersebut. Abbas, yang berkuasa sejak 2005, juga mengatakan bahwa ia siap untuk menyelenggarakan pemilihan presiden dan parlemen jika keadaan memungkinkan, seraya menambahkan PA merupakan satu-satunya kekuatan pemerintahan dan militer yang sah di wilayah Palestina.
Advertisement
Hamas menyatakan penolakan terhadap solusi apapun yang dipaksakan di Jalur Gaza oleh pihak luar.
“Kami mengharapkan peran efektif Arab untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan yang tercipta oleh penjajah di Jalur Gaza… dan menggagalkan rencana penjajahan Israel untuk mengusir warga Palestina di tanah tersebut,” ungkap Hamas pada Selasa (4/3).
Setiap usulan membutuhkan dukungan besar dari negara-negara Teluk Arab yang kaya akan minyak dan memiliki miliaran dolar untuk menyukseskan rencana tersebut, seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
KTT luar biasa ini digelar beberapa hari setelah berakhirnya fase pertama gencatan senjata Israel-Hamas. Israel mengingkari kesepakatan dan menolak untuk melanjutkan ke fase kedua, dan malah mendorong perpanjangan fase pertama. Israel mengumumkan mereka menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan dan pasokan lainnya ke Gaza dan mengajukan usulan gencatan senjata baru yang didukung AS.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey