Laporan: Jenderal AS Diam-Diam Telepon China karena Takut Trump Memulai Perang

Kamis, 16 September 2021 15:14 Reporter : Hari Ariyanti
Laporan: Jenderal AS Diam-Diam Telepon China karena Takut Trump Memulai Perang Jenderal Mark Milley. ©Saul Loeb/AFP

Merdeka.com - Jenderal ternama Amerika Serikat (AS) diam-diam menelepon timpalannya dari China dua kali karena khawatir Presiden Donald Trump yang masih menjabat saat itu bisa memicu perang dengan China ketika dia berpotensi kalah pemilu, menurut laporan The Washington Post.

Kepala Staf Gabungan, Jenderal Mark Milley menelepon Jenderal Li Zuocheng dari Tentara Pembebasan Rakyat pada 30 Oktober 2020, empat hari sebelum pemilihan presiden AS. Milley kembali menelepon Jenderal Li pada 8 Januari 2021, dua hari setelah pendukung Trump menyerbu Gedung Capitol. Milley mengomentari hal tersebut pada Selasa.

Dalam panggilan telepon tersebut, Milley berusaha meyakinkan Li bahwa AS stabil dan tidak akan menyerang dan jika bakal ada serangan, dia akan menginformasikan timpalannya sebelum itu terjadi.

Laporan tersebut berdasarkan buku baru karya jurnalis Bob Woodward dan Robert Costa berjudul Peril, yang mana mereka menyampaikan buku itu berdasarkan wawancara dengan 200 sumber dan buku ini akan dirilis pekan depan.

Milley juga dilaporkan berdiskusi dengan pejabat tinggi lainnya, termasuk Direktur CIA Gina Haspel dan kepala Badan Keamanan Nasional Paul Nakasone, membahas perlunya waspada di tengah kekhawatiran Trump bisa bertindak tidak rasional.

Haspel disebut mengatakan bahwa mereka berada dalam “situasi yang sangat berbahaya”.

“Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa Milley telah melampaui otoritasnya dan mengambil kekuatan luar biasa untuk dirinya sendiri,” tulis para penulis, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (16/9).

Trump, dalam sebuah pernyataan, meragukan cerita itu, menyebutnya "dibuat-buat." Dia mengatakan jika cerita itu benar Milley harus diadili karena pengkhianatan.

“Terkait catatan itu, saya bahkan tidak pernah berpikir menyerang China,” ujar Trump.

Kantor Milley menolak mengomentari laporan tersebut.

Senator Republik, Marco Rubia meminta Presiden Joe Biden memecat Milley.

“Saya tidak perlu memberi tahu Anda bahaya yang ditimbulkan oleh perwira militer senior yang membocorkan informasi rahasia tentang operasi militer AS, tetapi saya akan menggarisbawahi bahwa subversi semacam itu merusak kemampuan Presiden untuk bernegosiasi dan memanfaatkan salah satu instrumen kekuatan nasional negara ini dalam interaksinya dengan negara asing,” jelas Rubio dalam sebuah surat kepada Biden.

Ditanya tentang laporan Washington Post, Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre menolak berkomentar dan meminta bertanya kepada Kepala Staf Gabungan dan Departemen Pertahanan.

Trump menunjuk Milley mengisi jabatan militer teratas itu pada 2018 tetapi mulai mengkritiknya, serta orang-orang yang ditunjuk dan mantan staf, setelah kalah dalam pemilihan presiden dari Biden pada November 2020.

The Washington Post melaporkan, Milley termotivasi menghubungi Beijing untuk kedua kalinya salah satunya karena pembicaraan telepon pada 8 Januari dengan Ketua DPR AS Nancy Pelosi, yang menanyakan tindakan pencegahan "presiden yang tidak stabil" itu meluncurkan serangan nuklir.

"Dia gila. Anda tahu dia gila," kata Pelosi kepada Milley, seperti dilaporkan Washington Post mengutip transkrip telepon tersebut.

Menurut transkrip panggilan yang dikutip, sang jenderal menjawab, "Saya setuju dengan Anda dalam segala hal." [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini