Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir besar di Vietnam meningkat menjadi 90. 12 orang masih hilang, demikian pernyataan pihak Kementerian Lingkungan Hidup Vietnam pada Minggu (23/1), sebagaimana dilansir dari AFP.
Banjir melanda Vietnam setelah berhari-hari hujan lebat dan tanah longsor. Hujan deras telah mengguyur Vietnam bagian selatan-tengah sejak akhir Oktober dan destinasi wisata populer telah dilanda beberapa kali banjir.
Seluruh wilayah kota pesisir Nha Trang terendam banjir minggu lalu, sementara tanah longsor yang mematikan melanda jalur-jalur dataran tinggi di sekitar pusat wisata Dalat.
Advertisement
Di provinsi pegunungan Dak Lak yang terdampak parah, Mach Van Si, seorang petani berusia 61 tahun, mengatakan banjir membuat ia dan istrinya terdampar di atap seng mereka selama dua malam.
"Lingkungan kami hancur total. Tidak ada yang tersisa. Semuanya tertutup lumpur," kata Si kepada AFP pada Minggu (23/11).
Saat mereka menaiki tangga ke atap, Si mengaku tidak lagi takut.
"Saya hanya berpikir kami akan mati karena tidak ada jalan keluar," ujar Si.
Advertisement
Pemerintah mengerahkan puluhan ribu personel untuk mengirimkan pakaian, tablet pemurni air, mi instan, dan perlengkapan lainnya ke daerah-daerah terdampak, lapor media pemerintah Tuoi Tre News.
Banjir parah di Provinsi Khanh Hoa, pesisir selatan, menghanyutkan dua jembatan gantung pekan lalu, membuat banyak rumah tangga terisolasi, lapor media tersebut, mengutip para pejabat.
Beberapa lokasi di jalan raya nasional masih terblokir pada hari Minggu akibat banjir atau tanah longsor, menurut Kementerian Lingkungan Hidup, dan beberapa jalur kereta api masih dihentikan.
Lebih dari 129.000 pelanggan masih tanpa listrik, setelah lebih dari satu juta pelanggan tanpa listrik pekan lalu.
Kementerian Lingkungan Hidup pada hari Minggu memperkirakan kerugian ekonomi sebesar $343 juta di lima provinsi akibat banjir.
Bencana alam telah menyebabkan 279 orang meninggal dunia atau hilang di Vietnam dan menyebabkan kerugian lebih dari $2 miliar antara Januari dan Oktober, menurut kantor statistik nasional.
Negara Asia Tenggara ini rentan terhadap hujan lebat antara bulan Juni dan September, tetapi para ilmuwan telah mengidentifikasi pola perubahan iklim akibat manusia yang membuat cuaca ekstrem lebih sering terjadi dan merusak.