Seekor hyena tutul (Crocuta crocuta) ditemukan untuk pertama kalinya dalam 5.000 tahun di Mesir, tepatnya di bagian tenggara negara tersebut. Namun sayangnya, hewan yang hidup sebatang kara ini ditangkap dan dibunuh warga di daerah yang terletak sekitar 30 kilometer dari perbatasan Mesir dengan Sudan.
Penemuan ini dilaporkan dalam sebuah makalan di jurnal Mammalia.
"Reaksi pertama saya tidak percaya sampai saya memeriksa foto-foto dan video jasad (hewan tersebut)," jelas pemimpin studi, Dr Abdullah Nagy dari Universitas Al-Azhar Mesir, dikutip dari laman Phys, Kamis (23/1).
"Melihat buktinya, saya terperanjat. Ini melebihi apa yang kami perkirakan akan kami temukan di Mesir."
Para peneliti berteori, siklus cuaca regional selama beberapa dekade, yang merupakan bagian dari fenomena Palung Laut Merah Aktif, dapat mengakibatkan peningkatan curah hujan dan pertumbuhan tanaman, membuka koridor migrasi bagi hyena di mana peluang penggembalaan yang lebih baik mendukung ketersediaan mangsa.
Untuk menguji gagasan ini, mereka menggunakan indeks vegetasi perbedaan ternormalisasi (NDVI) sebagai ukuran curah hujan dan peluang penggembalaan ternak yang sesuai, dengan nilai NDVI diperoleh dari citra satelit Landsat 5 dan 7 antara tahun 1984 dan 2022.
Advertisement
Analisis mengungkapkan kekeringan multi-tahun dengan periode hujan yang relatif lebih pendek. Lima tahun terakhir memiliki nilai NDVI yang lebih tinggi dibandingkan dua dekade sebelumnya, hal ini menunjukkan peningkatan pertumbuhan tanaman dapat mendukung mangsa hyena tutul yang sedang bergerak.
“Fakta bahwa kawasan koridor sudah tidak terlalu ramah lingkungan, sehingga memudahkan perjalanan di sepanjang 'jalan raya', mungkin menjelaskan bagaimana hyena mencapai sejauh ini di utara,” kata Nagy.
“Namun, motivasi perjalanan ekstensifnya ke Mesir masih menjadi misteri yang memerlukan penelitian lebih lanjut.”
Hyena tutul adalah hewan predator yang biasanya ditemukan di berbagai habitat di Afrika sub-Sahara. Hewan ini dapat melakukan perjalanan hingga 27 km dalam sehari, mengikuti migrasi ternak semi-nomaden yang digembalakan manusia, dan sesekali mendapatkan makanan dari memangsa hewan.