Ilmuwan Takjub Ketika Amati Lokasi Nabi Musa Membelah Laut Merah, Ada Temuan Mengejutkan
Temuan ini dinilai dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang asal-usul kehidupan di Bumi.
Ilmuwan meyakini mereka telah menemukan sesuatu yang langka di bagian lautan tempat Nabi Musa diyakini telah "membelah Laut Merah". Temuan ini dinilai dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang asal-usul kehidupan di Bumi.
Teluk Aqaba terletak di antara empat negara—Mesir, Israel, Yordania, dan Arab Saudi—dengan panjang 157 kilometer dan lebar antara 11 hingga 22 kilometer, menurut Institut Angkatan Laut AS.
Namun, tempat ini bukan hanya sekadar jalur air, tetapi juga memiliki nilai historis dan religius karena diyakini sebagai lokasi tempat Nabi Musa "membelah Laut Merah" untuk memimpin para budak dari Mesir ke Israel.
Menurut Institut Arkeologi Alkitabiah, Gunung Sinai, tempat Musa pertama kali dipanggil oleh Tuhan, diyakini berada di sisi lain Semenanjung Sinai, tempat teluk ini berada.
Namun, temuan terbaru ini juga dapat memberikan wawasan ilmiah yang lebih dalam mengenai kemungkinan terbentuknya kehidupan di Bumi.
Para ilmuwan mengklaim bahwa penemuan "kolam kematian" pada kedalaman sekitar 1,2 kilometer di bawah permukaan laut ini bisa menjadi kunci untuk memahami asal-usul kehidupan.
Sam Purkis, seorang profesor sekaligus ketua Departemen Geosains Kelautan di Universitas Miami, mengatakan kepada Live Science,
"Pemahaman kita saat ini adalah bahwa kehidupan di Bumi berasal dari laut dalam, hampir pasti dalam kondisi anoksik—tanpa oksigen.
"Kolam air asin di laut dalam merupakan analog yang sangat baik untuk Bumi purba dan, meskipun tidak mengandung oksigen serta sangat asin, tempat ini dipenuhi oleh komunitas mikroba 'ekstremofil' yang kaya.
"Mempelajari komunitas ini memungkinkan kita untuk mengintip kondisi tempat kehidupan pertama kali muncul di planet kita, dan mungkin dapat memandu pencarian kehidupan di dunia berair lainnya di tata surya kita dan di luar sana."
"Molekul dengan sifat antibakteri dan antikanker sebelumnya telah diisolasi dari mikroba laut dalam yang hidup di kolam air asin," kata dia.
Jadi, mengapa penemuan ini dianggap sangat revolusioner?
Para ilmuwan hanya mengetahui beberapa lusin kolam air asin laut dalam di seluruh dunia, dan hanya ada tiga badan air yang diketahui memilikinya: Teluk Meksiko, Laut Mediterania, dan Laut Merah.
Menurut studi ini, kolam-kolam tersebut, yang mereka sebut sebagai "Kolam Air Asin NEOM", memperluas jangkauan geografis yang diketahui dari kolam air asin di Laut Merah, serta mewakili lingkungan unik untuk pelestarian sinyal sedimen dari peristiwa iklim dan tektonik regional.
Lokasi penemuan kolam-kolam ini juga menarik perhatian para ahli, karena temuan sebelumnya di Laut Merah ditemukan setidaknya 30 kilometer dari pantai.
Namun, kolam yang ditemukan di Teluk Aqaba ini hanya berjarak sekitar 19 kilometer dari pantai.
"Pada kedalaman yang luar biasa ini, biasanya tidak banyak kehidupan di dasar laut. Namun, kolam air asin ini menjadi oase kehidupan yang kaya. Karpet tebal mikroba mendukung beragam spesies hewan," jelas Purkis.
Tim peneliti menemukan ikan, udang, dan belut yang tampaknya menggunakan air asin tersebut untuk berburu.
"Setiap hewan yang tersesat ke dalam air asin ini akan langsung lumpuh atau mati," lanjutnya.
"Biasanya, hewan-hewan ini akan mengaduk atau mengacaukan dasar laut, mengganggu sedimen yang mengendap di sana.
"Tetapi tidak demikian halnya dengan kolam air asin. Di sini, setiap lapisan sedimen yang mengendap di dasar kolam tetap terawetkan dengan sempurna."