Juru bicara sayap militer Hamas Brigade Al-Qassam, Abu Obeida, menyatakan serangan Badai Al-Aqsa terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 menjadi awal kehancuran Israel. Hal tersebut disampaikan Obeida dalam pidatonya pada saat gencatan senjata berlangsung antara Israel dan Hamas pada Minggu (19/1).
Dalam kesempatan itu, Obeida juga merefleksikan perang selama 15 bulan melawan pasukan penjajah Israel.
“471 hari telah berlalu sejak Pertempuran Badai Al-Aqsa yang bersejarah, yang tidak diragukan lagi telah menancapkan paku terakhir ke dalam peti mati penjajahan yang kini sedang menuju kehancuran,” kata Obeida dalam pidato video yang disiarkan beberapa jam setelah gencatan senjata diberlakukan di Gaza, dikutip dari The Cradle, Selasa (21/1).
Obeida menekankan, faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza, selama setahun dan tiga bulan terakhir, “mengirimkan pesan kepada dunia bahwa pendudukan adalah sebuah kebohongan besar, meskipun terdapat konfrontasi yang tidak setara dalam hal kemampuan militer dan etika tempur.”
Dia juga menyoroti kesepakatan gencatan senjata “bisa saja dibuat setahun yang lalu jika sejalan dengan ambisi Netanyahu.”
Dia juga menyatakan Pertempuran Badai Al-Aqsa yang dimulai dari pinggiran Gaza tersebut telah mengubah wajah kawasan dan memperkenalkan persamaan baru dalam konflik dengan entitas pendudukan.
"Kami berjuang bersama semua faksi perlawanan sebagai front persatuan di seluruh Gaza, memberikan pukulan telak kepada musuh," tegas Obeida.
Dia juga menyebut besarnya pengorbanan masyarakat Gaza, yang menjadi target genosida Israel yang pertama kali disiarkan langsung di hadapan dunia.
“Kami merasakan penderitaan luar biasa yang dialami rakyat kami, yang merupakan harga dari pembebasan tanah, masyarakat, dan tempat-tempat suci,” kata Obeida.
“Pengorbanan yang sangat besar dan darah rakyat kami yang tertumpah tidak akan sia-sia."
Advertisement
Berkomitmen Pada Perjanjian Gencatan Senjata
Dia juga menegaskan, Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya, berkomitmen penuh terhadap perjanjian gencatan senjata, namun memperingatkan pelanggaran apapun dari Israel bisa membahayakan berlangsungnya gencatan senjata.
Obeida juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada kelompok perlawanan regional seperti Hizbullah di Lebanon, Iran, dan Ansarullah di Yaman, yang telah membantu rakyat Palestina melawan pasukan penjajah Israel dalam kampanye pembersihan etnis yang didukung Amerika Serikat.
"Kami menyampaikan rasa terima kasih kami kepada saudara-saudara kami di Ansarallah, kawan-kawan kami di Hizbullah, yang telah membayar mahal dalam pertempuran ini, dan kepada perlawanan Islam di Irak. Kami juga memberi hormat kepada saudara-saudara kami di Yordania yang melintasi perbatasan untuk menghadapi penjajah,” kata Abu Obeida.
“Kami berterima kasih kepada saudara-saudara kami di Republik Islam Iran atas dukungan mereka yang tiada henti dan berkelanjutan, dan kami berterima kasih kepada mereka atas keterlibatan mereka yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pertempuran bersejarah selama operasi 'Janji Sejati',” tambahnya.