Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Duka para wanita di balik glamor pekerjaan hostess & ladies escort

Duka para wanita di balik glamor pekerjaan hostess & ladies escort Hostess Girls. ©isposableworkers.com

Merdeka.com - Pekerjaan hostess dan ladies escort kini jadi cita-cita favorit ABG Jepang. Kesempatan mendapatkan uang lebih banyak dan popularitas menjadi alasan utama mereka. Dalam beberapa kasus, wanita memang mendapatkan gaji yang lebih rendah jika bekerja kantoran dibanding pria. Karir mereka pun tak bisa menyaingi rekan kerja pria mereka.

Namun tidak selamanya pekerjaan hostess dan ladies escort menghasilkan tawa dan uang. Banyak hostess menderita berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit lever akibat menenggak alkohol terus-menerus dan insomnia.

Salah seorang hostess di Jepang, Cocoa Aiuchi (21) yang juga model majalah, menyatakan pekerjaan yang didambakan banyak gadis di negeri Sakura itu tak seindah dalam lamunan. Dirinya saja sekarang sudah mulai tak bergairah dengan pekerjaan ini.

"Saya tidak ingin pergi bekerja. Saya membeli terlalu banyak gaun, tetapi tidak membantu untuk memotivasi bekerja. Mereka tidak tahu realitas yang sebenarnya sulit," katanya seperti dikutip dari situs disposableworkers.com, Senin (23/3).

Senada, Aya (22) berharap dirinya segera dapat keluar dari dunia hostess. Namun, akibat tidak memiliki ijazah SMA, pekerjaan hostess adalah pilihan yang paling rasional dilakukannya.

"Saya tidak ingin menjadi beban. Jadi saya meninggalkan rumah, satu-satunya pekerjaan remaja umur 16 tahun untuk bertahan hidup adalah hostess," terang dia.

Aya mengakui jika dirinya jarang bisa tidur dengan tenang. Setelah habis shif kerja pukul 1.00 dini hari, dirinya harus menemani tamu keluar hingga pukul 6.00 pagi.

Namun, masih kata Aya, tantangan terbesar bekerja sebagai hostess bukan fisik tetapi mental. Dirinya sering merasa khawatir dengan angka penjualan dan peringkat popularitasnya di bar.

"Tidak ada rasa aman. Saya selalu merasa cemas dan cenderung sakit dan depresi. Saya selalu memikirkan apa yang terjadi malam sebelumnya di tempat kerja atau khawatir tentang apa yang akan terjadi malam berikutnya. Saya berpikir tentang apa yang dikatakan pelanggan saya, apa yang mereka lakukan kepada saya, dan kenapa marah pada saya" ujar dia.

Lanjut dia, memang tak jarang pelanggan memaki dirinya dengan kritik keras akibat penampilannya buruk dan menerima sejumlah pelecehan seksual. Bahkan, pelanggan berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan mentereng sering kali memperlakukannya seperti mainan karena menilai rendah pekerjaannya.

"Saya tahu itu adalah bagian dari pekerjaan saya, tapi malah membuat saya semakin tertutup," tutur dia.

Selain itu, depresi ini bisa saja disebabkan berbagai tekanan yang diterima oleh mereka yang masih berusia belia. Secara hukum usia minimal yang diperbolehkan untuk bekerja di Jepang adalah 18 tahun. Namun, ada peluang gadis di bawah umur dapat bekerja di beberapa bar tanpa melalui pemeriksaan identitas diri secara detail.

"Anda tidak perlu resume, pendidikan, atau identitas untuk melamar pekerjaan hostess. Ini menyediakan pekerjaan bagi perempuan yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan," kata Perwakilan Serikat Pekerja Klub Kabaret, Eriko Fuse.

(mdk/efd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP