Dosen dan Mahasiswa Takjub, Temuan Fosil Kerang Berusia 300 Juta Tahun Lebih Tua dari Dinosaurus

Fosil unik ini memiliki ciri khas iridesens yang memukau, menyerupai kilauan mutiara.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Dosen dan Mahasiswa Takjub, Temuan Fosil Kerang Berusia 300 Juta Tahun Lebih Tua dari Dinosaurus
Dosen dan Mahasiswa Takjub, Temuan Fosil Kerang Berusia 300 Juta Tahun Lebih Tua dari Dinosaurus (Merdeka.com)

Seorang profesor geologi dan mahasiswanya dari  Rogers State University (RSU) di Amerika Serikat berhasil menemukan fosil ammonit yang diperkirakan berusia 300 juta tahun. Ammonit adalah hewan purba bercangkang mirip kerang. Penemuan ini sangat signifikan karena ammonit tersebut berasal dari periode Karboniferus, jauh sebelum munculnya dinosaurus yang mendominasi bumi jutaan tahun kemudian.

Fosil unik ini memiliki ciri khas iridesens yang memukau, menyerupai kilauan mutiara, mirip dengan ammolite, sebuah batu permata fosil yang berharga dari Kanada. Fosil ammonit yang ditemukan Dr. Chris Shelton dan mahasiswanya, Kolby Dooling ini berkilauan dengan cahaya warna-warni dari batu permata.

"Tepat sebelum liburan musim semi, saya mengajak salah satu mahasiswa saya, Kolby Dooling, ke sebuah situs yang pernah saya kunjungi bersama mahasiswa lain sebelumnya, tempat yang selalu menjadi tempat yang bagus untuk dijelajahi," jelas Shelton, dikutip dari laman Interesting Engineering, Rabu (16/4).

"Kami pernah melihat fosil-fosil ini sebelumnya, tetapi kali ini, Kolby membawakan saya sebuah benda berwarna-warni yang sangat besar. Jelas bahwa ia telah menemukan sesuatu yang luar biasa pada fosil amonit ini."

Proses penemuannya melibatkan penggalian lapisan batuan yang sangat tua dan membutuhkan ketelitian tinggi. Setelah ditemukan, fosil ammonit tersebut langsung diidentifikasi sebagai spesimen yang sangat langka dan berharga bagi dunia ilmu pengetahuan.

Yang membuat penemuan ini semakin luar biasa adalah tingkat pengawetan fosil tersebut. Ammonit ini menunjukkan pengawetan aragonit yang sangat baik, yaitu mineral karbonat yang membentuk lapisan 'mutiara' pada fosil. Hanya sedikit lokasi di dunia yang diketahui memiliki kondisi geologi yang memungkinkan pengawetan aragonit sedemikian baik pada fosil yang sedemikian tua. Hal ini menunjukkan kondisi lingkungan purba yang unik di lokasi penemuan fosil tersebut.

Batu Sangat Langka

Para ahli paleontologi berharap bahwa temuan ini akan memberikan wawasan baru tentang evolusi ammonit, kelompok moluska laut yang telah punah dan merupakan kerabat jauh dari cumi-cumi dan gurita modern. Studi lebih lanjut juga diharapkan dapat memberikan informasi berharga tentang kondisi lingkungan laut pada periode Karboniferus, yang merupakan periode penting dalam sejarah bumi.

Shelton meyakini fosil yang dia temukan merupakan ammolite asli, meskipun fosil itu ditemukan jauh dari daerah yang diketahui kaya akan ammolite seperti Alberta, Kanada. Dia menjelaskan, jenis fosil ini terbuat dari mineral aragonit, yang mempertahankan warna-warni yang memukau karena struktur mikroskopisnya.

“Ammolite sangat unik karena merupakan batu permata biologis, mirip dengan mutiara, yang terbentuk dari fosil cangkang sefalopoda purba—moluska yang berkerabat dengan cumi-cumi modern—yang memperlihatkan warna dan pola yang cerah dan berkilau karena struktur mikro aragonit asli. Batu ini sangat langka dan dicari oleh para kolektor,” jelas Shelton.

Setelah penemuan awal, Shelton dan Dooling kembali ke lokasi yang sama dan mengumpulkan sampel tambahan. Sampel tersebut meliputi fosil hiu dan invertebrata purba lainnya. Tujuannya sekarang adalah melakukan lebih banyak penelitian dan analisis untuk lebih memahami fosil yang mereka temukan.

Shelton mengatakan, pihaknya akan mengumumpulkan lebih banyak sampel dari situs tersebut. Dia dan Kolby juga akan melakukan uji analisis pada fosil tersebut serta menulis hasil temuan mereka untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah.

Rekomendasi