Dampak Kasus Khashoggi, Anggota Kerajaan Saudi Tolak Pangeran bin Salman Jadi Raja

Rabu, 21 November 2018 18:16 Reporter : Jayanti
Dampak Kasus Khashoggi, Anggota Kerajaan Saudi Tolak Pangeran bin Salman Jadi Raja khasoggi dan pangeran Muhammad bin Salman. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Di tengah kehebohan kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, beberapa anggota keluarga penguasa Kerajaan Arab Saudi sedang resah karena tidak ingin agar Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) menjadi raja. Hal ini dikatakan langsung oleh tiga sumber dekat kerajaan.

Dikutip dari Reuters, Rabu (21/11), kata sumber itu ada puluhan pangeran dan sepupu dari keturunan keluarga Al Saud ingin melihat adanya perubahan namun hal ini tidak akan ditindak lanjuti selama ayah pangeran mahkota, Raja Salman (82 tahun) masih hidup, mereka mengakui bahwa raja sendiri tidak mungkin berbalik melawan putra kesayangannya.

Sebaliknya, mereka mendiskusikan rencana perubahan itu dengan anggota keluarga yang lain, dengan mengatakan bahwa setelah kematian raja, Pangeran Ahmad bin Abdulaziz yang juga adik lelaki Raja Salman dan paman putra mahkota, dapat mengambil tahta Raja Salman.

Pangeran Ahmad adalah satu-satunya saudara lelaki Raja Salman yang masih hidup, maka bisa dipastikan dia akan mendapat dukungan dari anggota keluarga, aparat keamanan dan berbagai dukungan dari negara Barat, untuk menggantikan Raja Salman nantinya, sebut salah satu sumber Saudi itu.

Sementara itu Pangeran Ahmad kembali ke Riyadh pada bulan Oktober lalu setelah 2 setengah bulan di luar negeri. Selama perjalanan itu dia mengkritik kepemimpinan Saudi, dan dia juga pernah menanggapi aksi para pengunjuk rasa yang dilakukan di luar kediamannya di London yang meneriakkan jatuhkan dinasti Al Saud.

Dia adalah salah satu dari tiga orang di Dewan Allegiance, yang terdiri dari senior anggota keluarga kerajaan yang berkuasa, yang menentang MBS menjadi putra mahkota pada 2017, kata dua sumber Saudi saat itu.

Baik Pangeran Ahmad maupun wakilnya tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan. Pejabat di Riyadh pun tidak menanggapi permintaan dari Reuters untuk mengomentari masalah hak waris tersebut.

Untuk diketahui, Dinasti Al Saud terdiri dari ratusan pangeran. Hal ini tidak seperti sistem monarki di Eropa, jadi tidak ada pewarisan tahta secara otomatis dari ayah ke putra sulung. Sebaliknya, tradisi di Arab melakukan pewarisan tahta dengan cara raja dan anggota keluarga senior lainnya dari masing-masing keluarga memilih ahli waris yang mereka anggap paling sesuai untuk memimpin.

Sebelumnya, media Turki telah menerbitkan rincian mengerikan tentang pembunuhan Jamal Khashoggi. Menurut pemaparan dari seorang jaksa di Turki, Khashoggi dibunuh dengan cara dimutilasi pada 2 Oktober lalu, saat dirinya tengah mengurus sejumlah dokumen di konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Dalam laporan yang diterbitkan The Washington Post, Jumat 2 November, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menulis sejumlah pernyataan seputar kematian Jamal Khashoggi. Dia menyebut perintah untuk membunuh Jamal Khashoggi datang dari tingkat tertinggi pemerintah Arab Saudi.

Erdogan juga menyebut, 15 orang anggota intelijen dari Arab Saudi yang melakukan perjalanan ke Turkilah yang sudah menghabisi Jamal Khashoggi.

Tim tersebut dipimpin oleh Maher Abdulaziz Mutreb, pria yang disebut media Turki sebagai kepala operasi pembunuhan Jamal Khashoggi.

The New York Times bahkan menyebut jika Maher Abdulaziz Mutreb adalah tim keamanan di Saudi yang kerap bepergian dengan Putra Mahkota Muhammad bin Salman. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini