Gerakan Tanam Serempak Lebak: Pemkab dan Kementan Perkuat Swasembada Pangan Nasional

Pemerintah Kabupaten Lebak bersama Kementan meluncurkan gerakan tanam serempak di 38 hektare lahan, mendukung penuh program swasembada pangan berkelanjutan. Langkah ini diharapkan meningkatkan produksi beras secara signifikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gerakan Tanam Serempak Lebak: Pemkab dan Kementan Perkuat Swasembada Pangan Nasional
Pemerintah Kabupaten Lebak bersama Kementan meluncurkan gerakan tanam serempak di 38 hektare lahan, mendukung penuh program swasembada pangan berkelanjutan. Langkah ini diharapkan meningkatkan produksi beras secara signifikan. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Lebak dan Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan gerakan tanam padi serempak guna mendukung program swasembada pangan secara berkelanjutan. Inisiatif ini merupakan bagian dari kegiatan serupa yang berlangsung di 25 provinsi di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat.

Gerakan tanam serempak ini dipusatkan di dua kecamatan strategis di Kabupaten Lebak, Banten, yaitu Malimping dan Wanasalam. Total lahan yang digarap mencapai 38 hektare, menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata dukungan terhadap program pemerintah.

Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi lokal tetapi juga berkontribusi pada target swasembada pangan nasional. Kabupaten Lebak menargetkan luas tambah tanam (LTT) seluas 157 ribu hektare pada tahun ini. Gerakan serempak ini dinilai strategis untuk memastikan ketersediaan pangan dan surplus beras di masa mendatang.

Fokus Lokasi dan Target Luas Tanam

Gerakan tanam serempak di Kabupaten Lebak dipusatkan di dua lokasi utama yang memiliki potensi pertanian tinggi. Lokasi pertama berada di lahan Brigade Pangan Bunga Padi Milenial, Kecamatan Wanasalam. Sementara itu, lokasi kedua terletak di Desa Rahong, Kecamatan Malimping, yang juga merupakan areal persawahan produktif.

Di Kecamatan Wanasalam, kegiatan tanam serempak mencakup area seluas 18 hektare, tepatnya di Kampung Neglasari, Desa Cipeucang. Sedangkan di Kecamatan Malimping, kegiatan serupa digelar di areal persawahan seluas 20 hektare yang berlokasi di Desa Rahong. Secara keseluruhan, 38 hektare lahan produktif terlibat dalam gerakan tanam ini.

Rahmat Yuniar menjelaskan bahwa kegiatan tanam serempak ini merupakan wujud nyata dan komitmen pemerintah daerah. Tujuannya adalah mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP) dan realisasi luas tambah tanam (LTT) di wilayah tersebut. "Kami menargetkan LTT tahun ini seluas 157 ribu hektare," ujarnya.

Hingga Juni 2026, Kabupaten Lebak telah mencatat surplus beras sebesar 172.460 ton. Jumlah surplus ini diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan di wilayahnya hingga 13 bulan ke depan. Hal ini menunjukkan kapasitas Lebak sebagai salah satu lumbung pangan penting di Provinsi Banten.

Inovasi Pertanian Modern dengan PM-AAS

Pelaksanaan gerakan tanam serempak tahun ini mengadopsi metode Pertanian Modern Advanced Agriculture Sistem (PM-AAS). Metode ini merupakan inovasi yang digagas oleh Kementan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan secara signifikan. Penerapan teknologi modern menjadi kunci dalam mencapai target yang ambisius.

Metode PM-AAS mengandalkan pola tanam rapat presisi, yang secara fundamental berbeda dari metode konvensional. Jika metode konvensional hanya menanam 300-360 ribu rumpun per hektare, PM-AAS sangat memungkinkan peningkatan populasi tanaman hingga 800 ribu sampai 1 juta rumpun per hektare. Sistem tanam benih langsung (tabela) diatur sangat rapat, sekitar 3 sentimeter, yang mampu melipatgandakan hasil panen.

Peningkatan populasi tanaman ini berdampak langsung pada potensi hasil panen gabah kering pungut (GKP). "Jika rata-rata hasil panen gabah kering pungut (GKP) secara konvensional 5-6 ton per hektare, tetapi metode PM-AAS bisa menghasilkan gabah 10 sampai 12,4 ton per hektare," kata Rahmat Yuniar menjelaskan. Ini menunjukkan efektivitas metode PM-AAS dalam mendongkrak produktivitas pertanian.

Mumin, seorang tenaga penyuluh pertanian yang melakukan pendampingan teknis di lokasi tanam, menambahkan bahwa metode ini lebih efisien. Meskipun membutuhkan benih lebih banyak, yaitu sekitar 70 kilogram per hektare, PM-AAS lebih hemat dalam penggunaan pupuk dan air berkat sistem pertanian presisi yang diterapkan. Hal ini menjadikan metode ini berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Penguatan Ketahanan Pangan Daerah dan Nasional

Kegiatan gerakan tanam serempak di Wanasalam dan Malimping menjadi momentum penting bagi Kabupaten Lebak. Wilayah ini telah dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Provinsi Banten. Potensinya sangat besar untuk berkontribusi pada ketahanan pangan yang lebih luas.

Dengan luas sawah baku mencapai 52.033 hektare, pemerintah berupaya keras menggenjot indeks pertanaman (IP) menjadi tiga kali setahun (IP 300). Peningkatan IP ini akan memaksimalkan penggunaan lahan yang ada. Ini adalah langkah strategis untuk mencapai target produksi beras yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

Sinergi antara pemerintah, petani milenial, dan penerapan teknologi modern menjadi kunci utama keberhasilan program ini. "Kita bersinergi antara pemerintah, petani milenial, dan penerapan teknologi modern dan diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani," ujar Rahmat Yuniar. Upaya kolaboratif ini diharapkan membawa dampak positif jangka panjang bagi sektor pertanian dan kesejahteraan petani.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi