Polresta Denpasar menyatakan TY (32), istri warga negara Australia menolak jenazah suami dan kedua anaknya yang tewas di tempat tinggalnya sebuah bungalow Jalan Three Brothers, Legian Tengah, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, diautopsi.
Sebelumnya, suami TY berinisial SDJ (57) ditemukan tewas bersama kedua anaknya berinisial ADS (7) dan LKS (4). SDJ diduga membekap dan mencekik kedua anaknya hingga tewas sebelum mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.
Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Leonardo D. Simatupang mengatakan, hasil koordinasi dari Polsek Kuta dengan Konsulat Australia jenazah ketiganya diserahkan kepada pihak istri.
"Diserahkan tanggung jawab itu ke istrinya. Istrinya sudah membuat pernyataan dan meminta tidak dilakukan autopsi, mengingat semuanya sudah jelas ada di CCTV. Dia mengetahui suaminya itu mempunyai sedikit kelainan yaitu tingkat kecemasan yang tinggi dan mudah emosi," kata Leonardo saat ditemui di Mapolda Bali, Selasa (15/9).
Leonardo menjelaskan, dari analisa CCTV dan keterangan istrinya diduga SDJ membunuh kedua anaknya hal itu dilihat dari rekaman CCTV di tempat tinggalnya.
"Dari perkembangan analisa CCTV yang ada dan keterangan daripada istri korban, memang diduga bahwa suaminya ini melakukan pembunuhan terhadap kedua anaknya, lalu mengakhiri hidup dengan bunuh diri (dengan) gantung diri," ujar Leonardo.
Selain itu, dari keterangan istrinya sempat cekcok dengan suaminya di tahun 2022 dan rumah tangga mereka kurang harmonis. Kemudian di tanggal 10 September 2026, sekitar pukul 09.00 WITA istrinya pergi ke Jakarta untuk menemui orang tuanya.
"Bahwa tahun 2022 menurut keterangan dari istrinya, mereka pernah cekcok dan dari saat ini mereka kurang harmonis. Istrinya berangkat ke Jakarta untuk menjenguk orang tuanya, karena orang tuanya di Jakarta," kata dia.
Kepergian istrinya ke Jakarta bukan karena pertengkaran karena belakangan hubungan mereka baik-baik saja.
"Oh tidak. Belakangan ini mereka baik-baik saja. Tapi memang tingkat kecemasan daripada suaminya yang tinggi. Jadi kecemasan sehingga ada cenderung merasa dia itu ingin bunuh diri. Tapi, belum pernah dilakukan pengecekan ke psikiater oleh istri," ujar Leonardo.
Kemudian sampai di Jakarta istrinya melihat dari CCTV melalui aplikasi ponsel ada kejanggalan di tempat menginapnya sehingga dilaporkan ke kepala lingkungan dan pemilik bungalow.
"Dari keterangan istrinya, suaminya ini mempunyai rasa cemas yang tinggi. Dan ini tidak pernah dilakukan pengobatan. Istrinya juga menyampaikan, bulan lalu suaminya ini pernah mencoba melakukan bunuh diri dengan mengunci di kamar dan mengikatkan lehernya di tali ataupun kabel setrika. Namun gagal karena suaminya keluar kembali dari kamar," ujar dia.
Kepolisian menegaskan dari analisa CCTV dan keterangan saksi-saksi bahwa yang melakukan pembunuhan kepada kedua anaknya adalah suaminya. Selain itu, dari rekaman CCTV terlihat suaminya mengejar anak perempuannya setelah melakukan kekerasan kepada anak laki-lakinya.
"Kalau dari CCTV, yang kita lihat bahwa ada kesengajaan suaminya untuk menurunkan CCTV yang ada di ruang tamu. Jadi dari visual CCTV kelihatan anaknya yang perempuan itu dilakukan pengejaran," kata dia.
Dia menyebutkan, jika dilihat dari visual CCTV saja saat itu anak perempuannya sudah lari ketakutan dan dikejar oleh ayahnya dan sampai mengatakan 'I love You Dady'.
"Karena saat itu anaknya itu berlari-lari sampai dikejar-kejar sampai menyampaikan,"I love you, Daddy. I love you, Daddy,". Sudah takut, karena dia mungkin melihat abangnya atau anaknya yang laki-laki itu sudah di ini dulu (dilakukan kekerasan) sama bapaknya atau orang tuanya," ujar dia.
Selain itu, dari rekaman CCTV yang pertama terjadi suara keributan yaitu suara anak laki-laki yang menjerit dan lalu terlihat anak perempuan yang dikejar oleh ayahnya di dalam ruangan tamu.
"Nah setelah itu, keluar (anak) yang perempuan dikejar sama ayahnya, dan anak itu ditangkap dan dibawa ke kamar lagi. Setelah itu, dari si suaminya ke gudang untuk mencari tali yang warna biru yang kita temukan kemarin di TKP juga. Setelah itu, suaminya membalikkan CCTV ke arah bawah, seperti itu," kata dia.
Dia juga menyampaikan, dari keterangan istrinya belakangan ini mereka tidak ada cekcok dan hubungannya baik-baik saja. Tetapi emosi dari suaminya atau tingkat kecemasan yang tinggi. Misalnya seperti anaknya mempunyai tugas ataupun PR, suaminya sudah langsung cemas.
"Jadi memang dia mempunyai tingkat kecemasan yang tinggi dari suaminya. Jadi dari istri juga merasa heran kenapa dia tidak bisa untuk menghilangkan rasa cemas itu," ujar dia.
Selain itu, tidak ada rekaman medis kenapa suaminya memiliki kecemasan yang tinggi. Kemudian, di tahun 2022 mereka sempat mau bercerai karena suaminya ingin bunuh diri akhirnya mereka tidak jadi bercerai.
"Tidak ada (rekaman medis). Cuman memang memang istrinya mengakui suaminya ini mempunyai tingkat kecemasan. Karena dari tahun 2022 dia mau bercerai, tapi tidak jadi karena suaminya yang cemas. Begitu dibilang mau cerai, akhirnya dia mau ada mau bunuh diri," ujar Leonardo.
Kepolisian juga kembali menegaskan, dari analisa CCTV dan keterangan saksi-saksi yang sudah dianalisa, bahwa memang yang melakukan pembunuhan itu adalah suaminya.
"Jadi anaknya tersebut dilakukan pengejaran dari CCTV yang ada dan dibawa ke kamar. Dan dari visum luar juga yang sudah dilakukan dokter, bahwa ada kekerasan khususnya di bagian leher anak tersebut. Dan setelah itu suaminya melakukan gantung diri," kata dia.
Dia juga mengatakan bahwa mereka menikah dan tinggal di Pulau Bali sebelum terjadinya Pandemi Covid-19 dan sudah tinggal di TKP. Dan sebelumnya, memang belum pernah terjadi kekerasan kepada kedua anaknya.
"Sebelum covid, sudah di vila tersebut. Kalau anak-anak tidak ada kekerasan. Cuma tingkat kecemasan yang tinggi menghadapi sesuatu," ujar dia.
"Jadi terhadap kasus ini, bahwa ada kasus pembunuhan dan bunuh diri. Terhadap kasus pembunuhan yang dilakukan oleh SDJ kita tindak lanjuti dan hasil-hasil bukti-bukti dan akan dilakukan gelar perkara untuk dilakukan SP3," imbuh dia.
Sebelumnya, seorang pria warga negara Australia berinisial SDJ (57) yang ditemukan tewas bersama kedua anaknya berinisial ADS (7) dan LKS (4) ditemukan meninggal dunia di sebuah bungalow di kawasan Jalan Three Brothers, Legian Tengah, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu (13/9) sekitar pukul 10.14 WITA.
Kedua anaknya ditemukan tewas tergeletak di dalam bungalow. Sementara SDJ ditemukan tewas dalam kondisi tergantung. Namun, dugaannya korban SDJ diduga membekap dan mencekik kedua anaknya hingga tewas sebelum mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.
"Dugaannya seperti itu. Tapi kepastian menunggu hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit," kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy saat dikonfirmasi, Senin (14/9).
Dia menyebutkan kedua anaknya adalah laki-laki dan perempuan dan meninggal dunia diduga akibat kekerasan yang dilakukan oleh korban SDJ.
"Akibat kekerasan yang diduga dilakukan oleh korban yang gantung diri. Namun untuk kepastian kita menunggu hasil lidik dan dari pihak rumah sakit untuk memastikan kematian korban," tandasnya.