Dalam upaya untuk menghidupkan kembali solusi dua negara antara Israel dan Palestina, Uni Eropa, Liga Arab, dan 17 negara lainnya menandatangani sebuah pernyataan bersama pada Selasa dalam konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza.
Yang menonjol, deklarasi yang ditandatangani oleh negara-negara anggota Liga Arab – termasuk Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan lainnya – untuk pertama kalinya secara terbuka mengecam Hamas atas pembantaian 7 Oktober, serta menuntut pembebasan sandera Israel, perlucutan senjata Hamas, dan penarikan kelompok itu dari Gaza.
Dokumen sepanjang tujuh halaman itu berjudul “Deklarasi New York tentang Penyelesaian Damai atas Pertanyaan tentang Palestina”, dan telah diperoleh oleh sejumlah media.
Advertisement
Negara-negara seperti Brasil, Jepang, dan Kanada juga ikut menandatangani deklarasi tersebut dan menyerukan kemungkinan pengerahan pasukan militer asing untuk menstabilkan Jalur Gaza setelah perang berakhir.
“Dalam konteks mengakhiri perang di Gaza, Hamas harus mengakhiri kekuasaannya di Gaza dan menyerahkan senjatanya kepada Otoritas Palestina, dengan dukungan dan keterlibatan internasional, sejalan dengan tujuan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” bunyi deklarasi itu, seperti dilansir All Arab News, Rabu (30/7).
Deklarasi juga memuji komitmen reformasi yang dilakukan oleh Otoritas Palestina, dan menyatakan:
“Kami mendukung pengerahan misi stabilisasi internasional sementara atas undangan Otoritas Palestina dan di bawah naungan PBB, sesuai dengan prinsip-prinsip PBB, dengan mandat dari Dewan Keamanan PBB, serta dengan dukungan regional dan internasional yang sesuai.”
Dokumen ini menegaskan kembali posisi internasional yang telah lama dipegang, yaitu bahwa negara Palestina harus mencakup Tepi Barat dan Jalur Gaza, berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
Deklarasi juga menjanjikan dukungan internasional untuk rekonstruksi Gaza, menyatakan dukungan atas rencana pemulihan yang diajukan oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta mengumumkan bahwa Konferensi Rekonstruksi Gaza akan segera diadakan di Kairo.
Perjanjian bersama ini mengutuk serangan dan pembantaian Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, menyebut deklarasi itu sebagai “bersejarah dan belum pernah terjadi sebelumnya.”
“Untuk pertama kalinya, negara-negara Arab dan Timur Tengah mengecam Hamas, mengecam 7 Oktober, menyerukan perlucutan senjata Hamas, menuntut agar Hamas dikeluarkan dari pemerintahan Palestina, dan secara jelas menyatakan niat mereka untuk menormalisasi hubungan dengan Israel di masa depan,” kata Barrot.
Dalam wawancaranya dengan mingguan Prancis Le Journal du Dimanche, Barrot menyebut langkah ini sebagai bagian dari inisiatif bersama antara Prancis dan Arab Saudi.
“Untuk pertama kalinya, negara-negara Arab akan mengecam Hamas dan menyerukan perlucutan senjatanya, yang akan menyegel pengucilan total Hamas. Negara-negara Eropa pada gilirannya akan menegaskan niat mereka untuk mengakui Negara Palestina. Separuh dari negara-negara Eropa sudah melakukannya, dan sisanya sedang mempertimbangkannya,” ujarnya.
“Perdana Menteri Inggris telah menyatakan niatnya untuk melakukannya. Jerman sedang mempertimbangkannya di tahap berikutnya. Kami akan meluncurkan seruan di New York agar negara-negara lain bergabung dengan kami untuk memulai proses yang lebih ambisius dan menuntut, yang akan mencapai puncaknya pada 21 September,” tambahnya.
Pekan lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan Prancis akan secara resmi mengakui Negara Palestina pada Sidang Umum PBB tanggal 21 September, sebuah langkah yang langsung mendapat kecaman dari AS dan Israel.
Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, memboikot konferensi PBB pada hari Selasa itu.
Advertisement