Mengenal Istilah 'Lavender Marriage' yang Viral Dikaitkan dengan Pernikahan Artis

Banyak orang membahas istilah 'lavender marriage' di media sosial. Namun, apa sebenarnya arti dari istilah tersebut? Mari kita pelajari bersama!

Febi Anindya Kirana
Oleh Febi Anindya Kirana - Reporter
Mengenal Istilah 'Lavender Marriage' yang Viral Dikaitkan dengan Pernikahan Artis
Apa Itu 'Lavender Marriage' yang Viral Dikaitkan Dengan Isu Pernikahan Pasangan Artis? (Freepik.com)

Pada bulan September lalu istilah 'Lavender Marriage' atau pernikahan lavender menjadi perbincangan hangat di media sosial. Istilah ini banyak diasosiasikan dengan isu pernikahan salah satu pasangan selebriti di Indonesia.

Meskipun akhirnya tidak ada klarifikasi dari pasangan selebriti yang dikaitkan dengan isu tersebut, istilah 'Lavender Marriage' tetap terus diperbincangkan hingga saat ini. Namun, mungkin masih banyak yang belum mengetahui arti sebenarnya dari istilah ini.

Istilah "Lavender Marriage" merujuk pada pernikahan yang dilangsungkan antara dua orang, umumnya untuk tujuan menyembunyikan orientasi seksual salah satu atau kedua pasangan dari masyarakat. Pernikahan semacam ini sering kali terjadi di lingkungan yang belum sepenuhnya menerima keberagaman orientasi seksual.

Terdapat berbagai alasan yang mendorong pasangan untuk memilih 'Lavender Marriage'. Beberapa di antaranya adalah untuk menghindari stigma sosial yang negatif, melindungi karier mereka—terutama dalam dunia hiburan atau politik—serta menjaga citra publik yang telah dibangun.

Pernikahan lavender terjadi dengan persetujuan dari kedua belah pihak yang umumnya menyadari kondisi masing-masing dan sepakat untuk menjalani pernikahan ini demi mencapai tujuan tertentu. Hubungan yang terjalin antara mereka biasanya bersifat platonis dan transaksional, bukan romantis.

Istilah "Lavender Marriage" mulai dikenal luas di Hollywood pada tahun 1920-an dan 1930-an, ketika para bintang film pada masa itu sering kali terpaksa menyembunyikan orientasi seksual mereka untuk melindungi karier yang mereka jalani.

Meskipun lavender marriage tampak sebagai solusi pragmatis bagi beberapa orang, praktik ini juga menimbulkan dilema etis, budaya, dan emosional yang kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tujuan tertentu di balik pernikahan tersebut, ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan, termasuk dampak psikologis bagi individu yang terlibat.

Dengan demikian, lavender marriage bukan hanya sekadar pernikahan, tetapi juga mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam masyarakat yang masih berjuang dengan isu-isu terkait identitas dan penerimaan.

Rekomendasi