Pesona Jefri Nichol yang memikat telah menjadikannya sangat populer di Indonesia, terutama di kalangan kaum hawa.
Jefri Nichol lahir di Jakarta pada 15 Januari 1999, ia awalnya merintis karirnya sebagai model iklan sebelum akhirnya melangkah ke dunia akting.
Sejauh perjalanan kariernya, Jefri telah berperan dalam sekitar 24 produksi, termasuk film bioskop, sinetron, FTV, dan serial. Namun, puncak popularitasnya dicapai melalui perannya dalam sinetron 'Kami Rindu Ayah dan Keluarga Garuda di Dadaku'.
Debut layar lebarnya terjadi melalui film 'Pertaruhan' pada tahun 2017, di mana ia memerankan peran utama dalam 'Dear Nathan'.
Advertisement
Jefri Nichol meraih Piala Maya sebagai Aktor Pendatang Baru Terbaik pada tahun 2017. Pada tahun 2019, bersama dengan Amanda Rawles, ia juga memenangkan Medali Emas di Indonesia Box Office Movie Awards.
Advertisement
Banyak wanita Indonesia terpesona oleh pesonanya, menginginkannya sebagai pasangan atau suami yang diimpikan.
Advertisement
Prestasi akting Jefri Nichol di industri perfilman benar-benar luar biasa, terbukti dari keberhasilannya dalam mengemban peran utama di berbagai film terkenal Indonesia.
Advertisement
Tidak terduga bahwa artis ganteng ini sebenarnya memiliki pendidikan di bidang Teknologi Informasi. Dia menghadiri SMK Tunas Jakasampurna dengan fokus pada Ilmu Teknologi. Melihat kesuksesannya sebagai seorang aktor, kontras dengan latar belakang pendidikannya, sungguh mengejutkan.
Advertisement
Jefri Nichol diamankan karena menggunakan ganja ilegal di Jakarta Selatan. Kejadian ini terjadi pada tahun 2019 di Kemang. Dia ditahan atas dugaan penyalahgunaan ganja, dengan keyakinan bahwa ganja memberikan manfaat kesehatan baginya pada saat itu.
Advertisement
Sebelum terjun ke dunia akting, Jefri Nichol telah mengenyam pendidikan di bidang Teknologi Informasi serta memiliki keahlian yang kuat di dalamnya.
Advertisement
Meskipun terkenal sebagai seorang aktor, Jefri Nichol juga menghargai beberapa artis favoritnya, seperti Reza Rahadian, Mathias Muchus, Al Pacino, Marlon Brando, dan Daniel Day-Lewis.
Advertisement
Setelah sukses di beberapa peran film dan meraih penghargaan di Piala Maya, Jefri Nichol mengarahkan cita-citanya ke sutradara. Untuk meraih impian itu, ia berencana melanjutkan studi di bidang perfilman.
Advertisement
Jefri Nichol sering dipandang sebagai sosok bad boy, meskipun dia mengklaim bahwa kesan tersebut bukanlah hasil dari usaha sengaja. Baginya, citra tersebut muncul secara alami, mungkin karena gaya bicara dan bahasa tubuhnya.
"Emang kebentuk sendirinya aja sih, karena mungkin gaya aku yang slengean atau cara ngomong aku yang nyablak, lama-lama ke build up nya kayak gitu (bad boy) sih imagenya," ungkap Jefri Nichol.
Sebagai akibatnya, orang-orang menilainya sebagai sosok yang bad boy.
Advertisement
Advertisement
Jefri Nichol telah menunjukkan komitmen dan tanggung jawab yang mengagumkan sebagai tulang punggung keluarganya.
Mulai dari ibunya hingga tiga adiknya yang tinggal di rumah, serta teman-temannya, semuanya menjadi prioritas bagi Jefri Nichol.
Keputusannya untuk menjadi penyokong utama keluarganya menegaskan tekadnya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang terkasih dalam hidupnya.
"Seluruh keluarga aku, nyokap, adik aku 3 di rumah, sama 2 teman aku tinggal di rumah juga. Dari umur 17, kalau temen aku tinggal bareng aku baru 3 tahun ke belakang,"
ujar Jefri Nichol.
Advertisement