Kenaikan BI Rate 5,50 persen: Sektor Mana yang Paling Terpengaruh?
Sektor properti menjadi salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian investor setelah keputusan Bank Indonesia.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen diperkirakan akan memberikan tekanan pada sejumlah sektor yang sensitif terhadap pembiayaan. Sektor properti, otomotif, dan konsumsi nonprimer dinilai menjadi kelompok yang paling rentan terdampak apabila suku bunga tinggi bertahan dalam jangka panjang.
Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan sektor properti menjadi salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian investor setelah keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya.
"Untuk sektor properti, kenaikan BI Rate cenderung menjadi sentimen kurang positif karena berpotensi mendorong kenaikan bunga KPR dan membuat masyarakat lebih berhati-hati mengambil pembiayaan rumah," kata Elandry kepada Liputan6.com, Kamis (11/6).
Menurut dia, dampak kenaikan suku bunga biasanya tidak langsung terlihat pada kinerja emiten. Namun, dalam beberapa kuartal ke depan, penjualan presales berpotensi mengalami perlambatan, terutama pada segmen menengah yang cukup sensitif terhadap perubahan besaran cicilan.
"Namun, emiten yang memiliki proyek recurring income dan posisi kas kuat relatif lebih defensif," ujarnya.
Di sektor perbankan, Elandry menilai dampak kenaikan BI Rate cenderung bersifat campuran (mixed). Di satu sisi, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan imbal hasil kredit dan mendukung pertumbuhan pendapatan bunga. Namun, di sisi lain, biaya dana (cost of fund) juga berpotensi meningkat seiring kebutuhan bank menawarkan bunga simpanan yang lebih kompetitif.
"Dalam jangka pendek bank-bank besar masih relatif mampu menjaga profitabilitas karena memiliki CASA yang kuat, tetapi jika suku bunga tinggi bertahan lama maka pertumbuhan kredit berpotensi melambat dan risiko kualitas aset perlu diperhatikan," jelasnya.
Sektor Ketergantungan Tinggi
Lebih lanjut, Elandry menyebut sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pembiayaan umumnya akan menghadapi tekanan lebih besar ketika suku bunga meningkat. Selain properti, sektor otomotif juga dinilai berpotensi terdampak karena sebagian besar pembelian kendaraan masih mengandalkan skema kredit.
Sementara itu, sektor yang relatif lebih diuntungkan adalah perbankan tertentu yang mampu menjaga margin bunga bersih (net interest margin/NIM), serta emiten dengan posisi kas besar yang dapat memperoleh tambahan pendapatan dari instrumen berbunga.
Sektor Consumer
Selain itu, investor juga diminta mencermati sektor consumer discretionary karena potensi pelemahan daya beli masyarakat akibat meningkatnya beban pembayaran kredit dan cicilan.
"Selain itu, sektor consumer discretionary juga perlu dicermati karena daya beli masyarakat bisa sedikit tertekan," pungkasnya.