IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000, Pengamat Soroti Kepercayaan Investor
Meski sejumlah pejabat pemerintah masih menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, respons pasar menunjukkan kondisi yang berbeda.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah secara bersamaan dinilai menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan. Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset keuangan domestik.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan pasar saat ini sedang menghadapi tekanan yang cukup besar. Pada perdagangan Kamis (4/6), IHSG sempat menyentuh level 5.652 atau melemah lebih dari 5 persen, sementara rupiah terdepresiasi hingga menembus Rp18.022 per dolar Amerika Serikat (AS).
"Kombinasi pelemahan pasar saham dan mata uang secara bersamaan menjadi sinyal bahwa investor sedang melakukan repricing terhadap risiko Indonesia," kata Hendra kepada Liputan6.com, Kamis (4/6).
Menurutnya, meski sejumlah pejabat pemerintah masih menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, respons pasar menunjukkan kondisi yang berbeda.
"Dan data yang terlihat hari ini menunjukkan tekanan yang nyata terhadap aset keuangan domestik. Arus modal asing terus keluar, rupiah melemah, dan kepercayaan investor mengalami penurunan yang signifikan," ujarnya.
Hendra menilai persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, melainkan juga terkait kredibilitas kebijakan. Investor, kata dia, membutuhkan kepastian arah fiskal, kepastian regulasi, dan iklim investasi yang sehat.
"Pasar membutuhkan bukti, bukan sekadar optimisme. Ketika narasi yang disampaikan pemerintah tidak sejalan dengan persepsi yang tercermin di pasar, maka yang terkikis adalah kepercayaan," ujarnya.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu menunjukkan langkah konkret untuk menjaga disiplin fiskal dan memulihkan keyakinan investor. Program-program strategis tetap dapat dijalankan, namun perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bantuan Fokus Masyarakat Membutuhkan
Menurut Hendra, bantuan sebaiknya difokuskan kepada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan agar lebih efektif dan tidak membebani ruang fiskal.
"Pada akhirnya, investor tidak membeli janji, melainkan keyakinan. Dan keyakinan tidak dibangun melalui pidato yang berulang, melainkan melalui kebijakan yang konsisten, transparan, dan dapat diukur hasilnya," ujarnya.
Pergerakan Pasar
Ia menambahkan, pergerakan pasar saat ini menjadi indikator yang lebih dipercaya investor dibandingkan narasi yang berkembang.
"Ketika kata-kata mengatakan ekonomi kuat tetapi rupiah dan IHSG terus melemah, pasar akan memilih mempercayai angka, dan angka, pada akhirnya, selalu berbicara lebih jujur," kata Hendra.