Ini fakta ilmiah air liur dan rahasia nikmatnya berciuman

Ini fakta ilmiah air liur dan rahasia nikmatnya berciuman. air liur mengandung testosteron di dalamnya, dan itu meningkatkan gairah seks. Pria sangat menyukai ciuman yang 'ekstrem' dengan mulut terbuka. Hal ini secara tak sadar dilakukan karena testosteron ingin 'ditransfer' lewat ciuman untuk merangsang dorongan seks

Indra Cahya
Oleh Indra Cahya - Reporter
Ini fakta ilmiah air liur dan rahasia nikmatnya berciuman
Ilustrasi berciuman. © mentalfloss.com

Berciuman adalah hal yang menyenangkan, dan tentu tak ada orang yang akan menhalau nikmatnya berciuman. Hal ini pun diamini oleh para ilmuwan. Bahkan ilmuwan berpikir bahwa makin ekstrem ciuman, makin 'nikmat.'

Dilansir dari Live Science, bahkan berciuman diteliti dalam bidang ilmu bernama philematology. Ilmu ini mempelajari hubungan antara berciuman dengan hormon yang mempengaruhi kesinambungan hubungan. Para peneliti mengungkapkan bahwa hormon-hormon inilah yang mempengaruhi bahkan ke keberhasilan reproduksi manusia, dan sangat erat hubungannya dengan diwariskannya gen dan evolusi.

Di manakah letaknya hormon tersebut? Penelitian dan para ilmuwan mengatakan kuncinya: air liur. Yap, antropolog dari Rutgers University bernama Helen Fisher menyatakan bahwa air liur mengandung testosteron di dalamnya, dan testosteron meningkatkan gairah seks. Sehingga tidak mengherankan jika pria sangat menyukai ciuman yang 'ekstrem' dengan mulut lebih terbuka. Hal ini secara tak sadar dilakukan karena testosteron ingin 'ditransfer' melalui ciuman untuk merangsang dorongan seksual pada wanita.

Hal ini memperlihatkan bahwa ciuman ekstrem, yang menyebabkan banyak bertukarnya air liur, justru jadi ciuman yang nikmat untuk dilakukan dengan pasangan yang tepat. Mengapa harus pasangan yang tepat?

Hal tersebut karena ciuman bahkan dilakukan untuk menilai kesuburan dan siklus estrogen wanita, dan tentu hal ini dilakukan secara tak sadar oleh pria. Sehingga ketika bertemu pasangan yang tepat, secara tak sadar manusia akan berciuman dengan lebih ekstrem.

Jika Anda mengira hal ini adalah hal yang porno, Anda salah. Hal ini dikarenakan semua makhluk hidup melakukan hal ini. Bukan soal berciuman, namun soal 'penilaian' terhadap pasangan.

Manusia melakukan ciuman, dan penelitian menyebutkan bahwa 90 persen masyarakat di kultur dan peradaban manusia melakukan hal serupa. Hal ini juga dilakukan oleh Simpanse dan Bonobo. Hewan lain melakukan hal serupa, seperti Rubah menjilat wajah pasangannya, gajah memasukkan belalainya ke pasangannya. Ciuman adalah hal yang dipercaya oleh Charles Darwin adalah naluri alamiah.

Di penelitian lain, ditunjukkan fakta mencengangkan bahwa 66 persen wanita dan 59 persen pria akan menentukan kelanjutan hubungan hanya berdasar dari ciuman pertama.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa ciuman adalah salah satu cara untuk menilai pasangan kita, namun mekanisme kimiawi di baliknya benar-benar tak kita rasakan, tapi hal tersebut nyata. Tak mengherankan air liurlah yang berperan penting dalam nikmatnya berciuman, karena di pasangan yang tepat, tingkat saling transfer air liur ketika berciuman akan makin deras.

Untuk sejarah panjang dalam berciuman manusia secara evolusi, simak laman berikutnya.

Pada awalnya, bibir manusia itu mengalami evolusi panjang sebelum sampai pada bentuknya yang seperti sekarang ini. Hal ini diamini para ilmuwan yang percaya bahwa bibir manusia adalah hasil evolusi. Pertama-tama bibir manusia digunakan untuk memenuhi fungsi makan, lalu untuk membantu fungsi berbicara dan berkomunikasi.

Dari evolusi bentuk bibir itulah muncul kebiasaan manusia untuk berciuman. Kok bisa?

Riset tentang berciuman dimulai sudah hampir setengah abad lalu. Awalnya, seorang ahli zoologi dan penulis Inggris, Desmond Morris, seperti dilansir Smarter Lifestyles, mengemukakan bahwa perilaku berciuman adalah hasil evolusi dari primata, di mana ibu mengunyah makanan untuk anak-anak mereka, dan kemudian memberi mereka makan dari mulut ke mulut.

Menurut Morris, mengingat simpanse masih makan dengan cara ini, maka sangat mungkin manusia purba juga melakukannya. Penempelan bibir ini kemudian berkembang jadi cara induk menghibur anak-anak di saat kelaparan dan akhirnya menjadi ekspresi umum kasih sayang antar primata.

Dari sini, semuanya berkembang ke hal yang lebih kompleks. Diketahui bahwa keberadaan senyawa kimia bernama feromon, yang disebut-sebut akan dilepas tubuh ketika jatuh cinta, membantu evolusi perilaku ini jadi ciuman intim antar pasangan yang kasmaran. Umumnya, hewan dan tumbuhan memang menggunakan feromon untuk berkomunikasi. Serangga, misalnya, memancarkan feromon untuk sinyal alarm, menunjukkan jejak makanan, atau mengumumkan ketertarikan seksual.

Tak hanya itu, berciuman juga memicu pesan neuro-kimia bertubi-tubi yang memberikan sensasi sentuhan untuk gairah seksual, perasaan kedekatan, bahkan gelombang euforia. Yang lebih menarik lagi, aktivitas berciuman ternyata tidak hanya sekadar memberi efek internal tetapi juga mengirimkan pesan eksternal. Hal ini dikarenakan ciuman dinilai merupakan aktivitas yang mempertemukan dua pribadi yang masing-masing saling mengirim pesan kuat.

Rekomendasi