Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejumlah Pelajar di Inggris Dihukum karena Pasang Bendera Palestina & Pakai Keffiyeh

Sejumlah Pelajar di Inggris Dihukum karena Pasang Bendera Palestina & Pakai Keffiyeh Aksi solidaritas untuk Palestina di Kedubes AS. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Anak-anak sekolah di Inggris dihukum karena aktivisme pro-Palestina di lingkungan sekolah. Beberapa pelajar dihukum karena memakai keffiyeh dan memegang bendera Palestina.

Kepada Middle East Eye (MEE), beberapa pelajar mengungkapkan mereka diancam dengan penangkapan, pengusiran, dan dilarang mengikuti ujian jika mereka terus memprotes hak-hak Palestina di lingkungan sekolah.

Bentuk-bentuk aktivisme yang mendapat sanksi dari sekolah antara lain menghias masker dengan bendera Palestina atau melukis bendera Palestina di tangan serta memasang poster yang dirancang oleh siswa untuk mengedukasi pelajar yang lain tentang masalah Israel-Palestina.

Setiap siswa dan guru yang berbicara dengan MEE meminta untuk tidak disebutkan namanya karena mereka takut akandengan kemungkinan hukuman dari sekolah.

MEE mewawancari sejumlah pelajar yang bersekolah di Birmingham, Leeds, Manchester, Rochdale, dan berbagai kawasan di London.

Jay, seorang siswa dari Allerton Grange School di Leeds, mengatakan dia termotivasi untuk memasang poster setelah menghadiri demonstrasi dan membaca cerita tentang kematian anak di Gaza.

Mengambil inspirasi dari protes Black Lives Matter (BLM) tahun lalu dan kampanye kesadaran sekolahnya tentang hak-hak LGBT dan kesehatan mental, Jay berasumsi Allerton George akan mendorong diskusi tentang Palestina.

Namun ketika siswa memasang poster di sekitar sekolah di area komunal tanpa izin, guru dengan cepat menurunkannya.

"Para guru sampai merobek poster Palestinadan menyebarkannya ke muka kami," ujarnya, dikutip Minggu (30/5).

"Ketika kami bertanya mengapa mereka menurunkan poster, para guru mengatakan mereka tidak harus membenarkannya kepada kami dan diberi instruksi yang jelas untuk menurunkan poster ini karena mereka dianggap mengirim pesan antisemit."

Jay menekankan pesan di poster tidak ada unsur antisemit. Poster tersebut bertuliskan: "Akhiri Apartheid Israel, Akhiri Pendudukan ilegal dan Bebaskan Palestina".

Siswa dari Allerton Grange kemudian mengunggah video kepala sekolah Mike Roper menggambarkan bendera Palestina sebagai "seruan bersenjata" dan "simbol antisemitisme". Roper sejak itu meminta maaf setelah menghadapi protes di luar sekolah.

Jay mengatakan sekolah menolak untuk menurunkan bendera Israel yang dipajang di perpustakaan setelah melihat bendera Palestina diturunkan.

Allerton George belum menanggapi permintaan komentar MEE pada saat artikel ini diterbitkan.

Beberapa guru dari sekolah lain yang diwawancarai MEE juga membenarkan sejumlah siswa ditahan karena memasang poster untuk mendukung Palestina.

Seperti Jay, Sam dari London Barat memasang poster di sekolahnya untuk Palestina di papan kelas mereka dan mengenakan lencana untuk meningkatkan kesadaran tentang Palestina.

Saat Sam kembali ke sekolah pada September, sekolahnya secara aktif mengadakan kelompok diskusi bertema BLM dan rasisme.

"Kami memasang bendera dan poster Palestina kecil di papan poster kelas kami dengan lencana bertuliskan 'Bebaskan Palestina', menggambar bendera Palestina di tangan kami dan mengenakan keffiyeh untuk menyebarkan kesadaran dan menarik minat siswa," jelasnya.

"Poster-poster itu dicabut dan dibuang, para siswa disuruh melepas lencana mereka dengan ancaman skorsing dari sekolah."

Para siswa juga diancam akan ditarik dari ujian GCSE jika mereka menolak untuk menghapus video staf senior yang menurunkan poster atau mengenakan lencana Palestina.

Aisha menghadapi situasi yang sama seperti Sam di Brampton Manor Academy di Newham, London timur, di mana dia dihukum karena mengenakan lencana Bebaskan Palestina di sekolahnya.

Dia mengatakan gurunya melarang siswa untuk melakukan protes dan mengancam mereka dengan penahanan.

Brampton Manor Academy, sebuah sekolah negeri yang telah menerima pujian karena mengirimkan lusinan siswanya ke Universitas Oxford dan Cambridge, tidak menanggapi permintaan komentar pada saat artikel ini diterbitkan.

Beberapa siswa dari wilayah lain Inggris juga mengungkapkan kekecewaan mereka atas reaksi sekolah terhadap aktivisme mereka setelah protes BLM.

Surat yang diberikan kepada MEE yang dikirim ke guru dan orang tua oleh Dewan Redbridge dan sebuah sekolah di Birmingham mengatakan kepada mereka bahwa sekolah adalah badan "apolitis" dan tidak dapat mengizinkan siswa untuk berpartisipasi dalam unjuk rasa Palestina.

Ilyas Nagdee, seorang aktivis mengatakan anak-anak dan orang tua mereka telah menghubunginya tentang sekolah yang melarang aktivisme pro-Palestina.

Seruannya di Twitter untuk membantu siswa menghadapi masalah di sekolah terkait masalah ini di-retweet 1.300 kali.

Nagdee menerima hampir seratus permintaan bantuan, di mana banyak siswa takut untuk berbicara di depan umum.

"Kasus-kasus yang kami terima menjangkau seluruh negeri dengan titik-titik panas di mana terdapat komunitas Muslim yang cukup besar. Sanksi yang diterapkan sangat luas, dari orang muda yang diajak bicara di kelas atau diberi isolasi makan siang hingga pengecualian," jelasnya.

"Kami juga menerima semakin banyak orang tua yang prihatin yang menghubungi kami karena takut anak mereka dihukum atau didatangi polisi.

"Ini tampaknya terjadi pada anak-anak yang lebih kecil yang menjadi sasaran pertanyaan yang tidak pantas tanpa sepengetahuan atau persetujuan orang tua."

Menurut Shereen Fernandez, dosen di Queen Mary University di London meyakini reaksi sekolah terhadap protes Palestina adalah akibat langsung dari strategi Pencegahan yang menginformasikan kepada para guru bahwa kampanye untuk Palestina terkait dengan ekstremisme.

Pencegahan atau Prevent adalah bagian dari strategi kontra-terorisme pemerintah Inggris yang bertujuan untuk "melindungi dan mendukung mereka yang rentan terhadap radikalisasi, menghentikan mereka menjadi teroris atau mendukung terorisme".

Program ini diluncurkan secara terbuka setelah pemboman London 2005 dan pada awalnya ditargetkan langsung ke komunitas Muslim, memicu keluhan berkelanjutan tentang diskriminasi dan kekhawatiran bahwa program itu digunakan untuk mengumpulkan intelijen.

"Apa yang kita lihat sekarang adalah hasil dari upaya Prevent selama bertahun-tahun untuk mengelola percakapan dan debat politik secara mikro di antara anak-anak dan orang dewasa tentang masalah yang dianggap kontroversial dan apa yang dianggapnya menyimpang dari norma yang ditentukan," jelasnya kepada MEE.

"Meskipun Prevent akan mempertahankan bahwa sekolah adalah 'ruang aman', bukan itu masalahnya, karena guru akan cemas mendekati topik 'kontroversial' seperti Palestina karena dugaan asosiasinya dengan ekstremisme seperti yang ditunjukkan dalam materi pelatihan."

Pada2016, pemerintah Inggris menginformasikan para guru di sekolah, perguruan tinggi, dan universitas untuk memantau siswa Muslim yang menunjukkan minat pada Palestina dan dianggap rentan terhadap terorisme.

Seorang guru dari sekolah Mayfield di daerah London di Ilford mengatakan reaksi sekolah terhadap protes pro-Palestina "membingungkan", sejumlah rekannya juga menganggap "aktivisme pro-Palestina sebagai rasisme".

"Sekolah bersikeras mengikuti garis apolitis ini dan menghukum anak-anak karena memakai lencana Palestina atau menggambarnya di tangan mereka," kata guru yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Mayfield School belum menanggapi permintaan komentar MEE pada saat artikel ini diterbitkan. Departemen Pendidikan juga tidak menanggapi permintaan komentar MEE pada saat artikel ini diterbitkan.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP