Pemerintah Jerman menuai kritikan ketika terjadi pelecehan seksual terhadap setidaknya 90 perempuan dalam pesta tahun baru di Kota Cologne. Saksi mata menyebut para pelaku adalah imigran dengan perawakan asal Timur Tengah.
Aksi pelecehan ini dilakukan setidaknya oleh setidaknya 300 lelaki usia 18 hingga 35 tahun yang berkeliaran di sekitar katedral dan alun-alun, seperti disampaikan Kepala polisi Cologne, Wolfgang Albers.
Channel News Asia melaporkan, Kamis (1/7), insiden itu menjadi bahan kalangan oposisi mengkritik kebijakan Kanselir Jerman Angela Merkel menampung 1,1 juta imigran tahun lalu.
"Inilah yang kita dapatkan bila membuka imigrasi tanpa pemeriksaan lebih lanjut," seperti dikutip dari pernyataan tertulis Partai Alternatif Jerman (AfD) yang berhaluan nasionalis.
Politikus Bavaria, Andreas Scheuer, turut mengecam insiden pelecehan perempuan itu. Dia menuntut kabinet Merkel segera memikirkan strategi agar para imigran bisa hidup sesuai dengan pola pikir Jerman. "Jika imigran bertindak seperti ini terus, maka mereka tidak bisa lagi tinggal di negara kita," ujarnya.
Para korban tak sekadar dilecehkan. Sebagian dari mereka juga dirampok. Salah satu saksi mata, Steffi (31) mengaku dikelilingi belasan anak muda "berwajah Arab", yang menarik-narik rok seorang remaja perempuan. "Pelaku juga melakukan gerakan tangan cabul kepada korban," kata Steffi.
Kasus serupa ternyata tidak cuma terjadi di Cologne. Kepolisian Hamburg menerima 53 aduan dari perempuan yang mengaku dilecehkan imigran selama perayaan tahun baru.
Pemerintah Jerman menolak menyalahkan imigran atas pelecehan yang terjai di malam tahun baru. Menteri Kehakiman Heiko Maas mengatakan pelaku baru diduga warga asing. Namun ada juga saksi yang mengatakan pelaku bisa berbicara bahasa Jerman.
"Saya mendesak tidak ada pihak yang segera menjadikan kelompok imigran tertentu sebagai kambing hitam. Kami perintahkan agar polisi segera menangkap pelaku," kata Maas.