Menteri Luar Negeri (RI), Retno LP Marsudi memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dalam perang melawan pandemi virus corona (Covid-19) kepada wartawan media asing. Dalam kesempatan itu, Retno mengapresiasi makin eratnya kerjasama antarnegara dalam perang melawan pandemi ini, kendati setiap negara memiliki kebijakan berbeda dalam penanganannya.
Retno mengatakan, saat ini warga dunia tengah hidup di tengah kondisi yang belum pernah dipetakan atau diperkirakan. Tantangan yang dihadapi semua negara di dunia.
"Setiap negara punya masing-masing kebijakan dan tindakan dalam masalah ini. Tak ada satu formula yang cocok diterapkan untuk semua. Tak ada jaminan kebijakan di satu negara bisa direplikasi atau diterapkan di negara lainnya. Tapi dalam waktu bersamaan penting bagi kita belajar dari pengalaman negara lain," jelasnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (16/4).
Kebijakan setiap negara selalu berdasarkan relevansi dan karakter negaranya baik dari segi ekonomi, demografi, maupun budaya. Pemerintah Indonesia, lanjutnya, setiap hari mengevaluasi kebijakannya agar dapat diimplementasikan dan dampaknya dapat dirasakan masyarakat dalam mengatasi krisis ini.
Advertisement
Memperkuat solidaritas dan kerjasama internasional menurutnya sangat penting untuk ditingkatkan. Karena dengan cara itulah dunia akan menang melawan perang terhadap virus corona dan dampak penurunan ekonomi.
Pada 2 April, Indonesia adalah salah satu negara yang mengusulkan Resolusi Majelis Umum PBB (UNGA) terkait solidaritas penanganan Covid-19. Ini adalah resolusi UNGA pertama yang diadopsi secara virtual.
"Saya juga bahagia di tengah kondisi yang penuh tantangan ini, jaringan komunikasi antara para pemimpin, antara para Menlu dan menteri serta otoritas lainnya terus berjalan intensif hari demi hari," kata mantan Dubes RI untuk Belanda ini.
"Saya tak pernah melihat sebelumnya intensifitas komunikasi seperti ini. Dari sana saya melihat semangat kerjasama tetap tinggi."
Advertisement
Semangat ini, lanjut Retno, penting untuk dipertahankan. Dia menambahkan, langkah pemerintah Indonesia saat ini adalah bagaimana mengatasi pandemi dan mitigasi dampak ekonomi. Fokus kedua adalah melindungi warga negara Indonesia di dalam dan luar negeri dan warga negara asing di dalam negeri.
Kendati melakukan tindakan pembatasan pergerakan orang, dia memastikan tak akan mengganggu rantai pasokan barang maupun peralatan medis termasuk obat-obatan.
"Indonesia mengalami keterbatasan alat kesehatan dan dalam hal ini kerjasama dengan negara lain tak hanya penting tapi harus," ujarnya.
Dalam rangka melindungi warga negara Indonesia dan warga negara asing di negara ini, Retno mengatakan pemerintah tetap membuka pintunya untuk upaya repatriasi. Hal itu tetap sejalan dengan protokol standar kesehatan yang ditetapkan WHO.