Program magang bersubsidi yang ditujukan bagi 20 ribu lulusan perguruan tinggi dinilai bisa mendongkrak pendapatan kelas menengah, termasuk kalangan generasi Z.
Setiap peserta akan mendapatkan uang saku setara upah minimum provinsi (UMP), sekitar Rp3,3 juta per bulan selama enam bulan.
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, menyebut program ini berpotensi memberikan dampak positif jangka pendek bagi anak muda yang tengah menganggur.
"Program ini memang mampu mendongkrak pendapatan dari kelas menengah dan gen Z yang tengah menganggur," kata Nailul dikutip dari Liputan6.com, Selasa (16/9).
Advertisement
Meski demikian, Nailul mengingatkan soal keberlanjutan setelah masa magang berakhir. Ia mempertanyakan apakah peserta akan benar-benar diserap menjadi tenaga kerja tetap atau justru perusahaan mengganti dengan peserta magang baru untuk menekan biaya.
"Masalahnya adalah pada keberlanjutan pekerjaan setelah program magang selesai. Apakah ada jaminan mereka akan lanjut bekerja atau ya perusahaan mencari anak magang lain untuk dibayar lebih murah," ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti perlunya keadilan bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang saat ini memiliki tingkat pengangguran tertinggi.
"Juga harus ada rasa keadilan bagi peserta magang lulusan SMK. Saat ini pengangguran tertinggi dari Sekolah Menengah Kejuruan yang memang dipersiapkan untuk langsung bekerja," tambah Nailul.
Advertisement
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa program ini akan menyalurkan kesempatan magang bagi 20 ribu penerima manfaat di industri dengan gaji setara UMP.
"Di mana penerima manfaat di tahap pertama 20 ribu orang dan selama proses bekerja diberikan uang satu sebesar upah minimum, UMP. Dan ini untuk 6 bulan, dan anggarannya sudah disediakan sebesar Rp198 miliar," ujar Airlangga.
Dalam kesempatan yang sama, Nailul juga menyinggung besaran anggaran paket stimulus ekonomi jilid 3 yang lebih kecil dibandingkan dua paket sebelumnya.
"Jika ditotalkan, stimulus yang sudah dikeluarkan mencapai Rp57,5 triliun dengan gelontoran di paket kedua (Juni 2025) mencapai Rp24,4 triliun," jelasnya.
Menurutnya, dampak dari stimulus tahap awal terhadap konsumsi rumah tangga sangat minim. Ia bahkan meragukan keakuratan data pertumbuhan ekonomi pada triwulan II.
"Jadi, dengan anggaran jilid ketiga sebesar Rp16,23 triliun, saya tidak banyak berharap akan meningkatkan perekonomian. Namun ada beberapa poin positif dari kebijakan stimulus ekonomi jilid 3 ini," pungkasnya.