Trivia: Dulu Andalkan Hujan, Kini Petani Kalijaran Panen Berkah Berkat Energi Surya dan Inovasi

Petani Kalijaran di Cilacap kini tak lagi bergantung pada musim berkat inovasi energi surya dan program Kalijaran Mapan. Simak bagaimana mereka mengubah limbah jadi berkah!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trivia: Dulu Andalkan Hujan, Kini Petani Kalijaran Panen Berkah Berkat Energi Surya dan Inovasi
Petani Kalijaran di Cilacap kini tak lagi bergantung pada musim berkat inovasi energi surya dan program Kalijaran Mapan. Simak bagaimana mereka mengubah limbah jadi berkah! (Merdeka.com)

Pagi yang cerah di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kini diwarnai pantulan sinar matahari pada panel-panel surya di pematang sawah. Pemandangan ini menandai perubahan signifikan dari beberapa tahun lalu, ketika deru mesin diesel masih mendominasi proses irigasi pertanian warga setempat. Kini, energi bersih dari matahari menghidupi lahan pertanian seluas 15 hektare, memberikan harapan baru bagi petani.

Inovasi ini lahir dari program Kalijaran Mapan (Masyarakat Pengelolaan Pertanian Berkelanjutan), sebuah kolaborasi strategis antara PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU IV Cilacap dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Sugih. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani desa secara mandiri dan berkelanjutan. Dahulu, petani hanya bisa menjual gabah kepada tengkulak dengan harga rendah, namun kini kondisi tersebut mulai berubah drastis.

Melalui program Kalijaran Mapan, gabah yang dipanen tidak lagi dijual mentah, melainkan diolah menjadi beras, yang memberikan nilai tambah signifikan. Bahkan, dedak hasil sampingan penggilingan pun dimanfaatkan sebagai pakan ternak bebek, menunjukkan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya. Semua upaya ini menciptakan siklus ekonomi yang lebih menguntungkan bagi petani Kalijaran.

Salah satu pilar utama keberhasilan program Kalijaran Mapan adalah keberadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang terintegrasi. Teknologi solar home system (SHS) berupa pompa air tanah berenergi listrik dari tenaga surya ini berhasil mengatasi masalah klasik petani Kalijaran, yaitu kekeringan akibat irigasi yang tidak lancar. Sebelum adanya SHS yang beroperasi sejak tahun 2023, hamparan sawah tadah hujan di desa ini sering dibiarkan begitu saja saat musim kemarau.

Petani yang ingin menggarap sawah tadah hujan sebelumnya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa pompa air dan membeli bahan bakar minyak (BBM). Dengan PLTS, petani dapat menghemat hingga 50 persen dibandingkan listrik konvensional. Priyatno, Ketua Gapoktan Margo Sugih, menjelaskan, "Kalau dulu pakai diesel habis delapan liter BBM per hari, sekarang cukup energi matahari. Zero kebisingan, zero polusi."

Panel surya dengan kapasitas 6.500 kW ini mampu memompa air untuk mengairi sawah, sekaligus mengurangi emisi karbon hingga sekitar 5 kilogram per hari. Selain PLTS, energi untuk pompa air juga didukung oleh pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), menciptakan sistem energi hibrida yang lebih stabil. Pemanfaatan energi surya bahkan meluas hingga penggilingan padi milik Gapoktan Margo Sugih, sehingga tidak menimbulkan emisi gas buang.

Meskipun biaya awal pembangunan PLTS cukup besar, Priyatno meyakini manfaat jangka panjangnya sepadan. "Panel bisa bertahan sampai 25 tahun. Jadi investasi ini bukan hanya untuk generasi sekarang, juga untuk berikutnya," ujarnya, menekankan keberlanjutan investasi energi surya ini.

Program Kalijaran Mapan tidak hanya berfokus pada budidaya padi, tetapi juga mendorong diversifikasi pertanian agar petani tidak terus bergantung pada satu komoditas. Berbagai inisiatif seperti pembangunan greenhouse, pengelolaan rumah bibit, dan penggarapan kolam ikan telah dilakukan. Di dalam greenhouse, sayuran cepat panen seperti pakcoy, kangkung, dan cabai mulai ditanam, memberikan hasil yang lebih cepat dibandingkan menunggu musim panen padi.

Priyatno menambahkan, "Kita jangan terus bergantung pada padi. Dengan sayuran pendek, perputaran hasil lebih cepat. Kangkung bisa panen sampai empat kali, jauh lebih menguntungkan." Sebagai contoh, satu bedeng kangkung dapat menghasilkan ratusan ribu rupiah hanya dalam waktu 25–30 hari, memberikan pemasukan tambahan yang stabil bagi petani. Diversifikasi ini terbukti efektif dalam meningkatkan pendapatan dan ketahanan ekonomi petani Kalijaran.

Perubahan ini sangat dirasakan oleh petani kecil seperti Pangat, anggota Kelompok Tani Abdi Tani Makmur. "Dulu setahun paling sekali tanam. Sekarang bisa dua sampai tiga kali, bahkan di sela-sela bisa tanam palawija dan sayur. Jadi penghasilan kami lebih terjamin," ungkapnya. Pemanfaatan limbah pertanian juga menjadi fokus, di mana sekam padi diolah menjadi arang sekam yang laku dijual dan digunakan sebagai media tanam hortikultura, menunjukkan prinsip 'jangan sampai limbah jadi sampah'.

Selain itu, budidaya bebek petelur dengan kandang komunal kini membudidayakan sebanyak 175 ekor, memanfaatkan dedak sebagai pakan. Ini merupakan bagian dari diversifikasi usaha yang terintegrasi, di mana setiap aspek pertanian saling mendukung. Dengan keterlibatan berbagai kelompok tani dalam Gapoktan Margo Sugih, program Mapan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka harapan untuk menata masa depan pertanian yang berkelanjutan.

Area Manager Communication Relations dan CSR PT KPI RU IV Cilacap, Cecep Supriyatna, mengakui bahwa musim kemarau dahulu merupakan masa sulit bagi petani di Desa Kalijaran. "Awalnya, banyak sawah di Kalijaran tidak bisa diairi irigasi. Pada musim kemarau tanahnya menganggur. Dari situ, kami coba membantu petani dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mengalirkan air ke lahan mereka," jelas Cecep.

Seiring waktu, program ini berkembang melampaui penyediaan air. Pertamina, sebagai BUMN, bersama kelompok tani setempat, mengembangkan reservoir dan kolam ikan, membangun greenhouse, hingga memfasilitasi penggilingan padi. Penggilingan ini menghasilkan beras dan dedak tanpa menyisakan limbah sekam, menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan limbah yang efisien dan ramah lingkungan.

Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) ini tidak hanya meringankan biaya produksi petani, tetapi juga mendukung upaya Pertamina dalam transisi energi. Cecep menambahkan, "Bahkan, EBT itu betul-betul bersih, tanpa bahan bakar maupun sisa pembakaran dan tenaga Matahari bisa memberi manfaat besar bagi petani." Program Kalijaran Mapan juga membuka ruang kreatif bagi warga untuk mengembangkan ide-ide usaha lain yang dapat meningkatkan ekonomi desa.

Priyatno dan para petani berencana menambah kapasitas PLTS serta memadukannya dengan PLTB agar pasokan energi lebih stabil, terutama saat musim hujan. Pengembangan pakan bebek berbasis pelet dari dedak dan limbah pertanian juga tengah dipersiapkan untuk efisiensi produksi ternak. Gapoktan Margo Sugih bahkan telah membentuk perusahaan berbadan hukum perseroan terbatas (PT) untuk pengembangan usaha dan perluasan jejaring.

Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari kementerian, perguruan tinggi, CSR Pertamina, hingga Pertamina Foundation, terus mengalir, memperkuat langkah petani Kalijaran menuju pertanian yang produktif, ramah lingkungan, dan mandiri energi. "Walaupun kami petani, kami ingin ikut berkontribusi mengurangi emisi karbon dan mendukung energi terbarukan. Harapannya, pertanian kami makin berkelanjutan, masyarakat pun sejahtera," tutup Priyatno.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi