Ternyata, ini Penyebab Redenominasi Rupiah Tak Kunjung Terjadi

Kamis, 17 Oktober 2019 19:30 Reporter : Dwi Aditya Putra
Ternyata, ini Penyebab Redenominasi Rupiah Tak Kunjung Terjadi Jusuf Kalla Soal Redenominasi Rupiah. ©2018 Merdeka.com/Intan Umbari

Merdeka.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan alasan tidak terealisasinya rencana redenominasi Rupiah atau menghilangkan 3 angka nol di mata uang Indonesia. Menurutnya, ada hal lebih penting yang dinilai darurat ketika kebijakan itu digaungkan sehingga harus mengesampingkan rencana tersebut.

"Memang rencananya dulu mengubah Rupiah pada zaman Pak Darmin masih Gubernur BI. Tapi dianggap karena itu tidak urgent dibanding masalah waktu itu. Jadi direm dulu," ungkap Wapres JK dalam acara dialog bersama 100 ekonom, di Jakarta, Kamis (17/10).

Pada saat Darmin Nasution menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2010 - 2013, diketahui memang rencana tersebut sempat diusulkan kembali namun batal. Sehingga, rencana memangkas Rp1.000 jadi Rp1 tidak juga kunjung dilakukan.

Padahal, wacana tersebut dianggap beberapa ekonom yang hadir sebagai cara efektif untuk menaikkan nilai Rupiah terhadap Dolar. Namun, Wapres JK mengatakan bahwa nilai Rupiah terhadap Dolar masih jauh lebih baik dibandingkan negara-negara seperti Venezuela, Brasil, Turki dan lain-lain.

"Rupiah kita bukan yang terburuk di dunia. Itu ada Venezuela, Brasil, Turki, kemudian Afrika Selatan. Jadi tidak benar kalau Rupiah kita buruk," tegas Wapres JK.

Bukan Solusi Penguatan Rupiah

Sementara itu, Ekonom Senior, Emil Salim, pun berpandangan bahwa kebijakan redenominasi dari Rp1.000 menjadi Rp1 tidak akan bisa mendongkrak nilai Rupiah terhadap Dolar. "Tidak ada kebijakan yang bisa. Sebab nilai Rupiah adalah akibat dari satu langkah perbaikan produktivitas, kemampuan persaingan dan sebagainya," kata Emil.

Menurut Emil, nilai Rupiah akan naik dengan bertambahnya jumlah produksi dan jasa di Indonesia. Dengan demikian, perekonomian dan daya saing Indonesia ke berbagai negara pun akan meningkat.

"Nilai Rupiah naik, kalau uang didukung oleh produktivitas masyarakat. Jadi di balik Rp1, ditentukan jumlah produksi dan jasa yang bisa dihasilkan oleh bangsa. Jadi kemampuan manusia menghasilkan produksi dan jasa itu memberi kekuatan kepada nilai Rupiah itu," terang Emil. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini