Tahukah Anda? Pusat Keuangan Internasional Bali Berpotensi Kuatkan Posisi Indonesia di ASEAN

Rencana menjadikan Bali sebagai pusat keuangan internasional dinilai strategis perkuat posisi Indonesia di ASEAN. Pakar ungkap potensi besar tarik investasi dan ciptakan lapangan kerja baru.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Pusat Keuangan Internasional Bali Berpotensi Kuatkan Posisi Indonesia di ASEAN
Rencana menjadikan Pusat Keuangan Bali sebagai hub internasional dinilai strategis perkuat posisi Indonesia di ASEAN. Namun, kesiapan regulasi dan stabilitas politik jadi kunci keberhasilan. (AntaraNews)

Pakar Akuntansi Forensik Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Seto Satriyo Bayu Aji, pada 18 Oktober lalu menilai rencana pemerintah untuk menjadikan Bali sebagai pusat keuangan internasional merupakan langkah strategis. Kebijakan ini dipandang mampu memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi ASEAN. Seto menyampaikan pandangannya di Yogyakarta.

Menurut Seto, inisiatif ini sangat bagus dan strategis untuk Indonesia. Hal ini bertujuan agar dominasi pusat keuangan di Asia Tenggara tidak hanya terpusat di Singapura atau Kuala Lumpur. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan ekonomi regional.

Transformasi ini berpotensi besar untuk menarik lebih banyak investasi asing. Selain itu, kebijakan ini juga dapat memperluas jaringan ekonomi regional Indonesia. Namun, Seto menekankan bahwa kesiapan menyeluruh menjadi kunci utama keberhasilan transformasi tersebut.

Seto Satriyo Bayu Aji menggarisbawahi bahwa rencana menjadikan Bali sebagai pusat keuangan internasional adalah langkah yang sangat strategis. "Rencana menjadikan Bali sebagai pusat keuangan internasional adalah langkah yang sangat bagus dan strategis. Ini akan memperkuat posisi Indonesia di Asia Tenggara agar tidak hanya terpusat di Singapura atau Kuala Lumpur," ujarnya.

Kebijakan ini diharapkan menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menarik investasi lebih besar. Selain itu, langkah ini juga bertujuan memperluas jaringan ekonomi di tingkat regional. Namun, Seto mengingatkan bahwa kesiapan menyeluruh menjadi faktor krusial bagi keberhasilan proyek ini.

Kesiapan yang dimaksud mencakup penyiapan investor, regulasi yang mendukung, infrastruktur yang memadai, dan yang paling penting, stabilitas politik. Jika situasi politik dalam negeri tidak stabil, investor akan cenderung ragu untuk menanamkan modalnya. Keputusan pemerintah untuk tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam proyek ini juga sejalan dengan prinsip kehati-hatian fiskal.

Pakar Akuntansi Forensik UNISA Yogyakarta, Seto Satriyo Bayu Aji, menyebut bahwa tidak digunakannya APBN merupakan hal positif. "Tidak masalah jika tidak menggunakan APBN. Justru bagus karena mendorong pihak swasta dan lembaga keuangan untuk ikut berperan. Ini bisa mengurangi beban fiskal negara," jelas Seto.

Danantara Investment Holding memiliki peluang besar untuk berperan dalam pembiayaan proyek pusat keuangan internasional Bali ini. Lembaga tersebut memiliki kapasitas dan jaringan investasi yang luas, mirip dengan Temasek Holdings di Singapura. Seto menilai Danantara mampu mengelola investasi lintas sektor berkat pengalaman dan jaringannya.

Meski demikian, Seto mengingatkan pentingnya diversifikasi sumber pembiayaan. "Jika seluruh pembiayaan diserahkan pada Danantara saja, risikonya terlalu tinggi karena akan ada concentration risk. Maka perlu diimbangi dengan sektor swasta dan investor asing agar risikonya terbagi dan tetap terkendali," kata Seto. Pembagian risiko yang proporsional akan memastikan keberlanjutan proyek tanpa membebani keuangan negara atau lembaga investasi pemerintah.

Transformasi Bali menjadi pusat keuangan internasional diprediksi akan membawa dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat lokal dan nasional. Jika proyek ini terealisasi, Bali tidak lagi hanya bergantung pada sektor pariwisata. Akan muncul industri keuangan baru yang membuka banyak lapangan kerja.

Industri baru ini juga akan menarik tenaga profesional dari dalam maupun luar negeri. Keberadaan family office di Bali akan mendorong peningkatan arus modal masuk (capital inflow). Hal ini akan memperkuat industri jasa keuangan di dalam negeri.

Dengan bertambahnya ekspatriat dan aktivitas ekonomi baru, daya saing keuangan nasional akan meningkat. Bali berpotensi menjadi wajah baru ekonomi Indonesia di mata dunia. Ini akan memberikan citra positif bagi perekonomian nasional.

Selain itu, Seto menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) agar dapat bersaing di industri keuangan global. "Persiapan SDM menjadi kunci. Jika tenaga kerja lokal siap, dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi Bali, tetapi juga peningkatan kapasitas nasional," tutur Seto. Kesiapan SDM akan memastikan manfaat ekonomi proyek ini dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi