Subsektor Aplikasi Pimpin Investasi Ekonomi Kreatif 2025, Geser Fesyen dan Kuliner

Realisasi Investasi Ekraf 2025 menunjukkan pergeseran signifikan, dengan subsektor aplikasi kini menjadi primadona, mengungguli fesyen. Apa rahasia di baliknya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Subsektor Aplikasi Pimpin Investasi Ekonomi Kreatif 2025, Geser Fesyen dan Kuliner
Realisasi Investasi Ekraf 2025 menunjukkan pergeseran signifikan, dengan subsektor aplikasi kini menjadi primadona, mengungguli fesyen. Apa rahasia di baliknya? (AntaraNews)

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya mengumumkan adanya pergeseran tren investasi. Pergeseran ini terjadi pada sektor ekonomi kreatif nasional di semester pertama tahun 2025. Subsektor aplikasi kini menduduki posisi teratas, mengungguli subsektor tradisional seperti fesyen dan kuliner.

Pengumuman tersebut disampaikan Teuku Riefky di sela kegiatan Badan Ekraf Developer Day (BDD) 2025 yang berlangsung di Bandung. Investasi dari sektor ekonomi kreatif pada semester pertama ini telah mencapai 66 persen dari target yang ditetapkan. Subsektor aplikasi menjadi penyumbang terbesar, diikuti oleh fesyen, kuliner, dan kriya.

Perkembangan ini menunjukkan dinamika baru dalam lanskap ekonomi kreatif Indonesia. Sektor berbasis kekayaan intelektual (KI) ini semakin menarik perhatian investor. Pemerintah pun merespons dengan menyiapkan skema pembiayaan khusus untuk mendukung pertumbuhan ini.

Teuku Riefky menjelaskan bahwa pada tahun 2025, sektor ekraf dengan 17 subsektor di dalamnya ditargetkan berkontribusi signifikan. Target realisasi investasi mencapai Rp136 triliun, atau sekitar sembilan persen dari total realisasi investasi nasional. Ini menunjukkan peran strategis sektor ini dalam perekonomian.

Selain investasi, ekspor ekonomi kreatif juga memiliki target ambisius. Pada tahun yang sama, target ekspor ditetapkan mencapai 26,4 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan 9,5 persen dari total ekspor nasional, dan telah tercapai 50 persen pada semester pertama. Pencapaian ini mengindikasikan potensi besar ekraf di pasar global.

Pergeseran dominasi ke subsektor aplikasi mencerminkan adaptasi terhadap era digital. Subsektor ini, yang meliputi pengembangan perangkat lunak dan gim, menunjukkan pertumbuhan pesat. Hal ini berbeda dengan tren sebelumnya yang lebih didominasi oleh fesyen dan kuliner sebagai penyumbang utama investasi.

Merespons tingginya minat pada sektor berbasis kekayaan intelektual (KI), pemerintah telah menyiapkan skema pembiayaan khusus. Pihaknya mengalokasikan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp10 triliun. Skema ini secara spesifik ditujukan untuk industri kreatif berbasis KI.

Skema KUR ini dirancang untuk memfasilitasi pengembang aplikasi dan gim lokal. Mereka kerap kesulitan mengakses permodalan konvensional karena ketiadaan aset fisik atau kolateral. "Hanya untuk industri kreatif berbasis KI, nilainya bisa mencapai Rp500 juta per debitur. Ini solusi konkret di luar pelatihan teknis," ujar Teuku Riefky.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tenaga kerja ekonomi kreatif telah mencapai 27,4 juta orang. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sekitar satu juta pekerja dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor ini menjadi bantalan efektif penyerapan tenaga kerja di tengah disrupsi industri lain.

Dari komposisi tersebut, lebih dari 50 persen tenaga kerja pada ekonomi kreatif berusia di bawah 40 tahun, yaitu antara 18 sampai 40 tahun. Sektor ini juga berkontribusi tujuh persen terhadap PDB nasional, melampaui target 104 persen. Teuku Riefky menambahkan bahwa pertumbuhan industri kreatif, terutama karena digitalisasi, sangat besar dan di luar dugaan pemerintah, memungkinkan individu berpenghasilan sesuai passion mereka.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi