Sejak 2016, ESDM catat dua smelter berhenti beroperasi

Rabu, 27 Desember 2017 18:21 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Sejak 2016, ESDM catat dua smelter berhenti beroperasi Bambang Gatot. Fikri Faqih©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot Ariyono, mengatakan ada dua smelter yang berhenti beroperasi pada periode 2016-2017. Smelter itu milik PT Cahaya Modern Metal Industri dan PT Indoferro.

Bambang menjelaskan, PT Cahaya Modern Metal Industri berhenti beroperasi pada Januari 2016. Penyebab utama pemberhentian itu ialah adanya kenaikan harga kokas (biaya operasi) yang mencapai USD 300 per ton.

"Penyebab utamanya smelter yang menggunakan teknologi Blast Furnace adalah meningkatnya harga kokas dari rata-rata USD 100 pada 2015 menjadi USD 200-300 per ton," kata Gatot di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (27/12).

Sementara PT Indoferro berhenti beroperasi pada Juli 2017. Alasan dari pemberhentian smelter itu sama seperti PT Cahaya Modern Metal Industri karena kenaikan biaya operasi.

"Ini yang berhenti beroperasi (Indoferro) sejak 19 Juli 2017 karena kenaikan harga kokas yang sampai USD 300 per ton," ucapnya.

Menurutnya, untuk PT Indoferro sejak awal memang tidak didesain untuk memurnikan bijih nikel melainkan bijih besi. "Sehingga tingkat keekonomiannya akan beda dengan desain awal di mana Indoferro didesain untuk memurnikan bijih besi," tandas Gatot. [bim]

Topik berita Terkait:
  1. Smelter
  2. ESDM
  3. Ekonomi Indonesia
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini