Klasterku Hidupku BRI Dukung Petani Alpukat Kembangkan Usaha di Tanggamus

Bersama Klasterku Hidupku, petani alpukat di Tanggamus mendapat peluang memperluas jaringan usaha dan akses pasar.

Gilar Ramdhani
Oleh Gilar Ramdhani- Reporter
Klasterku Hidupku BRI Dukung Petani Alpukat Kembangkan Usaha di Tanggamus
(Sumber: Klasterku Hidupku BRI)

Alpukat dari Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, tak hanya menjadi hasil kebun warga. Komoditas ini juga membuka peluang usaha bagi petani setempat, terutama ketika hasil panen bisa dipasarkan ke lebih banyak pembeli.

Buah alpukat yang dihasilkan petani Sumberejo dikenal memiliki daging lembut dan cita rasa kaya. Meski diminati konsumen, petani masih menghadapi tantangan ketika panen raya tiba. Hasil kebun yang melimpah dalam waktu bersamaan perlu diimbangi dengan pasar yang mampu menyerap pasokan.

Prayitno, salah satu penggerak kelompok tani alpukat di wilayah tersebut, memahami persoalan itu dari pengalamannya sendiri. Ia pernah merasakan bagaimana hasil kebun yang dirawat selama berbulan-bulan tetap membutuhkan pemasaran yang tepat agar bisa memberikan hasil sesuai harapan.

“Saya berangkat dari petani, jadi paham betul tantangannya. Petani sudah menanam, merawat, lalu ketika panen yang dipikirkan berikutnya ya bagaimana hasil ini bisa terjual dengan baik. Karena itu kami coba berkembang bersama, merangkul petani di sekitar supaya hasil panennya bisa sama-sama kita pasarkan,” cerita Prayitno.

Dari sana, Prayitno mulai mencari jalan agar hasil kebun petani di lingkungannya dapat dipasarkan lebih luas. Ia pun menghimpun alpukat dari sejumlah petani untuk kemudian dibawa ke pasar induk. Langkah yang semula berangkat dari kebutuhan pemasaran perlahan berkembang menjadi jaringan usaha bersama petani di sekitarnya.

Berawal dari Kebutuhan Petani Memasarkan Alpukat

Klasterku Hidupku BRI
(Sumber: Klasterku Hidupku BRI)

Seiring hubungan itu berjalan, Prayitno semakin memahami kebutuhan petani tidak selalu berhenti pada saat panen. Ada kalanya mereka juga membutuhkan dukungan untuk menjaga kegiatan budi daya tetap berjalan hingga musim berikutnya. Dalam kondisi tertentu, Prayitno turut membantu kebutuhan modal petani yang menjadi mitranya.

“Kalau ada petani yang butuh modal, kadang kami bantu. Karena kalau petaninya bisa terus jalan, hasilnya juga bisa terus kami pasarkan bersama. Jadi memang kami tumbuhnya dari lingkungan sendiri,” lanjutnya.

Pola tersebut membuat usaha alpukat di Sumberejo berkembang dengan saling menopang. Petani tetap fokus merawat kebun dan menjaga kualitas buah, sementara jaringan pemasaran terus dibangun agar hasil panen memiliki lebih banyak jalan menuju pembeli.

Oleh karena itu, Prayitno terus mencari peluang untuk memperbesar jaringan pemasaran. Hal ini karena luasnya pasar menentukan seberapa jauh hasil kerja di kebun dapat memberikan nilai. Semakin banyak pembeli yang dapat dijangkau, semakin besar pula peluang hasil panen terserap, modal kembali berputar, dan usaha dapat dilanjutkan pada musim berikutnya.

Memperluas Pasar, Menjaga Usaha Tetap Berjalan

Kisah Petani Alpukat Sumberejo Tingkatkan Taraf Hidup Lewat Klasterku Hidupku BRI
Petani alpukat di Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, mengembangkan usaha bersama melalui perluasan jaringan pemasaran yang didukung program Klasterku Hidupku BRI. (Sumber: Klasterku Hidupku BRI)

Bersama kelompok tani di wilayahnya, ia kemudian terhubung dengan program Klasterku Hidupku dari BRI. Hubungan tersebut bermula ketika BRI melakukan survei kepada kelompok tani dan membuka peluang kerja sama.

Melalui Klasterku Hidupku, ruang untuk memperluas jaringan usaha semakin terbuka. Dukungan tersebut menjadi penting karena bertambahnya akses pasar akan ikut memperbesar kemampuan kelompok dalam membawa hasil kebun petani Sumberejo kepada lebih banyak pembeli.

Perkembangan itu mulai tercermin dari sisi usaha. Prayitno menyebut omzet dan penjualannya menunjukkan tren peningkatan. Ketika ditanya mengenai besarannya, ia memperkirakan pertumbuhan tersebut mencapai sekitar 30%.

Bagi Prayitno, kenaikan tersebut ikut membuka ruang untuk membawa lebih banyak hasil panen petani ke pasar. Ketika jaringan penjualan bertambah, kemampuan untuk menampung hasil kebun warga juga ikut berkembang. Dari satu petani ke petani lain, pertumbuhan usaha perlahan menjadi peluang bersama.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa melalui program Klasterku Hidupku, BRI terus mendorong kelompok usaha berbasis potensi lokal agar semakin kuat dari sisi kapasitas usaha, jaringan, dan akses pasar.

“Potensi ekonomi daerah akan semakin kuat ketika pelaku usaha di dalamnya dapat tumbuh bersama. Dengan demikian, pengembangan klaster tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga bagaimana membuka akses pasar, memperkuat jaringan usaha, dan menciptakan lebih banyak peluang agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan masyarakat di sekitarnya,” ujar Dhanny.

Hingga September 2026, BRI telah mengembangkan lebih dari 45 ribu klaster usaha di berbagai daerah melalui program Klasterku Hidupku. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem usaha produktif berbasis komunitas, sekaligus mendorong potensi ekonomi lokal agar memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.

 

(*)

Rekomendasi