Kuasai Sepertiga Dunia, Sawit RI Bentengi Rantai Pasok Global

Di forum SVOC Shanghai, CPOPC dan Menko Airlangga tegaskan pentingnya lonjakan produktivitas sawit dan kerja sama China bentengi rantai pasok global.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
Kuasai Sepertiga Dunia, Sawit RI Bentengi Rantai Pasok Global
<p>Tandan buah segar di pabrik pengolahan kelapa sawit (Foto: PT Austindo Nusantara Jaya Tbk/ANJT)</p>

Minyak sawit terus mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung kebutuhan pangan dan energi dunia. Dari total proyeksi produksi minyak nabati global sebesar 234 juta ton pada 2026, minyak sawit menyumbang sekitar 85 juta ton atau menguasai lebih dari sepertiga pangsa pasar dunia.

Peran strategis tersebut menjadi sorotan utama dalam Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) ke-4 di Shanghai, China. SVOC ke-4 dihadiri lebih dari 200 peserta dari 11 negara, yang terdiri atas pejabat pemerintah, perwakilan industri, organisasi internasional, hingga pakar teknis dari sektor minyak sawit, kedelai, rapeseed, bunga matahari, dan minyak nabati lainnya.

Konferensi ini terselenggara atas dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Plantations et Huileries du Congo (PHC), dan Oil Palm Industry Corporation (OPIC).

Dalam forum tersebut, China disorot sebagai mitra kunci dengan perkiraan konsumsi minyak nabati mencapai 35,8 juta ton pada 2025, di mana 5,07 juta ton di antaranya disuplai oleh minyak sawit.

Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh menegaskan bahwa dinamika harga dan regulasi global menuntut fleksibilitas serta transparansi rantai pasok yang makin solid.

"Perubahan harga relatif dapat menggeser keputusan pembelian antarjenis minyak nabati, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investasi. Karena itu, ketahanan rantai pasok memerlukan informasi pasar yang andal, hubungan dagang yang terdiversifikasi, logistik yang efisien, dan kerangka kebijakan yang dapat diprediksi. Ketahanan rantai pasok juga memerlukan keterlibatan yang lebih erat antara produsen dan pembeli,sehingga komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat lebih selaras,” ujar Izzana Salleh dalam keterangan di Jakarta, Kamis (29/10).

Genjot Produktivitas Petani dan Inovasi Hijau

Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) ke-4 di Shanghai.
Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) ke-4 di Shanghai. (Istimewa)

Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya peningkatan hasil panen tanpa harus memperluas pembukaan lahan.Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto menegaskan bahwa fokus utama Indonesia saat ini adalah mendongkrak produktivitas petani kecil.

Langkah senada disampaikan Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia YB Datuk Seri Dr. Noraini Ahmad yang menyerukan standar keberlanjutan yang adil, bukan justru membendung akses produsen ke pasar global. Sementara itu,Wakil Menteri Budidaya Kopi Honduras José Francisco Ordonez menyoroti sistem ketertelusuran (traceability) yang transparan.

Di sisi lain, Indonesia juga memaparkan kesiapan transisi energi bersih melalui kebijakan biofuel B50 yang diselaraskan dengan tren pembangunan rendah karbon.

Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun turut membuka sesi tematik yang mendiskusikan otomatisasi agronomi, benih unggul, hingga kepatuhan standar keberlanjutan. Diskusi ini menghadirkan jajaran pakar, antara lain Mohd Hasbollah Suparyono (MSPO), Dr. Chen Zi Yan (KLK), Ms. Caroline Xu (AAK China), Ms. Chen Ying (China Customs Brokers Association), dan Harry Hanawi (Sinar Mas Agribusiness and Food) dengan moderator Lifeng Fang (RSPO) serta penanggap Yu Xin (WWF China).

Sesi berlanjut membedah kerangka regulasi perdagangan hijau bersama Wang Xin (FECO Tiongkok), Yang Junyi (WRI China), Sekjen Dewan Energi Nasional RI Dr. Dadan Kusdiana, Wakil Dirjen MPOB Dr. Mohd Hefni Rusli, CEO PHC Kongo Monique Gieskes, Sekjen OPIC Papua Nugini Kepson Pupita, serta perwakilan Proforest Langlang Tata Buana dan Li Sifan dari CFNA.

CPOPC berkomitmen menjadikan SVOC sebagai pijakan berkelanjutan untuk mengonversi dialog internasional menjadi aksi nyata demi rantai pasok minyak nabati yang adil, tangguh, dan berbasis riset ilmiah.

Rekomendasi