Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak Imbas Ancaman Serangan AS ke Iran

Harga minyak dunia menembus USD 115 di tengah laporan rencana serangan AS ke Iran dan ketidakpastian politik Israel. Ini faktor pendorongnya.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon- Reporter
Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak Imbas Ancaman Serangan AS ke Iran
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Harga minyak dunia melonjak setelah muncul laporan Amerika Serikat (AS) tengah menyiapkan serangan militer baru terhadap Iran seusai pemilu paruh waktu November. Kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah kembali mendorong kenaikan komoditas energi ini.

Kontrak Brent sebagai acuan internasional naik 1,3 persen dan ditutup di USD 115,32 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) asal AS menguat 2,9 persen ke USD 102,78 per barel, menurut CNBC, Kamis (29/10/2026).

The Wall Street Journal melaporkan pemerintah AS telah meminta sejumlah negara Arab di Teluk bersiap menghadapi operasi militer singkat tetapi intensif setelah pemilu paruh waktu, mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan Washington dengan negara-negara tersebut. Laporan itu memicu kekhawatiran investor atas potensi meluasnya konflik yang dapat mengganggu produksi dan distribusi minyak dari kawasan.

Trump Isyaratkan Opsi Militer, Iran Dilarang Punya Nuklir

Presiden AS Donald Trump menegaskan konflik dengan Iran harus berakhir sesuai persyaratan Washington, sekaligus menekankan Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Berbicara dalam kampanye di Texas, Trump menyebut konflik dapat diselesaikan dengan cepat. Namun, setiap kesepakatan harus memastikan Iran tidak akan pernah menguasai senjata nuklir.

Pernyataan itu menyusul komentarnya sebelumnya yang mempertimbangkan dua pilihan: mencapai kesepakatan dengan Iran atau melanjutkan operasi militer.

Ketidakpastian arah kebijakan Washington membuat pelaku pasar terus mencermati kemungkinan serangan baru terhadap Iran.

Di tengah situasi tersebut, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi menggunakan rudal balistik pada Selasa.

Klaim serangan itu semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan fasilitas energi di Timur Tengah.

Pelaku pasar khawatir eskalasi konflik dapat mengganggu aliran minyak dari kawasan yang memiliki peran penting dalam pasokan energi global.

Buntunya Koalisi Israel, Premi Risiko Bayangi Harga Minyak Dunia

Selain ancaman konflik AS–Iran, perkembangan politik Israel turut menjadi perhatian pasar minyak dunia.

Pemilihan umum di negara itu diperkirakan menghasilkan kebuntuan politik setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun pesaing utamanya, Gadi Eisenkot, belum menunjukkan peluang jelas untuk membentuk pemerintahan mayoritas.

Hasil jajak pendapat sementara setelah pemungutan suara (exit poll) menunjukkan kedua blok politik belum mencapai 61 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai parlemen Israel yang beranggotakan 120 orang.

Situasi tersebut membuka kemungkinan berlangsungnya negosiasi koalisi yang panjang sebelum pemerintahan baru terbentuk.

Ketidakpastian politik Israel juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan negara tersebut terhadap Iran.

Sementara itu, kekhawatiran gangguan pasokan minyak akibat konflik Timur Tengah membuat harga minyak tetap dibayangi premi risiko geopolitik.

Rekomendasi