Bayangan tentang orang kaya sering kali terikat pada gaya hidup mewah, makan kaviar di atas yacht sambil melingkarkan jam tangan Rolex di pergelangan tangan. Namun, ketika diminta mendefinisikan batas angka pastinya, arti kata 'kaya' ternyata sangat relatif dan abstrak.
Mengutip Yahoo Finance, Rabu (30/90, para pakar ekonomi menilai seseorang tergolong kaya jika ia menguasai aset finansial atau alat usaha yang konsisten menghasilkan pendapatan. Sementara bagi orang awam, status kaya terasa nyata saat nilai kekayaan bersih (net worth) dan daya beli sanggup menjamin seluruh kebutuhan hidup hingga akhir hayat tanpa cemas.
Advertisement
Nominal 'Kaya' Sangat Bergantung Lokasi
Tolok ukur kekayaan sangat dipengaruhi oleh tempat tinggal seseorang. Di Amerika Serikat (AS), memiliki mobil adalah kebutuhan dasar untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Tak heran jika 86% warga AS memiliki mobil.
Namun di belahan dunia lain, kepemilikan kendaraan masih dianggap barang mewah. Di China, angka kepemilikan mobil hanya 22%, sementara di India baru menyentuh 3%.
Advertisement
3 Fakta Unik Penentu Status Kaya Versi Studi Terbaru
Sejumlah riset global membeberkan gambaran menarik soal nominal kekayaan hingga batas kebahagiaan seseorang:
- Batas 'Kaya' Versi Charles Schwab: Rata-rata warga AS menganggap seseorang baru sah disebut kaya jika memiliki kekayaan bersih sebesar USD 2,3 juta (sekitar Rp35 miliar).
- Gaji Tinggi Belum Tentu Cukup (ZipRecruiter): Penghasilan USD 208.152 per tahun memang membawa seseorang masuk ke jajaran 10 persen pekerja berpenghasilan tertinggi di AS. Namun, gaji tiga kali lipat rata-rata pekerja ini ternyata masih belum cukup untuk membeli rumah di negara bagian mahal seperti California atau Hawaii.
- Batas Bahagia Versi Universitas Pennsylvania: Kebahagiaan mayoritas orang terbukti terus meningkat seiring bertambahnya penghasilan. Namun, tingkat kebahagiaan ini akan mendatar (plateau) setelah pendapatan menyentuh angka USD 100.000 (sekitar Rp1,5 miliar) per tahun.
Advertisement
5 Langkah Realistis Bangun Kekayaan
Advertisement
1. Rencanakan Pembagian Aset dan Warisan (Estate Planning)
Banyak orang mengira perencanaan warisan hanya untuk kaum jutawan. Padahal, pengelolaan aset keluarga yang matang sejak dini mencegah pemotongan pajak berlebih dan membantu menjaga ketahanan finansial antar-generasi.
Advertisement
2. Pertimbangkan Pindah ke Area Berbiaya Hidup Rendah
Pindah ke lokasi dengan cost of living lebih rendah, namun tetap mempertahankan tingkat pendapatan dapat memangkas pengeluaran hingga 50 persen. Sisa uangnya bisa dialokasikan langsung ke instrumen investasi.
Advertisement
3. Fokus Menaikkan Pendapatan, Bukan Cuma Hemat
Mengkondisikan anggaran (budgeting) memang penting, tapi tetap punya batasan. Mengupayakan kenaikan gaji secara berkala, seperti rajin upskilling atau berpindah karier (job switching) memberikan dampak jauh lebih besar pada pertumbuhan kekayaan jangka panjang.
Advertisement
4. Hindari Utang Berbunga Tinggi
Penggunaaan kartu kredit secara konsumtif adalah cara tercepat menguras kekayaan. Bunga kartu kredit rata-rata berada di angka 22 persen per tahun, jauh melampaui rata-rata imbal hasil (return) pasar saham yang berada di kisaran 7 hingga 10 persen.
Advertisement
5. Ciptakan Passive Income Lewat Compound Interest
Mulailah mempekerjakan uang melalui investasi saham, deposito, atau properti sewaan. Semakin awal berinvestasi, semakin maksimal efek bunga berbunga (compound interest) dalam melipatgandakan aset dari waktu ke waktu.