Algoritma platform media sosial dapat mendorong anak muda mengambil keputusan investasi yang kurang tepat karena terus menampilkan gaya hidup dan kekayaan orang lain, sehingga memicu rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO).
Isu itu mengemuka dalam sesi tanya jawab rangkaian acara Ring the Bell for Financial Literacy 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, seiring melonjaknya jumlah investor.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan sebanyak 31,13 juta investor tercatat per Agustus 2026. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat tingkat literasi sebesar 69,57% dan inklusi keuangan 93,61%.
Komika, Financial Content Creator & WPPE Certified Yudha Ramadhan Keling mencairkan suasana. "Algoritma saya kok isinya pinjol semua ya? Tahu aja dia saya butuh," selorohnya, Rabu (14/10/2026). Sementara itu, Financial Planner & Book Author Prita Ghozie menilai konten keuangan laku karena menyentuh psikologi manusia. "Kita suka nonton konten keuangan, kenapa? Karena kita mau kaya," katanya. Prita menggambarkan pola pikir korbannya: "Gue jadi kayak harus mengorbankan uang-uang yang sudah ditabung," padahal dana itu sudah dialokasikan untuk dana darurat. Financial Content Creator sekaligus AI Enthusiast & WMI Certified Kelly Patricia menjelaskan algoritma terus menyodorkan topik yang diminati. "Jangan suka handphone-an terus," kata dia. Prita memberi saran praktis: "Pakai sosial media, cari informasi, gali informasi itu secukupnya," sambil menekankan perlunya edukasi soal batasan keuangan pribadi.
Advertisement
Enam Strategi Investasi Anak Muda di Era Algoritma
Pertama, kenali pemicu FOMO. Yudha menyarankan bertanya ke diri sendiri: "Ini FOMO sama keuntungannya atau FOMO sama tesisnya?" Menurut dia, keuntungan orang lain belum tentu menjadi keuntungan kita.
Kedua, terapkan Cek 2L: legal dan logis. Prita memaparkan bahwa izin perusahaan dan produk bisa dicek di ojk.go.id atau lewat layanan OJK 157. Untuk uji logika, Prita memakai Rule of 72. Misal, uang Rp 100 juta dengan imbal hasil 6% per tahun butuh 12 tahun untuk jadi Rp 200 juta, sedangkan 12% per tahun butuh enam tahun. Janji untung 10% per bulan berarti uang berlipat dua dalam 7,2 bulan. Menurut Prita, untung besar, cepat, dan pasti hampir selalu tanda bahaya.
Ketiga, bagi uang dengan jelas. Prita membaginya menjadi tiga pos: Living, Playing, dan Saving. "Living itu adalah untuk biaya hidup, playing itu adalah untuk menikmati hidup, dan saving itu untuk masa depan kita," ujarnya.
Contoh alokasi yang diberikan: mahasiswa dengan dana Rp 3 juta membagi Rp 2,55 juta untuk living, Rp 300 ribu untuk saving, dan Rp 150 ribu untuk playing. Karyawan berpenghasilan Rp 15 juta mengalokasikan Rp 7,5 juta untuk living, Rp 4,5 juta untuk saving, dan Rp 3 juta untuk playing. Untuk stay at home mom dengan dana Rp 20 juta, porsinya Rp 15 juta untuk living, Rp 3 juta untuk saving, dan Rp 2 juta untuk playing.
Keempat, lunasi utang konsumsi sebelum berinvestasi, termasuk kebiasaan paylater.
Kelima, jangan revenge trading. "Pasar modal itu enggak punya hutang apa-apa sama kita," tegas Yudha sambil menyarankan menulis tesis Pros & Cons saat membeli saham. Ia menyebut kesalahan paling fatal investor pemula adalah memakai uang pinjaman untuk menutup kerugian.
Keenam, jangan alihdayakan nalar ke kecerdasan buatan (AI). Kelly Patricia mengingatkan, "kita harus tetap asah creative thinking skills kita sama critical thinking kita," dan memperingatkan bahwa AI bisa salah hitung serta tidak memegang rekening pengguna. "Sebelum mengambil keputusan finansial, selalu pahami dan kenali diri Anda masing-masing," ucapnya.