Upaya mendorong transisi energi yang berkeadilan kini menyasar kawasan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata. Lewat kolaborasi antara Yayasan Rumah Energi dan Pemerintah Kabupaten Purwakarta, perempuan lokal didorong untuk berperan aktif sebagai aktor utama dalam pengembangan energi terbarukan melalui pelatihan hingga keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
Direktur Eksekutif Rumah Energi, Sumanda Tondang, menggarisbawahi bahwa kesetaraan peluang bagi masyarakat—khususnya kelompok perempuan—merupakan fondasi penting dalam literasi transisi energi yang inklusif.
"Transisi energi harus membuka peluang yang setara bagi masyarakat, khususnya perempuan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor penting untuk menghubungkan kapasitas masyarakat dengan akses program, pembiayaan, dan peluang ekonomi,” ujar Sumanda dikutip dari Antara, Kamis (249).
Langkah nyata ini diwujudkan melalui Forum Multipihak bertajuk “Membangun Transisi Energi yang Inklusif dan Responsif Gender di Wilayah PLTS Terapung Cirata”. Ajang ini mempertemukan unsur pemerintah, pelaku industri energi, dan lembaga keuangan untuk memperluas akses perempuan terhadap pelatihan, pembiayaan, peluang usaha, serta ruang pengambilan keputusan.
Advertisement
Menjadi Proyek Percontohan di Kecamatan Maniis
Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Sri Jaya Midan, menyatakan bahwa keberhasilan transisi energi di kawasan Cirata dan wilayah Kecamatan Maniis sangat bergantung pada sinergi yang terintegrasi. Kecamatan Maniis diharapkan mampu menjadi pilot project pengembangan transisi energi inklusif yang membawa manfaat nyata bagi warga sekitar.
"Keberhasilan dari program transisi energi yang inklusif tidak dapat tercapai apabila berjalan secara parsial. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Kita memerlukan kolaborasi dan sinergi yang kuat dengan pemerintah pusat, sektor swasta, hingga lembaga perbankan untuk memastikan program ini memberikan multiplier effect bagi warga lokal," tegas Sri.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Program Pro Women for Just Energy Transition (PW4JET) yang dijalankan Rumah Energi dengan dukungan Ford Foundation. Program ini berfokus di empat desa di Kecamatan Maniis—yaitu Citamiang, Sinargalih, Tegal Datar, dan Pasir Jambu—dengan perhatian khusus pada Perempuan Kepala Keluarga (PEKA) sebagai kelompok rentan.
Advertisement
Fokus Aspek Sosial dan Gender
Project Manager PW4JET, Gustina, menjelaskan bahwa transisi energi berkeadilan wajib menyentuh dimensi sosial dan kesetaraan gender, tidak sekadar berfokus pada kecanggihan teknologi.
"Program PW4JET hadir dengan visi menempatkan perempuan sebagai aktor utama transisi energi, bukan sekadar penerima manfaat pasif. Kami berharap forum ini menghasilkan komitmen lintas sektor yang menjamin partisipasi bermakna bagi perempuan, di mana mereka memiliki akses, kontrol, dan porsi manfaat yang setara dari pembangunan energi di wilayah mereka," terangnya.
Dukungan serupa disampaikan Asisten Deputi Peningkatan Partisipasi Masyarakat bidang Pengarusutamaan Gender KemenPPA, Nani Dwi Wahyuni. Menurutnya, agenda transisi energi terikat erat dengan pembangunan kualitas manusia dan pemberdayaan perempuan. Ia menegaskan perempuan berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan keterampilan usaha demi mencapai kemandirian ekonomi.
Lewat program PW4JET, kapasitas masyarakat tidak hanya dibina, tetapi juga dihubungkan dengan program pemerintah, dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, akses pembiayaan, hingga pengembangan usaha lokal. Forum ini diharapkan menjadikan Kecamatan Maniis sebagai contoh sukses penerapan transisi energi yang ramah sosial, berkeadilan gender, dan berdampak ekonomi.