Dewan direksi Volkswagen merestui rencana pemangkasan tambahan 50.000 pekerja sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Dengan keputusan ini, total posisi yang direncanakan berkurang mencapai 100.000 hingga 2030, yang disebut sebagai langkah terbesar dalam hampir 90 tahun sejarah perusahaan.
Grup Volkswagen—yang menaungi Audi, Porsche, Skoda, serta merek inti Volkswagen—sebelumnya pada Maret telah mengumumkan rencana memangkas 50.000 posisi hingga akhir dekade. Pada Juli lalu, dikutip dari BBC, Jumat (4/9/2026), CEO Oliver Blume menyebut perusahaan tengah mempertimbangkan pemangkasan tambahan tersebut.
Blume menegaskan langkah ini sebagai "sinyal kuat" bagi masa depan perusahaan dan menandakan VW "bertanggung jawab terhadap seluruh tenaga kerjanya" dalam pernyataan pada Kamis. Selain itu, perusahaan menyatakan akan memangkas jumlah model hingga 50% pada 2035 serta menyederhanakan kompleksitas produk sampai 75% dengan memprioritaskan kendaraan paling diminati dan menaikkan volume tiap model guna menekan biaya.
Volkswagen menyebut "penyesuaian mendasar terhadap kapasitas tenaga kerja global diperlukan" untuk menjaga daya saing di tengah perubahan permintaan pasar dan perkembangan teknologi. Pada 2025, VW mempekerjakan lebih dari 660.000 orang di seluruh dunia. Di luar Audi, Porsche, Skoda, dan Volkswagen, grup ini juga menaungi Seat, Bentley, dan Lamborghini.
Advertisement
Pemangkasan di Seluruh Lini Volkswagen
Volkswagen menambahkan, penyesuaian sekitar 50.000 posisi di seluruh grup—termasuk jabatan manajemen—memang diperlukan.
Perusahaan juga mempertimbangkan masa depan fasilitasnya di Emden, Zwickau, Hanover, dan Neckarsulm. Sebelumnya, Volkswagen menyatakan kapasitas di sejumlah pabrik tersebut telah melampaui permintaan.
"Penggunaan alternatif untuk pabrik-pabrik tersebut sedang dikaji," kata perusahaan.
Christianne Benner, Presiden IG Metall sekaligus Wakil Ketua Dewan Pengawas Volkswagen, menilai manajemen telah berupaya keras mencari solusi terbaik di tengah situasi krisis.
Laba Volkswagen merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir, antara lain imbas penurunan penjualan di China yang sebelumnya menjadi salah satu pasar terbesar perusahaan. Di Amerika Serikat, penjualan juga menurun sebagian akibat tarif impor kendaraan yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump.