Berapa Modal Bikin Warung Madura? Begini Hitungannya

Modal membuka Warung Madura bisa mencapai Rp50 juta. Lalu, bagaimana modal itu dikelola hingga warung menghasilkan keuntungan?

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Berapa Modal Bikin Warung Madura? Begini Hitungannya
Warung Madura dengan Pom Bensin Mini (Gemini AI)

Warung Madura memang identik dengan tempat belanja yang sederhana. Warung nya tak terlalu besar, tetapi isinya bisa cukup lengkap, mulai dari mi instan, minuman, rokok hingga berbagai kebutuhan sehari-hari. Namun, untuk membuat warung seperti ini berdiri dari awal, modal yang dibutuhkan ternyata bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Penjaga salah satu Warung Madura, Indah mengatakan, modal awal yang perlu disiapkan rata-rata sekitar Rp50 juta. Namun, angka tersebut belum tentu membuat warung langsung lengkap.

“Ya, rata-rata Rp50 juta kalau mau buka,” ujarnya saat berbincang dengan merdeka.com di Jakarta beberapa waktu lalu.

Modal tersebut tidak hanya digunakan untuk membeli barang dagangan. Pemilik juga perlu menyiapkan tempat dengan sistem kontrak serta berbagai perlengkapan untuk menunjang operasional warung, seperti kulkas dan peralatan lainnya.

"Rp50 juta itu belum tentu lengkap. Soalnya kan kayak kita harus beli rak, kulkas-kulkas gitu," katanya.

 

 

 

Tak Semua Barang Langsung Dipenuhi

Warung Madura
Warung Madura

Setelah tempat dan perlengkapan siap, bukan berarti semua jenis barang langsung memenuhi rak. Menurut penjaga warung, pemilik perlu melihat terlebih dahulu barang apa yang memang dicari pelanggan di sekitar lokasi.

"Enggak belanja banyak dulu kan takutnya tidak ada peminat. Kita cari pasaran dulu," ujarnya.

Artinya, isi warung bisa berkembang secara bertahap. Barang yang ternyata banyak dicari akan kembali disediakan, sementara produk yang belum jelas peminatnya tidak langsung diborong dalam jumlah banyak.

"Kalau laku kita barang A, kita stok terus barang A," katanya.

Cara tersebut membuat setiap Warung Madura bisa memiliki isi yang berbeda, tergantung kebutuhan pelanggan di sekitarnya. Jika suatu barang ternyata banyak diminati, stoknya bisa ditambah.

Pelan-Pelan Jadi Supermarket Mini

Warung Madura
Warung Madura

Meski ruangnya terbatas, pemilik berusaha membuat warung tetap bisa memenuhi berbagai kebutuhan pelanggan. Tak hanya makanan dan minuman, sejumlah produk lain seperti pewarna rambut, handbody hingga bedak bayi juga tersedia.

"Di sini kayak lengkap. Dari obat-obatan juga ada, kayak gitu. Terus kayak warna rambut, handbody-handbody, terus bedak bayi," katanya.

Karena banyaknya jenis barang yang tersedia, ia menyebut Warung Madura layaknya supermarket mini dengan ukuran yang lebih kecil.

"Ini kayak supermarket mini. Cuma ini karena tempatnya aja minim," ujarnya.

Namun, kelengkapan tersebut tidak dibangun dalam sekali belanja. Pemilik terlebih dahulu melihat barang apa yang laku di warung, kemudian menambah stok sesuai permintaan pelanggan.

Cara Pembagian Keuntungan

Setelah warung berjalan dan menghasilkan pendapatan, keuntungan tidak sepenuhnya menjadi milik pemilik warung. Ada sistem pembagian hasil dengan penjaga.

Penjaga mengatakan, pembagian dilakukan berdasarkan pendapatan selama satu bulan. Sebelum dibagi, pendapatan terlebih dahulu dikurangi sejumlah biaya operasional seperti listrik dan kontrak tempat.

Ia memberikan contoh, jika dalam satu bulan pendapatan mencapai Rp9 juta, kemudian terdapat biaya sebesar Rp2 juta untuk listrik dan kontrak, maka tersisa Rp7 juta.

“Tujuh juta itu dibagi dua, kan udah dipotong semua,” ujarnya.

Dengan begitu, Rp7 juta tersebut menjadi hasil bersih yang kemudian dibagi dua antara penjaga dan pemilik warung. Masing-masing mendapat Rp3,5 juta berdasarkan contoh perhitungan tersebut.

“Ya, itu udah bersih,” katanya.

Sistem ini membuat operasional warung tidak hanya bergantung pada modal awal. Setelah warung berjalan, pendapatan bulanan menjadi dasar untuk menutup biaya operasional sekaligus membagi hasil antara pemilik dan penjaga.

Dari modal sekitar Rp50 juta hingga sistem bagi hasil, membuka Warung Madura ternyata punya hitung-hitungan tersendiri. Warung tidak harus langsung penuh sejak hari pertama. Barang ditambah perlahan mengikuti permintaan, sementara pendapatan yang terkumpul kemudian dibagi setelah biaya operasional dipenuhi.

Rekomendasi