Benarkah PLTU Suralaya Penyebab Utama Polusi Jakarta?

Kesimpulan tersebut perlu didukung data dan kajian yang dapat menjelaskan hubungan antara emisi dari PLTU Suralaya dengan kualitas udara di Jakarta.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Benarkah PLTU Suralaya Penyebab Utama Polusi Jakarta?
Ilustrasi PLTU Suralaya, salah satu pembangkit PLN yang tengah dilakukan studi implementasi CCS/Istimewa.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo menyebut bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di kawasan Suralaya, Cilegon, Banten, merupakan salah satu penyebab polusi udara di Jakarta.

Menurut dia, persoalan polusi Jakarta tidak hanya berasal dari kendaraan dan sektor transportasi, namun aktivitas industri di wilayah sekitar Jakarta juga menjadi sumber emisi yang perlu diperhatikan.

"Problem-nya bukan hanya semata-mata transportasi di Jakarta. Ada persoalan-persoalan lain, misalnya pembakaran industri-industri di sekitar Jakarta, salah satunya yang terkenal adalah Suralaya, yang menggunakan bahan bakar tidak ramah lingkungan," kata Pramono di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dikutip dari Antara, Sabtu (23/8).

Gubernur Banten, Andra Soni merespons sorotan terkait keberadaan perusahaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya, Kota Cilegon yang disebut menjadi salah satu masalah pencemaran udara di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

Menurutnya, adanya aktivitas dari beberapa PLTU yang ada di wilayahnya tersebut memang kerap menimbulkan dampak polusi terhadap lingkungan sekitar. "Ya, saya pikir ada pencemaran udara, ada beberapa pembangkit di tempat kita, dan ini harus menjadi perhatian kita semuanya," katanya di Tangerang.

Ia mengatakan sebagai solusi penanganan, langkah cepat dan strategis tengah disiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten untuk menekan emisi, salah satunya melalui percepatan transisi menuju penggunaan energi terbarukan. "Pembangkit ini juga punya peranan penting, peralihan menjadi apa, energi terbarukan, itu salah satu solusi yang cepat," ujarnya.

Namun demikian, pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria mempertanyakan dasar ilmiah yang digunakan untuk menyimpulkan bahwa PLTU Suralaya di Banten merupakan penyebab utama polusi udara di Jakarta.

Menurut Sofyano, kesimpulan tersebut perlu didukung data dan kajian yang dapat menjelaskan hubungan antara emisi dari PLTU Suralaya dengan kualitas udara di Jakarta.

"Kalau benar emisi PLTU Suralaya terbawa hingga Jakarta dan menjadi penyebab signifikan polusi, harus bisa dibuktikan secara ilmiah melalui data emisi, arah dan kecepatan angin, pemodelan dispersi, serta pengukuran konsentrasi polutan di Jakarta," ujarnya.

Ia mengatakan, analisis mengenai dampak PLTU Suralaya juga perlu melihat kondisi wilayah yang berada lebih dekat dengan sumber emisi, termasuk Banten. Menurut dia, jejak pergerakan polutan dari sumber emisi hingga wilayah terdampak harus dijelaskan secara transparan.

"Jangan sampai Jakarta dituding terdampak, tetapi mekanisme dan jejak pencemarannya di wilayah yang lebih dekat dengan sumber emisi tidak dijelaskan secara transparan," katanya.

Minta Data Pendukung

Sofyano juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyampaikan data pendukung apabila menyatakan PLTU Suralaya berkontribusi terhadap polusi udara di Ibu Kota.

"Kalau pemerintah daerah menyatakan PLTU Suralaya berpengaruh, tunjukkan bukti ilmiahnya. Publik berhak melihat data, bukan sekadar pernyataan,” tegasnya.

Menurut Sofyano, polusi udara Jakarta merupakan persoalan yang kompleks karena dapat dipengaruhi berbagai sumber, mulai dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, konstruksi dan debu jalan, pembakaran terbuka hingga sumber emisi dari wilayah sekitar.

Ia mengatakan faktor meteorologi juga berpengaruh terhadap konsentrasi polutan di udara Jakarta. Karena itu, penentuan sumber dominan polusi membutuhkan analisis yang mempertimbangkan sumber emisi sekaligus kondisi atmosfer.

Sejumlah kajian sebelumnya menempatkan sektor transportasi sebagai salah satu kontributor penting polusi udara Jakarta. Di sisi lain, kajian Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah dirujuk pemerintah juga menunjukkan bahwa pergerakan emisi PLTU Suralaya menuju Jakarta bergantung pada kondisi meteorologi tertentu.

"Jadi, menjadikan PLTU Suralaya sebagai penyebab utama tanpa pembuktian komprehensif adalah kesimpulan yang terlalu sederhana. Pemerintah harus membedakan antara ‘salah satu sumber’ dan ‘penyebab utama’," pungkas Sofyano.

Rekomendasi