Bayangan tentang kerasnya hidup di Jakarta sering kali berawal dari deretan angka yang bikin mengelus dada. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta tahun 2025, rata-rata pengeluaran Generasi Z (Gen Z) di ibu kota mencapai Rp11.969.830 per bulan. Angka ini tentu terbilang menakutkan bagi perantau muda yang berbekal gaji setara Upah Minimum Regional (UMR) DKI Jakarta sebesar Rp5.729.876.
Lantas, apakah tingginya biaya hidup harus membuat Gen Z mengubur mimpi merantau ke ibu kota?
Bagi Febi, seorang fresh graduate asal Kebumen, Jawa Tengah, jawabannya adalah tidak. Baginya, Jakarta tetap menjadi tempat terbaik untuk berburu peluang karir yang lebih luas dengan penghasilan yang jauh lebih menjanjikan dibandingkan daerah asalnya. Kuncinya sederhana, pintar mengatur keuangan dan tahu cara menyesuaikan gaya hidup.
"Pengalaman ini menunjukkan bahwa pertanyaan 'cukup atau tidak' bukan hanya bergantung pada besarnya penghasilan, melainkan bagaimana kita menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial," tutur Febi.
Demi menjaga dompetnya tetap sehat, Febi punya formula khusus dalam mengelola kebutuhan harian. Salah satu porsi pengeluaran yang paling ketat ia pangkas adalah biaya makan. Alih-alih selalu membeli makanan siap saji di luar, ia menyiasatinya dengan memasak nasi sendiri dan hanya membeli lauk secara terpisah.
Dalam sebulan, Febi hanya mengeluarkan Rp85.000 untuk membeli beras dan Rp900.000 untuk belanja lauk pauk. Jika rasa bosan menghampiri, ia baru memanjakan diri dengan memesan makanan lewat aplikasi pesan antar.
"Saya setiap hari masak nasi sendiri, tapi kalau mulai bosan ya pesen lewat GoFood," ujarnya. Untuk variasi menu pesan antar ini, ia mengalokasikan anggaran Rp150.000 per bulan.
Urusan mobilitas pun tak luput dari perhitungan efisiensi. Febi memilih mengendarai sepeda motor untuk menunjang aktivitas harian karena dianggap jauh lebih hemat waktu dan biaya. Dalam sebulan, pengeluaran bensinnya hanya sekitar Rp120.000, ditambah biaya perawatan berkala seperti servis dan ganti oli sebesar Rp120.000.
Advertisement
Kebutuhan Pribadi, Kost, hingga Tanggung Jawab Keluarga
Sebagai anak sulung, Febi juga memikul harapan orang tua di kampung halaman. Di tengah perjuangannya di ibu kota, ia secara konsisten menyisihkan Rp300.000 setiap bulan untuk dikirimkan kepada adiknya.
Sementara itu, untuk tempat tinggal, ia memilih menyewa kamar kost di lokasi yang dekat dengan tempat kerja seharga Rp1.600.000 per bulan. Ditambah dengan anggaran kebutuhan pribadi sebesar Rp230.000, seluruh keperluan pokoknya tetap terkontrol dengan baik.
Advertisement
Siasat Tetap Eksis Tanpa Bikin Kantong Bolong
Menariknya, sebagai pribadi yang ekstrovert dan menjunjung tinggi prinsip Work Life Balance, Febi tidak serta-merta mengurung diri demi hemat. Ia tetap mengalokasikan dana hiburan sebesar Rp400.000 untuk agenda nongkrong sebanyak dua kali dalam sebulan.
Namun, ketika sedang ingin lebih berhemat, ia mencari alternatif kegiatan sosial yang ramah kantong. "Kalau lagi nggak mau keluar uang, biasanya jalan-jalan keliling naik motor atau jogging," kata Febi tersenyum.
Jika ditotal secara keseluruhan, pengeluaran rutin Febi dalam sebulan berada di kisaran angka Rp3.905.000. Angka ini membuktikan bahwa dari gaji UMR sebesar Rp5,7 jutaan, ia masih memiliki sisa dana yang cukup lega untuk ditabung.
Perjuangan Febi menjadi bukti nyata bahwa berbekal kedisiplinan dan strategi finansial yang tepat, Gen Z sangat bisa bertahan, bahkan menabung, di tengah megahnya ibu kota.