BTN-PPATK Kolaborasi, Renovasi Puluhan Rumah Tak Layak Huni

Menurut Nixon, penyelesaian persoalan rumah tak layak huni membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
BTN-PPATK Kolaborasi, Renovasi Puluhan Rumah Tak Layak Huni
Wakil Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memberi sambutan pada pembukaan BTN Anniversary Virtual Property Expo di Jakarta (22/2/2022). Pameran yang digelar mulai tanggal 22 Februari - 31 Maret 2022 ini menawarkan suku bunga promo bagi masyarakat yang ingin membeli rumah. (Liputan6.com/HO/BTN)

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memperbaiki 20 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi keluarga pra sejahtera di empat wilayah Indonesia.

Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu menjelaskan, sebanyak 20 RTLH tersebut tersebar masing-masing lima unit di Lebak, Cianjur, Sukabumi, dan Purworejo. Program itu melanjutkan kolaborasi BTN-PPATK pada 2025 yang telah memperbaiki 15 rumah, sehingga selama dua tahun sebanyak 35 rumah telah menjadi penerima manfaat. 

"Perbaikan RTLH menjadi salah satu solusi untuk menjangkau masyarakat yang belum memiliki kemampuan memperoleh rumah melalui pembiayaan maupun memperbaiki rumah secara mandiri. Terlebih, sekitar satu dari tiga keluarga Indonesia masih tinggal di rumah yang belum memenuhi seluruh kriteria hunian layak,” ujar Nixon saat meninjau hasil perbaikan rumah di Desa Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, dikutip dari Antara, Kamis (13/8).

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa belum semua segmen masyarakat bisa mendapatkan rumah melalui Kredit Pemilikan Rakyat (KPR), terutama masyarakat pada desil 1, 2, 3 dan sebagian desil 4 yang masih memiliki keterbatasan untuk membayar angsuran. Karena itu, lanjutnya, salah satu solusi yang dilakukan oleh BTN ialah melakukan bedah rumah.

Menurut Nixon, penyelesaian persoalan rumah tak layak huni membutuhkan keterlibatan banyak pihak. BTN dan PPATK berkomitmen menjadikan program bedah rumah sebagai kegiatan tahunan dengan menyasar wilayah yang masih menghadapi kemiskinan dan kemiskinan ekstrem. 

"Apa yang kita lakukan hari ini memang masih bagian kecil. Tetapi kalau semua korporasi dan institusi memiliki gerakan yang sama, ribuan rumah bisa kita perbaiki setiap tahun. Kita tidak hanya menunggu pemerintah, korporasi juga bisa bergerak bersama dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat," katanya.

Program Masuk Usia ke-24 Tahun

Dalam kesempatan yang sama, Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menyampaikan program bedah rumah merupakan bagian dari Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang Indonesia yang telah memasuki usia 24 tahun dan menjadi gerakan bersama berbagai pemangku kepentingan.

"Dalam rangka Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang Indonesia yang ke-24, kami bersama seluruh stakeholder, pada kesempatan ini bersama BTN, membangun dan memperbaiki rumah untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan kebutuhan dasar berupa papan. Ke depan kegiatan seperti ini akan terus kami laksanakan bersama BTN," ucap Ivan.

Semangat "Rumah Bersih, Keuangan Bersih" disebut akan diperluas melalui literasi keuangan keluarga. Hal ini mengingat keluarga merupakan kelompok terkecil di masyarakat yang menjadi fondasi dalam membentuk perilaku finansial yang sehat dan berkelanjutan.

Dampak program dirasakan salah seorang penerima manfaat, Sanatra, yang sebelumnya tinggal bersama keluarganya di rumah dengan kondisi rusak dan bocor.

"Dulu rumahnya mau roboh, bocor. Mau memperbaiki enggak punya uang, karena uang yang ada untuk makan dan kebutuhan anak-anak saja. Alhamdulillah sekarang sudah bagus. Senang banget, saya, istri, sama anak. Terima kasih banget kepada BTN," ungkap dia.

Sebagai informasi, penerima manfaat program RTLH ditentukan melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta pemerintah daerah setempat, disertai proses verifikasi kondisi rumah dan kelayakan penerima.

Rekomendasi