Proyek LNG Abadi Dimulai, Blok Masela Alokasikan Porsi Besar untuk Domestik

Pemerintah memulai proyek LNG Abadi Blok Masela bernilai Rp 340 triliun. Porsi besar LNG disiapkan untuk pasar dalam negeri dan teknologi CCS diterapkan.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Proyek LNG Abadi Dimulai, Blok Masela Alokasikan Porsi Besar untuk Domestik
<p>Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh Pemerintah Indonesia. (Dok SKK Migas)</p>

Pemerintah mulai menggarap proyek LNG Abadi di Blok Masela dengan nilai investasi US$ 20,9 miliar atau sekitar Rp 340 triliun. Fasilitas di Maluku ini diproyeksikan menjadi salah satu penopang pasokan energi Indonesia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pengembangan tersebut tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi, tetapi juga memastikan manfaat ekonominya dirasakan masyarakat di sekitar wilayah proyek. Proyek LNG Abadi Blok Masela resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 16 Juli 2026.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menilai perhatian publik mengenai siapa yang memperoleh manfaat dari proyek berskala besar merupakan hal yang wajar.

"Keberhasilan PSN sesungguhnya tidak hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal," kata Dwi Anggia melalui keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).

Porsi Domestik 60 Persen dari Blok Masela

Pemerintah menetapkan minimal 60% dari total produksi LNG Abadi Blok Masela dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pasokan tersebut antara lain diarahkan untuk menopang sejumlah industri strategis nasional, mulai dari industri pupuk hingga pembangkit listrik.

Dengan kebijakan ini, produksi LNG dari Blok Masela diharapkan memperkuat ketersediaan energi domestik sekaligus mendukung aktivitas industri nasional.

Kapasitas Produksi dan Teknologi CCS Terintegrasi

Fasilitas LNG Abadi ditargetkan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, gas pipa 150 juta kaki kubik per hari, serta kondensat 35.000 barel per hari.

Selain mengejar produksi migas, proyek ini juga mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk menangkap dan menyimpan karbon dari kegiatan proyek.

Penerapan CCS dilakukan bersamaan dengan fase produksi, sehingga menjadi bagian dari upaya pengembangan energi beremisi lebih rendah di Indonesia.

"Artinya, proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tapi menjadi wujud komitmen Indonesia menuju transisi energi bersih dan berkelanjutan," tutur Dwi Anggia.

Tenaga Kerja Lokal dan Program Vokasi

Pemerintah memperkirakan pembangunan LNG Abadi Blok Masela dapat menyerap hingga 12.000 lapangan pekerjaan.

Sejumlah program pendidikan dan pelatihan vokasi disiapkan bagi masyarakat lokal, khususnya putra-putri setempat.

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal agar dapat terlibat dalam pengembangan proyek dan memperoleh manfaat dari aktivitas ekonomi yang tercipta.

Pemerintah berharap proyek berskala besar ini tidak hanya menghasilkan tambahan pasokan energi, tetapi juga mendorong pembangunan ekonomi di wilayah Indonesia Timur.

"LNG Abadi Blok Masela adalah bukti bahwa pembangunan Indonesia tidak hanya berpusat di satu wilayah. Dari Kepulauan Tanimbar, kita sedang membangun fondasi baru bagi ketahanan energi nasional," tegas Dwi Anggia.

Rekomendasi