Begini Model Kemitraan Terbaru PTPN 1 ke Petani, Perkuat Pasokan Tembakau Ekspor

Skema yang dipakai terbilang unik, yaitu menggunakan pola ganda melalui rotasi komoditas. PTPN I menyewa lahan sawah warga dengan harga yang sangat bersaing.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Begini Model Kemitraan Terbaru PTPN 1 ke Petani, Perkuat Pasokan Tembakau Ekspor
Petani Tembakau. (Istimewa)

Desa Ajong di Kabupaten Jember, Jawa Timur mencatatkan reputasi mentereng di mata dunia. Wilayah ini adalah episentrum penghasil Tembakau Bawah Naungan (TBN) kualitas premium yang dikelola oleh PTPN I (Persero) Regional 5. Komoditas 'emas hijau' dari Jember ini menjadi buruan utama para kolektor dan pembeli global dari Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.

Meski pasar ekspor sangat menggiurkan, PTPN I tidak memonopoli keuntungan devisa sendirian. Alih-alih berjalan sendiri, manajemen merangkul warga lewat skema kemitraan yang inklusif dan kompetitif. Hasilnya, kebun tembakau ini tidak hanya sukses memutar roda ekonomi, tetapi juga menjaga 'muruah' alias harga diri para pemilik lahan.

Direktur Utama PTPN I, Dr. Abdul Rivai Ras, menegaskan bahwa menggandeng masyarakat lokal adalah amanat negara yang wajib dijalankan. Di Jember, PTPN I mengajak para petani sawah dan palawija untuk langsung masuk ke dalam ekosistem rantai pasok tembakau dunia.

"Kolaborasi agribisnis di Ajong, Jember ini dirancang sebagai model bisnis yang inklusif sekaligus berkelanjutan. Di satu sisi, PTPN I mengukuhkan posisinya di pasar internasional lewat keunggulan TBN, dan di sisi lain, petani lokal menghadirkan potensi aset lahan yang luar biasa," ujar Abdul Rivai Ras dikutip dari Antara Jakarta, Minggu  (12/7).

Skema yang dipakai terbilang unik, yaitu menggunakan pola ganda melalui rotasi komoditas. PTPN I menyewa lahan sawah warga dengan harga yang sangat bersaing. Setelah tanah disewa, para pemilik lahan tetap diberdayakan untuk menggarap sawahnya sendiri dengan upah harian yang layak.

"Petani berhak mendapatkan uang sewa di depan sekaligus menerima upah dari hasil pekerjaannya. Melalui pendekatan ini, 'praja' alias harga diri mereka sebagai pemilik sawah tetap terjaga seutuhnya. Ini adalah bentuk kolaborasi yang sangat produktif," tambah Abdul Rivai Ras.

Uang Sewa Cair di Depan

Model bisnis di Ajong ini diproyeksikan akan menjadi percontohan agribisnis nasional di masa depan. Bagi petani, mengantongi uang sewa segar di awal musim tanam adalah berkah luar biasa untuk menjamin ketahanan finansial keluarga mereka.

Meski tanah disewa oleh korporasi, para petani sama sekali tidak kehilangan kendali secara fisik maupun hukum atas tanahnya. Mereka tetap turun ke ladang, menjaga aset sendiri, plus mendapatkan bonus berupa transfer ilmu pertanian modern yang mahal.

"Petani pemilik lahan pada dasarnya membutuhkan kepastian hasil, keamanan aset yang mereka miliki, dan rasa percaya diri di hadapan orang lain. Hal yang jauh lebih penting dari program ini adalah para petani pemilik lahan palawija dan padi ini, yang umumnya masih menerapkan budidaya tradisional, kini bisa menyerap pengetahuan dan pengalaman langsung dari model pertanian modern, seperti smart farming berbasis science farming. Dengan ilmu yang ditransfer ini, PTPN I (Persero) berharap mereka bisa lebih mandiri dan sejahtera di masa depan," urai Rivai.

Tanah Sendiri, Digarap Sendiri, dan Dibayar Layak

Dampak nyata dari simfoni kemitraan ini dirasakan langsung oleh Supardi (48), seorang petani padi asal Desa Ajong. Baginya, program dari PTPN I ini adalah angin segar yang benar-benar memihak rakyat kecil.

"Kami merasa sangat beruntung dengan adanya program kemitraan lahan dari PTPN I Regional 5 ini. Pembayaran kompensasi yang diselesaikan langsung di depan memberikan kepastian bagi kami untuk menjamin kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal bertani di musim berikutnya," cerita Supardi penuh syukur.

"Ditambah lagi, kami tidak kehilangan mata pencaharian karena tetap dilibatkan untuk menggarap lahan sendiri dengan upah harian yang sangat layak. Dengan begitu, kami tetap memiliki rasa bangga dan martabat karena mengawal tanah kami sendiri," ungkapnya.

Rekomendasi