Menteri Kebudayaan Fadli Zon Dianugerahi Gelar Kehormatan Adat Muna Sangia Tilano Lia Metaduno

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dianugerahi Gelar Kehormatan Adat Muna Sangia Tilano Lia Metaduno. Apresiasi atas perannya dalam penetapan lukisan cadas tertua dunia, mempererat hubungan dengan masyarakat Muna.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Dianugerahi Gelar Kehormatan Adat Muna Sangia Tilano Lia Metaduno
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dianugerahi Gelar Kehormatan Adat Muna Sangia Tilano Lia Metaduno. Apresiasi atas perannya dalam penetapan lukisan cadas tertua dunia, mempererat hubungan dengan masyarakat Muna. (AntaraNews)

Menteri Kebudayaan (Menbud) Republik Indonesia, Fadli Zon, baru-baru ini dianugerahi gelar kehormatan adat Muna, Sangia Tilano Lia Metaduno, oleh Lembaga dan Tokoh Adat Muna di Sulawesi Tenggara. Penganugerahan ini berlangsung pada Sabtu, 11 Juli 2026, di Muna, bertepatan dengan kunjungan kerja Menbud RI untuk membuka Festival Liangkabori Muna.

Gelar prestisius ini diberikan sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi Fadli Zon dalam penetapan lukisan cadas tertua di dunia yang berlokasi di Liang Metanduno, Goa Liangkabori, Muna. Penetapan ini terjadi tepat di masa kepemimpinannya sebagai Menteri Kebudayaan RI, membawa nama Muna ke kancah internasional.

Ketua Lembaga Adat Muna, La Ode Muhammad Ruslan, menyatakan bahwa pemberian gelar ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahim antara Menbud Fadli Zon dengan seluruh masyarakat Muna di seluruh Indonesia. Ia berharap gelar ini senantiasa mendapatkan ridho dari Allah SWT dan memperkuat hubungan antara Bapak Menteri dengan masyarakat Muna di mana saja berada.

Makna dan Sejarah Gelar Sangia Tilano Lia Metaduno

Gelar kehormatan adat Muna Sangia Tilano Lia Metaduno bukan sekadar nama, melainkan sebuah kebangsawanan sakral yang dianugerahkan oleh perangkat adat Kerajaan Muna. Gelar ini memiliki makna mendalam yang mencerminkan karakteristik kepemimpinan dan nilai-nilai luhur masyarakat Muna.

Secara harfiah dalam bahasa Muna, "Sangia" merujuk pada sosok pemimpin yang dihormati, disegani, arif, dan bijaksana, menunjukkan kualitas kepemimpinan yang ideal. Sementara itu, "Tilano Lia" berarti cahaya yang terpancar dari kedalaman atau yang bercahaya dari dalam gua, melambangkan kebijaksanaan dan pencerahan.

Bagian "Metaduno" secara spesifik merujuk pada lokasi bersejarah Liang Metanduno, sebuah situs penting di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Lokasi ini melambangkan kekuatan, perlindungan, dan sejarah peradaban yang kaya, menegaskan relevansi gelar dengan warisan budaya Muna.

Dengan demikian, gelar Sangia Tilano Lia Metaduno dapat dimaknai sebagai pemimpin pelindung yang bercahaya, bijaksana, dan menjadi teladan bagi masyarakat luas, sebuah pengakuan tinggi atas jasa dan kontribusi.

Peran Menbud dalam Pengakuan Lukisan Cadas Tertua Dunia

Pemberian gelar kehormatan adat Muna kepada Menbud Fadli Zon secara langsung terkait dengan penetapan lukisan cadas tertua di dunia yang berada di Liang Metanduno, Goa Liangkabori, Muna. Penemuan ini menempatkan Muna dalam peta arkeologi dan kebudayaan global.

La Ode Muhammad Ruslan secara khusus mengapresiasi peran Fadli Zon sebagai Menteri Kebudayaan yang memimpin pada era pengakuan penting ini. Lukisan cadas tersebut, dengan perkiraan usia 67.800 tahun, merupakan bukti peradaban kuno yang luar biasa.

Pengakuan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Muna, tetapi juga bagi Indonesia secara keseluruhan, menegaskan kekayaan warisan budaya dan sejarah bangsa. Ini juga menunjukkan pentingnya pelestarian situs-situs arkeologi.

Selain Menbud Fadli Zon, apresiasi dan terima kasih juga disampaikan kepada Gubernur Sultra Andi Sumangerukka dan Bupati Muna Bachrun. Mereka bersama-sama memimpin daerah saat Liang Metanduno mendapatkan pengakuan dunia, menunjukkan kolaborasi lintas sektor dalam memajukan budaya.

Harapan dan Dampak Penganugerahan Gelar

Ketua Lembaga Adat Muna, La Ode Muhammad Ruslan, mengungkapkan harapannya bahwa penganugerahan gelar kehormatan adat ini akan membawa berkah dan mempererat hubungan silaturahim. Kedekatan antara Menbud Fadli Zon dan masyarakat Muna menjadi tujuan utama.

Gelar ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga jembatan yang menghubungkan pemerintah pusat dengan masyarakat adat, khususnya di Muna, dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya. Ini dapat memicu program-program kebudayaan yang lebih terarah.

Pemberian gelar kehormatan ini juga bertepatan dengan pembukaan Festival Liangkabori Muna, sebuah acara yang bertujuan untuk mempromosikan kekayaan budaya dan pariwisata daerah. Kehadiran Menbud memberikan legitimasi dan sorotan lebih pada festival tersebut.

Dengan pengakuan global terhadap lukisan cadas dan penganugerahan gelar ini, diharapkan Muna akan semakin dikenal sebagai destinasi budaya dan sejarah yang penting, menarik lebih banyak perhatian dari peneliti, wisatawan, dan pegiat budaya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi