Saat Foto Jadi Kendala Peluncuran Buku Sejarah Indonesia

Meski masih menghadapi kendala teknis, Fadli tetap menargetkan buku sejarah yang terdiri atas 11 jilid itu dapat rampung dan diluncurkan pada Agustus 2026.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Saat Foto Jadi Kendala Peluncuran Buku Sejarah Indonesia
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon diangkat sebagai Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). (dok. Biro Humas Kemenbud)

Peluncuran buku Sejarah Indonesia yang disiapkan Kementerian Kebudayaan belum bisa dilakukan sesuai rencana. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan proses penerbitan masih terkendala penyelesaian penggunaan sejumlah foto orisinal yang berkaitan dengan hak kekayaan intelektual.

"Jadi terakhir itu yang mengenai buku, itu kan sudah selesai sebetulnya. Tapi ternyata masih ada kendala terutama foto," ujar Fadli dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, tim penyusun masih menyeleksi foto-foto yang akan dimuat dalam buku, termasuk koleksi dari ANTARA dan IPPHOS. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh aspek hak kekayaan intelektual (intellectual property/IP) telah dipenuhi.

"Jadi tim masih menyeleksi foto-foto tersebut, termasuk dari ANTARA, dari IPPHOS. Jadi masih terkendala sedikit di foto dan layout-nya sudah berjalan, sudah mungkin hampir selesai," katanya.

Meski masih menghadapi kendala teknis, Fadli tetap menargetkan buku sejarah yang terdiri atas 11 jilid itu dapat rampung dan diluncurkan pada Agustus 2026.

"Iya target (selesai) bulan Agustus ini, target ya. Mudah-mudahan tidak meleset," ujarnya.

 

Isi Buku Sejarah Indonesia

Sebelumnya, Fadli menyampaikan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global disusun sebagai upaya merawat memori kolektif bangsa sekaligus memperkuat jati diri Indonesia melalui penulisan sejarah yang komprehensif dengan perspektif Nusantara.

Buku tersebut memuat perjalanan panjang Indonesia, mulai dari peradaban awal Nusantara, interaksi dengan berbagai peradaban dunia, masa kolonial, kebangkitan nasional, perjuangan kemerdekaan, pembentukan negara, era Orde Baru, hingga reformasi dan perkembangan demokrasi sampai 2024.

Fadli menegaskan buku itu bukan dimaksudkan sebagai satu-satunya rujukan sejarah. Menurutnya, sejarah bersifat dinamis dan selalu terbuka untuk kajian serta diskursus baru.

Proses penyusunan buku melibatkan 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di Indonesia yang difasilitasi Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah.

Rekomendasi