Gua Liangkabori dan Liang Metanduno Ditetapkan sebagai Warisan Nasional: Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Sejarah Baru

Kementerian Kebudayaan secara resmi menetapkan Gua Liangkabori dan Liang Metanduno di Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai warisan budaya nasional, karena menyimpan lukisan gua tertua di dunia yang berusia 67.800 tahun dan berpotensi mengubah teori migrasi ma

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gua Liangkabori dan Liang Metanduno Ditetapkan sebagai Warisan Nasional: Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Sejarah Baru
Kawasan prasejarah Gua Liangkabori dan Liang Metanduno di Muna resmi ditetapkan Kemenbud RI sebagai Cagar Budaya Nasional, menyimpan lukisan gua non-figuratif tertua di dunia yang memecahkan rekor. Penemuan ini berpotensi mengubah narasi migrasi manusia p (AntaraNews)

Kementerian Kebudayaan secara resmi menetapkan Gua Liangkabori dan Liang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai warisan budaya nasional. Penetapan ini dilakukan karena kedua gua tersebut menyimpan lukisan gua tertua di dunia yang memiliki nilai sejarah tinggi. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengonfirmasi status baru ini pada Minggu (12/7) setelah rapat pleno tim ahli cagar budaya.

Keputusan penting ini akan diumumkan kepada publik pada awal Agustus mendatang, menandai pengakuan signifikan terhadap kekayaan arkeologi Indonesia. Gua Liang Metanduno sendiri telah menarik perhatian global menyusul publikasi penelitian kolaborasi internasional. Penelitian tersebut melibatkan Griffith University Australia dan Kantor Pelestarian Budaya Indonesia pada Januari 2026.

Hasil penelitian tersebut bahkan telah diakui oleh Guinness Book of World Records pada tahun 2026. Pengakuan ini menyebut lukisan gua non-figuratif di sana sebagai yang tertua di dunia. Penemuan ini berpotensi mengubah pemahaman tentang sejarah migrasi awal manusia secara global.

Pengakuan Global dan Tantangan Teori Migrasi Manusia

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa lukisan gua di Liang Metanduno berusia setidaknya 67.800 tahun. Usia ini jauh lebih tua dibandingkan penemuan serupa di berbagai belahan dunia. Penemuan ini secara langsung menantang konsensus global tentang tahapan krusial migrasi awal manusia. Teori yang dominan saat ini adalah "Out of Africa" yang telah lama dipegang teguh oleh para ilmuwan.

Lukisan di Gua Liang Metanduno ini melampaui usia lukisan yang ditemukan di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, yang berusia sekitar 51.200 tahun. Bahkan, lukisan ini juga lebih tua dari cetakan tangan di Maltravieso, Spanyol, yang terkait dengan Neanderthal. Penemuan ini juga jauh lebih purba dari lukisan gua terkenal di Gua Chauvet (30.000-32.000 tahun) dan Gua Lascaux (17.000 tahun) di Prancis.

Zon menegaskan bahwa dengan penemuan arkeologi yang kuat ini, Indonesia harus berani menantang teori-teori lama. Narasi migrasi manusia mungkin akan berkembang untuk memasukkan berbagai jalur migrasi. Ini termasuk teori "Out of Nusantara" atau "Out of Sulawesi" yang kini mulai diusulkan. Ia juga menyoroti adanya pengaruh kolonialisme dalam sains, di mana Barat seringkali menganggap peradaban di Eropa lebih tua.

Langkah Lanjut Pelestarian dan Pengembangan Warisan Budaya

Sebagai tindak lanjut dari penetapan ini, Kementerian Kebudayaan akan mengambil beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah mendirikan pusat informasi lukisan purba di Pulau Muna. Pusat ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi dan penelitian bagi masyarakat serta para ahli. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya Indonesia.

Selain itu, kementerian juga akan melakukan dokumentasi menyeluruh terhadap semua lukisan cadas prasejarah di wilayah tersebut. Dokumentasi ini penting untuk pencatatan dan studi lebih lanjut mengenai kekayaan arkeologi Muna. Replika visual dari lukisan-lukisan ini juga akan dipamerkan di museum provinsi. Hal ini bertujuan agar masyarakat luas dapat memahami dan mengapresiasi penemuan penting ini.

Menteri Fadli Zon tidak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi. Apresiasi diberikan kepada pemerintah provinsi dan daerah, pemimpin lokal, komunitas budaya, serta seluruh warga yang terlibat. Mereka semua berperan besar dalam melestarikan lukisan gua ini dari generasi ke generasi. Perayaan melalui Festival Liangkabori juga menjadi wujud kebanggaan atas warisan ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi