Blibli Masih Rugi Rp301 Miliar, Tapi Kinerja Operasional Mulai Membaik

Blibli mencatat lonjakan pendapatan 66,9 persen pada kuartal I-2026. Rugi bersih BELI juga menyusut dibanding tahun lalu.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Blibli Masih Rugi Rp301 Miliar, Tapi Kinerja Operasional Mulai Membaik
Blibli Masih Rugi Rp301 Miliar, Tapi Kinerja Operasional Mulai Membaik (Merdeka.com)

PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), pengelola platform e-commerce Blibli, masih membukukan rugi bersih pada kuartal I-2026. Meski demikian, kinerja perseroan menunjukkan perbaikan dibanding periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026 yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), BELI mencatat pendapatan neto sebesar Rp7,83 triliun.

Nilai tersebut tumbuh 66,9 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp4,69 triliun.

Rugi tahun berjalan tercatat Rp301,98 miliar, membaik dibandingkan rugi Rp641,50 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp303 miliar dari sebelumnya Rp638,1 miliar.

Kenaikan pendapatan BELI ditopang pertumbuhan di seluruh segmen usaha, terutama penjualan smartphone, bisnis institusi, serta ekspansi toko fisik.

Perseroan juga mencatat kenaikan take rate dari 9 persen menjadi 9,9 persen pada kuartal I-2026.

Di tengah peningkatan penjualan, beban pokok pendapatan ikut naik menjadi Rp6,65 triliun dari Rp3,82 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, laba bruto masih meningkat menjadi Rp1,18 triliun dibandingkan Rp874,39 miliar pada kuartal I-2025.

Dari sisi operasional, rugi usaha berhasil ditekan menjadi Rp204,20 miliar dari sebelumnya Rp582,89 miliar.

Beban penjualan tercatat sebesar Rp533,91 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi mencapai Rp281,69 miliar.

BELI juga membukukan pendapatan keuangan sebesar Rp11,38 miliar. Namun biaya keuangan meningkat menjadi Rp69,06 miliar.

Per 31 Maret 2026, total aset BELI tercatat sebesar Rp18,63 triliun atau naik dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp17,80 triliun.

Peningkatan terutama berasal dari aset lancar yang tumbuh menjadi Rp10,01 triliun.

Kas dan setara kas perseroan tercatat Rp1,84 triliun, naik dari Rp1,54 triliun pada akhir Desember 2025.

Perseroan menyebut kenaikan kas didorong aktivitas pendanaan selama periode berjalan.

Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp9,47 triliun dari Rp8,34 triliun. Liabilitas jangka pendek mendominasi dengan nilai Rp8,21 triliun, termasuk utang bank jangka pendek sebesar Rp3,54 triliun.

Di sisi lain, total ekuitas turun menjadi Rp9,15 triliun dari Rp9,45 triliun akibat akumulasi defisit yang masih besar.

Rekomendasi