UMKM Ikan Bilih Tanah Datar Alami Lonjakan Pasokan Pascabanjir Bandang

Pascabanjir bandang akhir November 2025, UMKM ikan bilih di Tanah Datar mengalami lonjakan pasokan signifikan, meningkatkan produksi dan pendapatan secara drastis.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
UMKM Ikan Bilih Tanah Datar Alami Lonjakan Pasokan Pascabanjir Bandang
Pascabanjir bandang akhir 2025, UMKM penggorengan ikan bilih di Tanah Datar alami lonjakan pasokan signifikan, memulihkan produksi setelah sempat terhambat. (AntaraNews)

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) penggorengan ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, mengalami peningkatan signifikan dalam pasokan bahan baku. Lonjakan pasokan ikan bilih ini terjadi pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Fenomena ini membawa angin segar bagi para pengusaha lokal yang bergantung pada hasil tangkapan nelayan Danau Singkarak.

Nasir, pemilik UMKM penggorengan ikan bilih di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, menyatakan kegembiraannya atas kondisi ini. "Alhamdulillah, setelah galodo (banjir bandang) pasokan ikan dari nelayan meningkat pesat," kata Nasir pada Minggu (25/1). Ia melaporkan bahwa pasokan ikan dari nelayan meningkat pesat setelah bencana galodo. Peningkatan ini jauh melampaui jumlah pasokan harian sebelum bencana.

Sebelumnya, Nasir sempat kesulitan mendapatkan ikan berkualitas baik dari nelayan akibat dampak banjir bandang. Namun, kini, dua bulan setelah kejadian, kualitas ikan bilih hasil tangkapan nelayan sudah kembali normal dan terasa gurih. Hal ini memungkinkan produksi UMKM untuk kembali berjalan optimal.

Dalam beberapa hari terakhir, Nasir menerima pasokan ikan bilih endemik Danau Singkarak hingga 200 kilogram setiap harinya. Jumlah ini merupakan peningkatan drastis dibandingkan hari-hari biasa yang hanya berkisar 10 hingga 15 kilogram. Lonjakan pasokan ikan bilih ini menunjukkan pemulihan ekosistem danau.

Pada awal bencana terjadi, ia sempat tidak menerima pasokan ikan dari para nelayan sekitaran Danau Singkarak karena kualitas ikan yang kurang bagus. Sebab, beberapa kali ikan yang diterima dari nelayan, daging ikan terasa agak pahit setelah digoreng. Kondisi ini sempat menghambat operasional usaha Nasir.

Namun, setelah dua bulan berlalu, kualitas ikan bilih hasil tangkapan nelayan di Danau Singkarak sudah kembali bagus dan terasa gurih. Nasir menduga bahwa hal tersebut bisa saja dipengaruhi oleh aliran sungai yang tercemar akibat banjir bandang sebelumnya telah kembali bersih. Pemulihan kualitas air danau sangat krusial bagi kelangsungan hidup ikan bilih.

Ketersediaan pasokan yang melimpah ini sangat mendukung keberlanjutan produksi UMKM ikan bilih. Para pelaku usaha dapat memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Ini adalah dampak positif dari pemulihan pascabencana.

Harga beli dan jual ikan bilih sangat bergantung pada ketersediaan pasokan dari nelayan. Jika pasokan sedang banyak, Nasir dapat menebus ikan dari nelayan dengan harga Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram. Fluktuasi harga ini adalah hal biasa dalam bisnis perikanan.

Sebaliknya, jika hasil tangkapan nelayan tidak banyak atau ikan sulit didapatkan, harga beli ke nelayan bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram. Kondisi tersebut akan berdampak langsung pada nilai jual ikan bilih goreng di sejumlah pusat oleh-oleh. Ketersediaan menjadi penentu utama harga.

Produksi UMKM ikan bilih goreng milik Nasir tidak hanya dipasarkan di sekitaran Danau Singkarak. Produknya telah menjangkau berbagai kota seperti Kota Payakumbuh, Kota Dumai hingga Depok, Provinsi Jawa Barat. Jangkauan pasar yang luas ini menunjukkan potensi besar ikan bilih.

Ekspansi pasar ini menjadi bukti bahwa kualitas dan cita rasa ikan bilih goreng dari Tanah Datar diminati banyak konsumen. Upaya pemasaran yang efektif turut berkontribusi pada kesuksesan UMKM. Hal ini memperkuat ekonomi lokal.

Evi, salah seorang pekerja di UMKM penggorengan ikan bilih milik Nasir, telah menekuni pekerjaan ini sejak satu tahun terakhir. Ia mendapatkan upah sebesar Rp5 ribu setiap satu kilogram ikan bilih yang sudah dibersihkan. Sistem upah ini mendorong produktivitas pekerja.

Menurut Evi, "Jadi, kita di sini digaji sesuai dengan berapa banyak ikan yang bisa kita bersihkan termasuk proses pengorengannya." Ini memberikan fleksibilitas dan insentif bagi para pekerja. Mereka dapat mengoptimalkan pendapatan mereka.

Rata-rata dalam sehari, Evi bersama pekerja lainnya bisa mendapatkan upah Rp50 ribu hingga Rp70 ribu. Jumlah ini tergantung dari banyaknya ikan bilih yang berhasil ia bersihkan sebelum digoreng. Pendapatan ini cukup signifikan bagi pekerja lokal.

Selain bekerja di UMKM Nasir, Evi juga menerima tawaran membersihkan ikan bilih dari pemilik UMKM lain, "tergantung dari pesanan pemilik UMKM." Ini menunjukkan adanya permintaan tenaga kerja yang cukup tinggi di sektor pengolahan ikan bilih. Peluang kerja ini sangat membantu perekonomian masyarakat sekitar.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi