Harga Anjlok, Petani Cabai Menjerit karena Biaya Produksi Lebih Mahal dari Harga Jual

Petani saat ini menghadapi kesulitan akibat anjloknya harga jual cabai di pasaran.

Arief Rahman H
Oleh Arief Rahman H - Reporter
Harga Anjlok, Petani Cabai Menjerit karena Biaya Produksi Lebih Mahal dari Harga Jual
Petani memanen cabai keriting di kawasan Pesawah, Cicurug, Sukabumi, Rabu (22/04/2020). Sejak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sejumlah petani mengeluhkan harga cabai keriti (© 2026 Liputan6.com)

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro, menyatakan bahwa petani saat ini menghadapi kesulitan akibat harga jual cabai yang sangat rendah. Biaya produksi yang tinggi membuat situasi semakin sulit, di mana harga cabai merah keriting hanya Rp 20.000 per kilogram (kg) dan cabai rawit merah Rp 30.000 per kg di tingkat petani.

Harga-harga ini menurun drastis karena adanya pasokan yang berlebihan serta tekanan dari biaya sarana produksi pertanian cabai. "Ketika harga Rp 20.000 sekarang, petani sudah teriak, karena HPP-nya sekarang sudah di atas Rp 20.000, karena tingginya biaya produksi dari sarana produksi," ungkap Tunov saat dihubungi oleh Liputan6.com pada Rabu (7/1/2026).

Tunov berharap adanya intervensi harga untuk menurunkan biaya produksi. Dia mengusulkan agar harga pupuk dan alat-alat pertanian dapat ditekan agar petani bisa meraih keuntungan yang lebih baik.

"Kalau petani itu harapannya agar harga sarana produksi, pupuk, plastik mulsa, pestisida dan lain-lain, itu harganya bisa ditekan, karena itu yang sangat memberatkan petani dan setiap tahun inflasinya lumayan tinggi," tambahnya.

Selain itu, Tunov juga menjelaskan bahwa dalam aspek pascaproduksi, petani memerlukan bantuan subsidi distribusi, sebab biaya logistik sering kali kembali dibebankan kepada mereka.

Diperlukan Bantuan untuk Biaya Transportasi

Petani Menjerit, Biaya Produksi Cabai Lebih Mahal dari Harga Jual
Petani memanen cabai keriting di kawasan Pesawah, Cicurug, Sukabumi, Rabu (22/04/2020). Sejak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sejumlah petani mengeluhkan harga cabai keriti © 2026 Liputan6.com

Sebelumnya, Tunov menjelaskan bahwa meskipun produksi cabai lokal sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional, petani tetap memerlukan subsidi dari pemerintah. Subsidi ini terutama penting untuk membantu biaya logistik dalam pengiriman hasil panen dari sentra produksi.

“Pasti, kalau itu kami petani pasti butuh, karena bagaimanapun yang namanya biaya logistik dari Jawa ke Sumatera, dari Jawa Tengah, Jawa Timur ke Jakarta, Jabodetabek, itu kan harga logistik itu, biaya logistik itu kan dibebankan ke harga produk,” tutur dia.

Dengan adanya skema ini, beban biaya pengiriman akan ditanggung oleh petani. Tunov berharap pemerintah dapat memastikan bahwa subsidi logistik tersebut tidak hanya dinikmati oleh pengusaha besar.

“Tapi bisa dinikmati oleh petani, nah monggo itu regulasi pemerintah yang akan mengatur itu agar tepat sasaran, karena yang butuh kami petani, para produsen,” bebernya.

Ketersediaan Cabai Terjamin Jelang Ramadan

KKP Jamin Harga Ikan Tak Melonjak selama Ramadan 2026
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, Tb Haeru Rahayu dalam Konferenei Pers di Media Center KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026). (Liputan6.com/Arief) © 2026 Liputan6.com

Pasokan cabai dipastikan akan mencukupi kebutuhan selama bulan Ramadan, meskipun cuaca ekstrem yang melanda beberapa waktu terakhir mengancam kebun petani lokal. Para petani berharap adanya dukungan biaya logistik agar harga cabai tetap stabil.

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro, menegaskan bahwa produksi cabai akan mampu memenuhi permintaan pada hari besar keagamaan nasional (HBKN) seperti Ramadan yang akan datang. Ia mengungkapkan bahwa tingkat produksi petani sesuai dengan data yang disampaikan oleh pemerintah.

"Artinya data dari lapangan maupun yang dipegang pemerintah itu tidak terlalu jauh melesetnya, kami prudent, kami optimis untuk HBKN itu akan aman," kata Tunov kepada Liputan6.com, Selasa (6/1/2026).

Cuaca Buruk Pengaruhi Banyak Hal

KKP Jamin Harga Ikan Tak Melonjak selama Ramadan 2026
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, Tb Haeru Rahayu dalam Konferenei Pers di Media Center KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026). (Liputan6.com/Arief) © 2026 Liputan6.com

Dia mengakui adanya tantangan yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem selama proses produksi cabai di berbagai daerah. Pengaruh dari kondisi cuaca ini dapat berdampak pada harga di pasaran, termasuk pada tingkat petani. Meskipun demikian, dia menegaskan bahwa jumlah produksi cabai dapat memenuhi kebutuhan pasar, seiring dengan proyeksi panen raya cabai yang diharapkan terjadi pada awal tahun 2026.

"Memang cuaca nanti akan menentukan harga. Tapi kalau secara produksi, kami petani sudah menyiapkan lebih banyak daripada kebutuhan," sebutnya.

Rekomendasi