Inovasi UMKM Olahan Laut Kepulauan Riau: Ikan Tamban Menari Jadi Camilan Berkelas, Dorong Ekonomi Biru Berkelanjutan

Produk UMKM olahan laut Kepulauan Riau seperti 'Tamban Menari' kini jadi primadona, mengubah ikan lokal jadi camilan bernilai tinggi dan menggerakkan ekonomi biru berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Inovasi UMKM Olahan Laut Kepulauan Riau: Ikan Tamban Menari Jadi Camilan Berkelas, Dorong Ekonomi Biru Berkelanjutan
Produk UMKM olahan laut Kepulauan Riau seperti 'Tamban Menari' kini jadi primadona, mengubah ikan lokal jadi camilan bernilai tinggi dan menggerakkan ekonomi biru berkelanjutan. (AntaraNews)

Di tengah semarak acara promosi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, inovasi olahan laut lokal tampil memukau. Produk seperti "Tamban Menari" berhasil mengubah ikan tamban, yang semula hanya ikan asin biasa, menjadi camilan modern bernilai ekonomi tinggi. Hal ini menandai pergeseran signifikan dalam pemanfaatan kekayaan maritim di wilayah tersebut, membuka peluang baru bagi ekonomi biru.

Dewi, seorang pionir di balik produk olahan ikan tamban, memanfaatkan bahan baku segar dari nelayan di pulau-pulau kecil sekitar Jembatan Barelang dan Setokok. Usahanya tidak hanya menciptakan nilai ekonomi baru, tetapi juga memberikan dampak sosial positif dengan menyumbangkan sebagian hasil penjualan untuk pendidikan anak-anak pulau. Kisah ini menjadi representasi bagaimana laut Kepri kini menjadi wajah baru ekonomi biru yang berkelanjutan.

Pemerintah daerah dan Bank Indonesia Kepri turut berperan aktif dalam mendukung UMKM perikanan ini. Melalui berbagai program pelatihan, fasilitas pameran, hingga pendampingan branding, mereka mendorong hilirisasi produk laut. Tujuannya adalah memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, dan memperluas jangkauan pasar hingga ke mancanegara.

Inovasi Produk Olahan Laut Lokal

"Tamban Menari" adalah salah satu contoh nyata inovasi dari UMKM olahan laut Kepulauan Riau yang berhasil menarik perhatian. Produk ini berbahan dasar ikan tamban, ikan kecil khas perairan Kepri yang dikenal tinggi protein, kalsium, dan omega 3. Di tangan Dewi, ikan tamban yang berukuran kecil di Batam, atau sebesar sarden di Natuna dan Anambas, diolah dengan bumbu khas dan dikemas rapi dalam aluminium foil, menjadikannya oleh-oleh khas Batam yang modern.

Proses produksi "Tamban Menari" tidak hanya fokus pada inovasi rasa dan kemasan, tetapi juga pada keberlanjutan dan pemberdayaan lokal. Dewi memanfaatkan bahan baku langsung dari nelayan di pulau-pulau kecil, sekitar Jembatan Barelang dan Setokok. Ini menciptakan rantai pasok lokal yang kuat, memastikan bahan baku segar sekaligus mendukung mata pencarian nelayan tradisional.

Lebih dari sekadar bisnis, usaha Dewi juga memiliki misi sosial yang kuat. "Saya ingin usaha ini bukan hanya untuk saya sendiri, tapi juga membantu sesama," katanya. Sebagian hasil penjualan produk "Tamban Menari" disumbangkan untuk membantu anak-anak pulau agar bisa terus bersekolah, menunjukkan komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.

Potensi Ekonomi Biru dan Dukungan Pemerintah

Kepulauan Riau adalah wilayah yang diberkahi kekayaan laut melimpah, menjadikannya pusat perhatian dalam pengembangan ekonomi biru. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau (DKP Kepri), Said Sudrajad, menjelaskan bahwa Kepri masuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711, dengan potensi perikanan mencapai 1,3 juta ton per tahun. Dari angka tersebut, sekitar 900 ribu ton dapat dieksploitasi secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.

Dari potensi besar itu, Kepri sendiri rata-rata memproduksi sekitar 339 ribu ton ikan per tahun, ditambah 39 ribu ton dari sektor budi daya. Hasil tangkapan nelayan kini tidak lagi hanya dijual mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Contohnya termasuk ikan kering bumbu, rendang ikan tongkol, keripik gonggong, hingga sambal udang khas Kepri yang kini merambah rak toko oleh-oleh, pasar digital, bahkan pasar luar negeri.

Perubahan pola ini menandakan adanya pergeseran signifikan dalam sektor kelautan, dari eksploitasi sumber daya menjadi pengelolaan berkelanjutan dengan nilai tambah ekonomi. Data DKP Kepri mencatat lebih dari 45 ribu pelaku usaha di sektor ini. Jika dihitung dengan keluarga dan pekerja pendukung, jumlahnya mencapai lebih dari 300 ribu orang yang menggantungkan hidup pada laut.

Pemerintah daerah menyadari pentingnya menjaga sektor ini untuk keberlanjutan hidup sebagian besar masyarakat Kepri. Oleh karena itu, selain fokus pada pengelolaan sumber daya, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada peningkatan kapasitas pelaku usaha. Program pelatihan, fasilitas pameran, hingga pendampingan branding menjadi bagian dari strategi besar agar UMKM perikanan bisa "naik kelas". Pemerintah daerah, melalui berbagai dinas, serta dukungan Bank Indonesia Kepri, terus mendorong hilirisasi potensi laut ini.

Memperluas Pasar Melalui Kolaborasi dan Digitalisasi

Dewi, pelaku usaha "Tamban Menari", telah menerima berbagai dukungan pelatihan dari instansi pemerintahan untuk meningkatkan ilmu terkait pemasaran, ketahanan pangan, serta pengolahan yang sesuai standar keamanan, mutu, dan gizi. Usaha yang dibangun sejak akhir 2020 ini kini telah berkembang pesat dan produknya bisa ditemui di berbagai toko oleh-oleh serta supermarket di Batam.

Dalam sebulan, produksi "Tamban Menari" rata-rata mencapai hampir 1.000 bungkus, dengan tiga karyawan yang semuanya warga lokal. Dewi juga menggandeng petani pesisir untuk memancing, memanen, dan mengeringkan ikan tamban sebelum diolah. Tantangan seperti stok ikan di musim hujan diatasi dengan menyiapkan pasokan lebih banyak saat musim panas, menunjukkan adaptasi dan manajemen produksi yang baik.

Kisah Dewi dan banyak pelaku UMKM lainnya menunjukkan bagaimana laut Kepri bukan hanya tempat nelayan mencari nafkah, tetapi juga lahan kreasi ekonomi baru. Kolaborasi antara pelaku UMKM, pemerintah, dan pihak lain tampak nyata dalam berbagai ajang promosi UMKM, seperti Gebyar Melayu Pesisir (GMP) dan Trade Expo Indonesia (TEI) di Jakarta, di mana "Tamban Menari" turut dipamerkan.

Ajang-ajang tersebut bukan sekadar pameran, melainkan wadah penting untuk mempertemukan pelaku usaha dengan mitra potensial, pembeli besar, hingga lembaga keuangan. Melalui kegiatan business matching yang difasilitasi oleh BI Kepri, Dewi dan produknya bahkan telah dipertemukan dengan investor serta reseller yang membawa produknya ke pasar Singapura dan Malaysia. BI Kepri juga aktif mendorong pelaku UMKM menggunakan sistem pembayaran digital seperti QRIS, yang mempermudah transaksi dan pencatatan keuangan, terutama saat pameran.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi